Puasa Ramadan Disiapkan untuk Membentuk Manusia Muttaqin
Oleh : Talkisman Tanjung
Puasa Ramadhan yang merupakan salah satu Rukun Islam jika dilihat secara komprehensif, memang sengaja disiapkan Allah SWT untuk membentuk orang beriman menjadi insan muttaqiin.
Ibadah Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang luar biasa dan tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus serta apa saja yang membatalkan puasa. Dibalik perintah berpuasa ini, terkandung makna yang tidak hanya membuat pelakunya menjadi lebih baik, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungannya, bahkan menginspirasi bagi masyarakat muslim sekitarnya untuk secara bersama menciptakan sebuah masyarakat muslim yang sesungguhnya. Seluruh bentuk amal ibadah dan kebajikan-kebajikan bisa berjalan dengan penuh kesadaran dan keta’atan. Banyak yang secara tiba-tiba menjadi ahli ibadah, sahabat Al-Qur’an, bahkan menjadi seorang yang sangat dermawan. Dan setiap waktu selalu saja bermunculan ide-ide kreatif , pemikiran inovatif dan pengkajian mendalam terhadap syari’at puasa ini diwajibkan Allah SWT kepada orang beriman. Berbagai Fadhilah atau keutamaan-keutamaan ibadah puasa yang disebutkan didalam hadits-hadits shahih, baik beripa ganjaran yang didapatkan dan juga manfa’at secara duniawi seperti kesehatan (fisik dan psikis) bagi yang berpuasa, demikian juga ketenangan jiwa yang bakal diraih ketika semuanya dilaksanakan dengan tulus karena Allah SWT.
Dilain kesempatan Rasulullah SAW menyampaikan bahwa, siapa saja yang berpuasa didasari oleh keimanan dan ihtisab akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدما من ذنبه.
Sebuah amalan yang luar biasa, dan ibadah yang sangat istimewa. Allah SWT berfirman didalam hadits qudsi, “Seluruh amalan anak Adam itu adalah untuknya, kecuali Puasa. Ibadah puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya”.
Jika ibadah-ibadah yang lain akan dilipatgandakan pahalanya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, maka ibadah puasa ganjarannya tidak ada batas hitungannya.
Dan statemen tersebut menempatkan puasa sebagai ibadah yang agung dan istimewa.
Tetapi apakah semua orang yang berpuasa akan memperoleh apa yang dijanjikan itu ? Nah, disinilah Rasulullah SAW memberikan rambu-rambu yang mesti diperhatikan oleh orang-orang beriman. Rambu-rambu uang disebutkan didalam hadits diatas adalah : Puasa itu harus didasari oleh KEIMANAN, tidak ikut-ikutan, apalagi sekedar agenda rutinitas tahunan belaka, tidak bermakna bahkan maghfiroh (keampunan)pun tidak didapatkan sama sekali. Memasuki bulan Ramadhan dalam kondisi dan keadaan berdosa, dan keluar dari Ramadhan pun tetap menjadi orang yang banyak dosanya. Alangkah merugi orang-orang yang seperti ini. Hal itu mungkin disebabkan dia berpuasa tetapi tidak sesuai tuntunan dan tutorial yang dicontohkan Rasulullaj SAW dijadikan sebagsi pedoman. Di dalam hadits lain dipertegas oleh Rasulullah bahwa siapapun yang berpuasa, lantas tidak bisa meninggalkan dusta dan perbuatan keji, maka Allah SWT tidak berkepentingan dengan puasa yang dilakukannya
Rambu-rambu yang berikutnya adalah IHTISAB, mengharapkan pahala dari Allah SWT. Secara implisit Ihtisab itu memproklamirkan bahwa Allah lah yang Maha kaya, Maha Pengampun dan Pema’af, dan memiliki segala sesuatunya, sedangkan kita manusia hanyalah seorang hamba yang tak berdaya. Bahkan untuk keperluan hidup pribadi kitapun semuanya kita mohonkan dan minta kepada Allah SWT. Dengan berpuasa, menahan lapar dan haus kita akan belajar mengenal Allah SWT.
