• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Kamis, Mei 21, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    Kunci Kampung Berkah dan Bahagia, Anggota PDM Solo Ajak Warga Perkuat Iman

    Peringati Milad 109 Aisyiyah, ‘Aisyiyah Jateng Perkuat Ketahanan Keluarga dan Pangan

    Perjalanan Aisyiyah: Dari Gerakan Pembaruan Perempuan hingga Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

    Sejarah Kebangkitan Nasional 1908, Upaya Memelihara Geist Bangsa

    Dari Receh ke Ratusan Juta, Webinar SUMU CATALYST Kupas Strategi Bangun Bisnis Snack Modern

    Memaknai ‘Aisyiyah: Perempuan Berkemajuan, Tiang Utama Negara. Tulang rusuk Muhammadiyah

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      Kunci Kampung Berkah dan Bahagia, Anggota PDM Solo Ajak Warga Perkuat Iman

      Peringati Milad 109 Aisyiyah, ‘Aisyiyah Jateng Perkuat Ketahanan Keluarga dan Pangan

      Perjalanan Aisyiyah: Dari Gerakan Pembaruan Perempuan hingga Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

      Sejarah Kebangkitan Nasional 1908, Upaya Memelihara Geist Bangsa

      Dari Receh ke Ratusan Juta, Webinar SUMU CATALYST Kupas Strategi Bangun Bisnis Snack Modern

      Memaknai ‘Aisyiyah: Perempuan Berkemajuan, Tiang Utama Negara. Tulang rusuk Muhammadiyah

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

        Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

        Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

        Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

        Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

        Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          Kunci Kampung Berkah dan Bahagia, Anggota PDM Solo Ajak Warga Perkuat Iman

          Peringati Milad 109 Aisyiyah, ‘Aisyiyah Jateng Perkuat Ketahanan Keluarga dan Pangan

          Perjalanan Aisyiyah: Dari Gerakan Pembaruan Perempuan hingga Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

          Sejarah Kebangkitan Nasional 1908, Upaya Memelihara Geist Bangsa

          Dari Receh ke Ratusan Juta, Webinar SUMU CATALYST Kupas Strategi Bangun Bisnis Snack Modern

          Memaknai ‘Aisyiyah: Perempuan Berkemajuan, Tiang Utama Negara. Tulang rusuk Muhammadiyah

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            Kunci Kampung Berkah dan Bahagia, Anggota PDM Solo Ajak Warga Perkuat Iman

            Peringati Milad 109 Aisyiyah, ‘Aisyiyah Jateng Perkuat Ketahanan Keluarga dan Pangan

            Perjalanan Aisyiyah: Dari Gerakan Pembaruan Perempuan hingga Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

            Sejarah Kebangkitan Nasional 1908, Upaya Memelihara Geist Bangsa

            Dari Receh ke Ratusan Juta, Webinar SUMU CATALYST Kupas Strategi Bangun Bisnis Snack Modern

            Memaknai ‘Aisyiyah: Perempuan Berkemajuan, Tiang Utama Negara. Tulang rusuk Muhammadiyah

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

              Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

              Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

              Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

              Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

              Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Banjir Bukan Sekedar Peristiwa Alam, Tapi Masalah Tata Kelola Bencana dan Ekonomi Politik Kuasa

              admin by admin
              21/02/2026
              in BeritaMu
              0
              Banjir Bukan Sekedar Peristiwa Alam, Tapi Masalah Tata Kelola Bencana dan Ekonomi Politik Kuasa
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA
              Banjir Bukan Sekedar Peristiwa Alam, Tapi Masalah Tata Kelola Bencana dan Ekonomi Politik

              Banjir di Indonesia kerap dibaca sebagai peristiwa alam yang datang dan pergi. Seolah-olah hanya persoalan curah hujan, sungai yang meluap, atau drainase yang tak memadai. Dalam pemberitaan dan kebijakan publik, diskursus tentang banjir sering berhenti pada solusi teknis: membangun tanggul lebih tinggi, memperbesar pompa, atau memperlebar kanal.

