PWMJATENG.COM, Jepara – “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak.” Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan fondasi penting dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak. Namun seiring perkembangan zaman, makna madrasah pertama tak lagi terbatas pada sosok ibu semata. Rumah—dengan kehadiran ayah dan anggota keluarga lainnya—menjadi ruang utama tempat anak pertama kali belajar tentang kehidupan.
Literasi pun kini memiliki makna yang lebih luas. Tidak hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, dan menyikapi informasi secara bijak. Dalam hal ini, ibu memegang peran sentral karena kedekatan emosionalnya dengan anak menjadikannya figur paling efektif dalam menanamkan kebiasaan tersebut.
Sebagai madrasah pertama, rumah perlu menghadirkan literasi dalam bentuk yang sederhana dan menyenangkan. Ketika seorang ibu memiliki kesadaran literasi yang baik, ia akan lebih mudah menumbuhkan rasa cinta membaca pada anak. Dari situlah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kritis dan bijak dalam menghadapi arus informasi.
Landasan kuat tentang pentingnya literasi juga tercermin dalam wahyu pertama, QS. Al-Alaq ayat 1–5, yang berisi perintah untuk membaca. Ini menjadi pengingat bahwa literasi bukan sekadar kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari perintah ilahi.
Keluarga yang membiasakan budaya membaca dan menulis sejak dini akan melahirkan anak-anak yang siap menghadapi tantangan zaman. Di tengah derasnya arus informasi, peran ibu sebagai “kurator informasi” menjadi sangat penting. Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar memilah mana yang benar dan bermanfaat.
Dalam Kajian Daring Ramadan (KADAR) yang diselenggarakan oleh Penerbit Irfani, Pemimpin Redaksi Rahma.id sekaligus aktivis perempuan berkemajuan, Mona Atalina, mengupas pentingnya literasi perempuan dalam keluarga. Ia juga menyoroti sosok-sosok perempuan inspiratif dalam sejarah Islam yang berperan besar dalam dunia literasi.
Di antaranya adalah:
- Aisyah binti Abu Bakar, yang meriwayatkan lebih dari 2.000 hadis.
- Hafshah binti Umar, yang berperan dalam menjaga keutuhan Al-Qur’an.
- Fatimah al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia di Maroko.
Meski demikian, membangun budaya literasi tidak lepas dari berbagai tantangan. Akses bacaan berkualitas yang terbatas dan mahal, budaya instan yang semakin mengakar, serta distraksi digital menjadi hambatan nyata yang dihadapi banyak keluarga saat ini.
Namun demikian, mengenalkan literasi dari rumah tetap menjadi langkah paling strategis. Literasi adalah fondasi peradaban. Ibu yang literat terbukti mampu meningkatkan peluang pendidikan anak secara signifikan.
Di akhir paparannya, Mona Atalina memberikan pesan sederhana namun kuat: tidak ada kata terlambat untuk belajar. Mulailah dari hal kecil—membaca apa saja, menulis apa yang dirasakan. Tidak perlu terburu-buru, yang penting konsisten.
Karena dari rumah yang mencintai literasi, akan lahir generasi yang siap membangun peradaban.
Kontributor: Wurry Srie
The post Menanamkan Literasi Sejak Dini: Peran Keluarga sebagai Madrasah Pertama appeared first on Muhammadiyah Jateng.