Secara fundamental ibadah puasa yang dikerjakan orang beriman apabila sesuai dengan tutorialnya akan merubah kehidupan menjadi lebih baik. Wajah otang yang berpuasa akan terlihat tenang dan berbahagia. Didalam kehidupan nyata, orang yang berpuasa tidak akan marah-marah karena takut puasanya menjadi batal. Bahkan Rasulullah SAW memberikan petunjuknya, apabila ada yang mengajak konflik bahkan perkelahian, maka sampaikanlah ucapan اني صائم (sesungguhnya aku sedang puasa) dan segera meninggalkan lokasi tersebut. Demikian juga orang yang berpuasa tidak akan berani berdusta, memanipulasi dan sebagainya, karena takut puasanya batal. Orang tidak akan berani untuk korupsi sedangkan ia sedang berpuasa, bukan karena takut atau tidak ada peluang, tetapi justru disebabkan karena yakin puasanya batal.
Seorang yang berpuasa justru akan menjaga keta’atannya kepada Allah SWT, ia secara tiba-tiba rajin ke Masjid, rajin melaksanakan shalat Sunnah, rajin baca Al-Qur’an, dan secara sosial kesalehannya pun terbina dan meningkat, dibuktikan dengan rajin bersedekah, serta senantiasa peduli terhadap orang-orang yang dhu’fa’ dan tidak punya waktu untuk pekerjaan yang sia-sia apalagi hanya untuk bermain-main. Selama berpuasa ia hanya fokus untuk beribadah dan beribadah, sebuah kondisi religius yang terjadi tiba-tiba, kemudian berlangsung dalam waktu yang tertentu (ايامامعدودات). Kita jarang mendengar ada praktek tangkap basah oleh petugas (pihak keamanan atau KPK) dalam kejahatan-kejahatan dan tindak pidana korupsi terhadap orang-orang yang sedang berpuasa, artinya, ibadah puasa telah dan sedang membentuk karakter baru bagi yang bersangkutan. Telah terjadi perubahan kehidupan didalam diri seseorang. Yang biasa kasar, akan berubah menjadi lembut dan peramah. Yang sering korupsi, selama puasa menjadi tidak tertarik untuk melakukannya seolah-olah dia sedang diawasi secara ketat oleh petugas keamanan dan penegak hukum. Yang biasa waktunya lebih dominan di tempat-tempat hiburan, lokasi santai dan tempat bermain-main, mengaso dan sebagainya, saat ini justru lebih banyak kemasjid dan beribadah.
Berbagai perbuatan fasad dan destruktif akan hilang pada diri orang yang sedang berpuasa, dan jika situasi dan kondisi seperti ini terlaksana dengan intensif dalam waktu yang telah ditentukan otomatis akan membuat kehidupan seseorang jauh lebih baik. Pola pikirnya akan senantiasa positif dan konstruktif, dan seluruh pembiasaan selama berpuasa itu akan menjadi media training bagi dirinya. Dan inilah yang dimaksudkan bahwa ibadah puasa punya magnet uang sangat kuat untuk membentuk insan muttaqiin.
Meskipun demikian, Allah SWT yang telah menyiapkan sebuah aplikasi kehidupan untuk membentuk insan muttaqiin, yaitu dengan disyati’atkannya ibadah puasa Ramadhan, jika dilihat realita dilapangan, banyak saja kita manusia ini yang berlagak dungu dan acuh tak acuh terhadap aplikasi kehidupan yang luar biasa ini, dan hal itu diungkapkan dalam statemen Rasulullah SAW, bahwa tidak semua orang bisa berpuasa sesuai tutorial atau sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW sehingga gagal dalam merubah dirinya, apalagi membentuk dirinya menjadi insan yang muttaqiin. Dan konsekwensi dari kegagalan tersebut, maka dia tidak akan memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus saja. رب صاءمين ليس له من صيامه الا الجوع والعطس
Banyak orang berpuasa tidak ada yang diperolehnya melainkan hanya lapar dan haus saja.
Ibadah puasa Ramadhan tidak hanya membentuk seseorang menjadi muttaqiin, tetapi juga mempunyai imbas yang kuat untuk menginspirasi masyarakat sekitarnya untuk secara bersama-sama beribadah, dan berjuang dengan penuh keikhlasan dan kesabaran menuju pribadi-pribadi yang muttaqiin. Jangan sia-siakan kesempatan yang Allah berikan, mana tau ini adalah Ramadhan terakhir buat kita.
_Wallahu a’lam bish shawwab._
Batahan, 04 Ramadhan 1447 H.