              Cara pandang seperti ini seolah membuat bencana tampak netral, terlepas dari dinamika kekuasaan yang membentuk ruang, kota, dan lanskap di mana air mengalir.

              WartaTerkait

              Kunci Kampung Berkah dan Bahagia, Anggota PDM Solo Ajak Warga Perkuat Iman

              Peringati Milad 109 Aisyiyah, ‘Aisyiyah Jateng Perkuat Ketahanan Keluarga dan Pangan

              Perjalanan Aisyiyah: Dari Gerakan Pembaruan Perempuan hingga Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

              Sejarah Kebangkitan Nasional 1908, Upaya Memelihara Geist Bangsa

              Namun di balik genangan yang merendam rumah, jalan, dan kawasan industri, tersimpan cerita yang jauh lebih kompleks tentang bagaimana ruang diatur, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung risiko.

              Tata kelola banjir tidak semata-mata soal rekayasa hidrologi, tetapi juga tentang keputusan politik, kepentingan ekonomi, serta relasi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat. Banjir menjadi cermin yang memantulkan bagaimana negara mengelola tanah, air, dan keselamatan warganya.

              Dalam konteks ini, riset politik ekonomi lingkungan menawarkan lensa berbeda untuk membaca bencana hidrometeorologi. Pendekatan ini tidak melihat banjir sebagai kegagalan teknis, menempatkannya sebagai hasil dari proses politik yang panjang, mulai dari perencanaan tata ruang, perizinan pembangunan, hingga mekanisme pengawasan publik.

              Dalam diskusi wawancara Mongabay Indonesia di sebuah episode Bincang Alam yang diselenggarakan pada 22 Januari 2026 bertajuk ‘Politik Tata Kelola Bencana: Bercermin Dari Banjir di Indonesia’ yang menghadirkan peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu Dr. Yogi Setya Permana.

              Diskusi ini membuka ruang untuk memahami banjir sebagai persoalan struktural yang melampaui batas kota dan negara. Berikut adalah rangkuman diskusi, yang tata bahasanya telah disesuaikan guna penulisan artikel ini.

              Dr Yogi Setya Permana, Peneliti di Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dok: pribadi

              Mongabay Indonesia: Dalam membahas tata kelola kebencanaan, fokus pada isu banjir dalam konteks politik. Bagaimana diskursus ini dikembangkan dan dibahas di Pusat Riset Politik BRIN?

              Dr. Yogi Setya Permana: Saat ini saya menginisiasi dan mengkoordinatori Grup Riset Politik Ekologi dan Demokrasi Lingkungan. Kelompok ini menggunakan perspektif politik untuk menganalisis persoalan lingkungan dan perubahan iklim, seperti banjir, bencana hidrometeorologi, serta isu transisi energi, baik di Indonesia, regional maupun secara global.

              Selama ini, persoalan lingkungan sering dibahas secara teknis dan non-politik, misalnya banjir yang hanya dilihat dari faktor alam dan infrastruktur. Padahal, pola dan dampaknya juga sangat dipengaruhi oleh faktor politik dan ekonomi.

              Melalui grup riset ini, kami ingin menghadirkan kembali politik sebagai lensa penting dalam memahami dan merespon masalah lingkungan.

              Dr. Yogi Setya Permana: “Dry feet” sebenarnya adalah metafora yang lahir dari konteks Belanda, tempat saya menulis disertasi di Universitas Leiden.

              Sebagai negara yang berada di bawah permukaan laut, Belanda memiliki trauma sejarah terhadap banjir besar pasca Perang Dunia II di era 1950-an. Dalam imajinasi publik Belanda, kebutuhan paling mendasar bukan sekadar makanan, melainkan memastikan “kaki tetap kering”.

              Metafora inilah yang saya adopsi sebagai pintu masuk konseptual dalam judul disertasi saya, agar selaras dengan konteks tempat penelitian tersebut dikembangkan.

              Mongabay Indonesia: Bagaimana dinamika dan kebijakan di tingkat regional (di luar Indonesia) memengaruhi perumusan kebijakan nasional, khususnya dalam manajemen kebencanaan, mengingat isu lingkungan dan perubahan iklim bersifat lintas negara dan punya dampak langsung ke konteks domestik?

              Dr. Yogi Setya Permana: Tentu kebijakan regional dan global relevan karena pendekatan konvensional dalam penanganan banjir di banyak negara, –termasuk Indonesia, sangat dipengaruhi oleh agenda dan pembiayaan donor global.

              Lembaga seperti Asian Development Bank yang  berperan besar dalam mendanai proyek manajemen banjir di Asia, dengan pendekatan yang banyak mengadopsi model dari Eropa.

              Salah satunya adalah EU Flood Risk Management Directive tahun 2007, yang kemudian diterjemahlan dan direkomendasikan ke berbagai negara. Karena itu, kebijakan dan praktik penanganan banjir yang diterapkan pemerintah saat ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pendekatan dan kerangka global tersebut.

              Banjir yang terjadi di Kalibagor, Banyumas, Jateng, pada Selasa (15/3/2022). Banjir merusak fasilitas publik, termasuk sekolah, infrastruktur penting, dan sarana ibadah. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

              Mongabay Indonesia: Bagaimana Anda melihat keterkaitan antara politik, kekuasaan, ekonomi, dan tata ruang wilayah di Indonesia saat ini?

              Dr. Yogi Setya Permana: Ketika saya memulai riset ini pada 2020, kajian yang mengaitkan banjir dengan ekonomi politik masih sangat terbatas. Uji awal saya adalah menulis artikel di Mongabay pada Juni 2020 di tengah rangkaian banjir besar di berbagai wilayah seperti Morowali, Lampung, dan Bantaeng.

              Saat itu saya mempertanyakan asumsi dominan bahwa banjir semata-mata fenomena alam dengan solusi teknis. Setelah turun ke lapangan, saya melihat bahwa tata kelola banjir bukan hanya soal infrastruktur seperti pompa, tanggul, bendungan, atau kolam retensi, tetapi juga soal aktor, kepentingan, dan relasi kekuasaan di baliknya.

              Hal ini semakin penting karena banyak kajian meteorologi memprediksi bencana hidrometeorologi, –terutama banjir, akan semakin sering terjadi akibat pola hujan ekstrem yang makin intens.

              Namun saya menemukan puzzle saat membandingkan data BNPB: wilayah dengan kondisi geografis dan meteorologis serupa menunjukkan tren banjir yang berbeda. Lebih mengejutkan lagi, beberapa daerah yang telah menginvestasikan infrastruktur pengendali banjir sangat mahal, bahkan berbasis utang, justru mengalami tren peningkatan frekuensi banjir.

              Sementara daerah lain yang berinvestasi lebih sedikit malah menunjukkan tren penurunan. Puzzle inilah yang mendorong saya menginvestigasi lebih dalam mengenai dimensi politik dan tata kelola di balik pengelolaan banjir.

              Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengandalkan solusi teknis dan infrastruktur besar untuk mengatasi banjir—ini memang pendekatan global yang didorong juga oleh lembaga keuangan internasional melalui konsep flood defense, seperti pembangunan tanggul, terowongan air, dan stasiun pompa.

              Pendekatan ini kemudian menjadi arus utama di Indonesia. Namun, saya tidak menafikan pentingnya infrastruktur. Infrastruktur tetap krusial, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan tata kelola banjir.

              Sejumlah pertokoan yang ambrol dan memenuhi badan sungai akibat banjir di Kota Denpasar, Bali (14/09/2025). Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia.

              Dari riset saya, faktor politik justru memainkan peran kunci. Secara khusus, praktik kolusi antara politisi dan pengusaha sangat memengaruhi hasil pengelolaan banjir.

              Daerah yang lebih berhasil menekan frekuensi banjir umumnya adalah daerah yang mampu meminimalkan praktik kolusi tersebut, sementara daerah dengan kolusi kuat cenderung mengalami kegagalan meskipun telah berinvestasi besar pada infrastruktur.

              Yang saya maksud dengan kolusi di sini adalah trading influence (memperjualbelikan pengaruh) di mana politisi yang berkuasa memberikan keistimewaan, kemudahan izin, atau pelonggaran regulasi kepada pengusaha.

              Dalam praktiknya, hal ini sering terjadi pada alih fungsi ruang dan kewajiban pengelolaan drainase. Seharusnya, setiap kegiatan pembangunan atau perubahan tata guna lahan wajib menyediakan infrastruktur pengendali air, seperti kolam retensi, agar tidak menambah beban limpasan ke sungai. Namun melalui kolusi, kewajiban ini kerap diabaikan, sehingga memperparah risiko banjir ketika hujan turun.

              Mongabay Indonesia: Bagaimana cara mengurangi praktik transaksi politik dan kolusi tersebut?

              Dr. Yogi Setya Permana: Persoalan utamanya bukan ketiadaan aturan, melainkan implementasinya. Regulasi tata ruang dan drainase sudah ada di tingkat nasional dan diturunkan ke daerah, tetapi penerapannya berbeda-beda.

              Di banyak tempat, implementasi terasa “masuk angin” karena adanya kolusi antara politisi dan pengusaha, yang sering berkelindan dengan politik elektoral.

              Banyak pengusaha menjadi donor kampanye, sehingga ketika politisi terpilih, mereka merasa berkewajiban “membayar utang politik” melalui kemudahan izin atau pelonggaran aturan. Hal inilah yang kerap berujung pada tata kelola banjir yang buruk. Berdasarkan riset saya, efektivitas tata kelola banjir perlu berfokus pada tiga hal utama:

              Pertama, membatasi kolusi antara politisi dan pengusaha—baik dalam konteks perkotaan (developer dan industri) maupun wilayah rural/frontier yang terkait industri ekstraktif.

              Kedua, memperkuat public oversight: masyarakat perlu aktif mengawasi pelanggaran tata ruang dan memantau agar akuntabilitas meningkat.

              Ketiga, memulihkan kualitas ruang itu sendiri. Di saat seperti sekarang banyak ruang sudah rusak dan tidak siap menampung hujan ekstrem; karena itu, ketika curah hujan tinggi terjadi, banjir menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

              Perbedaan ketika kuasa politik hanya memfasilitasi kepentingan segelintir orang versus kepentingan publik. Dokumen: Dr. Yogi Setya Permana (BRIN)

              Mongabay Indonesia: Jika di area yang dinyatakan legal, contohnya perumahan yang dibangun di kawasan resapan air dan kemudian banjir terjadi, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab dan berperan; pengembang, pemerintah, atau konsumen yang membeli rumah di sana?

              Dr. Yogi Setya Permana: Akar persoalan terletak pada peran pemerintah sebagai pemegang otoritas tata ruang: banyak daerah hanya memiliki RTRW yang bersifat makro dan tidak cukup presisi untuk melindungi kawasan resapan air di tingkat tapak.

              Karena itu, RDTR (Rencana Detail Tata Ruang)  menjadi sangat krusial. RDTR memberi kepastian spasial yang lebih presisi tentang mana kawasan yang harus dilindungi sebagai resapan. Tanpa RDTR yang jelas dan operasional, zona resapan kerap menjadi abu-abu dan mudah dialihfungsikan pengembang, sementara ingatan warga tentang area resapan tidak memiliki kekuatan hukum.

              Masalahnya, banyak daerah yang hanya memiliki RTRW tanpa RDTR.  Di tengah krisis iklim dan hujan ekstrem yang makin intens, ketiadaan RDTR membuka celah regulasi yang terus memperparah risiko banjir.

              Mongabay Indonesia: Apa tantangan utama yang dihadapi aparat teknis seperti BMKG, BPBD, atau BNPB ketika rekomendasi mitigasi bencana mereka berbenturan dengan kepentingan politik, kekuasaan, dan investasi ekonomi dalam proses pengambilan kebijakan?

              Dr. Yogi Setya Permana: Di lapangan, aparat teknis sebenarnya memahami penyebab kerentanan banjir, misalnya ketika kolam retensi di kawasan industri dihilangkan sehingga drainase mudah meluap, namun mereka sering ragu bertindak karena terhambat kepentingan atasan dan tekanan politik.

              Situasi ini diperparah oleh fakta struktural bahwa banyak pejabat di legislatif dan eksekutif berasal dari kalangan bisnis, termasuk sektor ekstraktif, sebuah tren yang menguat sejak 2009–2014.

              Akibatnya, muncul konflik kepentingan: pengambil kebijakan cenderung mengutamakan kepentingan ekonomi dibanding keselamatan publik, membuat rekomendasi mitigasi bencana sulit dijalankan dan hak masyarakat atas ruang hidup yang aman kian terpinggirkan.

              Mongabay Indonesia: Apakah di Indonesia sudah ada contoh praktik baik yang berhasil mengurangi risiko banjir melalui keputusan politik dan kebijakan yang bijak?

              Dr. Yogi Setya Permana: Salah satu contoh praktik baik datang dari Surabaya. Keberhasilan kota ini bukan semata karena figur pemimpin, tetapi karena kuatnya peran masyarakat sipil dan media lokal. Dalam 15 tahun terakhir, Surabaya berhasil menurunkan frekuensi banjir secara signifikan.

              Di awal kepemimpinan Bu Risma, aliansi dengan publik dan media melahirkan sistem kepatuhan dan pengawasan yang dilembagakan (bukan bergantung pada satu wali kota) sehingga aduan warga dapat ditindaklanjuti cepat, pelanggaran pengembang bisa ditangani langsung, dan respons pemerintah dapat dipantau publik, dengan akuntabilitas yang diperkuat oleh Pilkada langsung.

              Pada intinya, kombinasi public oversight yang solid dan political will pejabat daerah untuk transparan serta tegas menindak pelanggaranlah yang membuat Surabaya mampu mengurangi risiko banjir perkotaan secara nyata. (mongabay)

               

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Renungan Abdul Mu’ti Green Ramadan

              Next Post

              Buktikan Kualitas Global, Mahasiswa Pendidikan Akuntansi UMS Mengajar di Perguruan Tinggi Filipina

              admin

              admin

              InfoLain

              BeritaMu

              Kunci Kampung Berkah dan Bahagia, Anggota PDM Solo Ajak Warga Perkuat Iman

              21/05/2026
              BeritaMu

              Peringati Milad 109 Aisyiyah, ‘Aisyiyah Jateng Perkuat Ketahanan Keluarga dan Pangan

              21/05/2026
              BeritaMu

              Perjalanan Aisyiyah: Dari Gerakan Pembaruan Perempuan hingga Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

              21/05/2026
              Next Post

              Buktikan Kualitas Global, Mahasiswa Pendidikan Akuntansi UMS Mengajar di Perguruan Tinggi Filipina

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                Gebrakan Baru! Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan 10 Program Unggulan di Tanwir II

                05/09/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                Mahasiswa UM Kuningan Raih Prestasi pada Muhammadiyah Games 2026

                21/05/2026

                Unimma Kukuhkan Uky Yudatama sebagai Guru Besar, Tegaskan Tata Kelola TI untuk Kedaulatan Digital

                21/05/2026

                Ahmad Muttaqin Tegaskan Peran Strategis Guru Besar dan PTMA dalam Membangun Peradaban

                21/05/2026

                Milad ke-109 ‘Aisyiyah Teguhkan Dakwah Kemanusiaan dan Perdamaian

                21/05/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (28,159)
                • Hukum Islam (1,416)
                • Kabar PTMA (3,710)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                Mahasiswa UM Kuningan Raih Prestasi pada Muhammadiyah Games 2026

                21/05/2026

                Unimma Kukuhkan Uky Yudatama sebagai Guru Besar, Tegaskan Tata Kelola TI untuk Kedaulatan Digital

                21/05/2026

                Ahmad Muttaqin Tegaskan Peran Strategis Guru Besar dan PTMA dalam Membangun Peradaban

                21/05/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In