Masih Perlukah Mahasiswa Belajar Menulis di Era AI?
Pakar Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Moh Mudzakkir PhD menyoroti tren ketergantungan mahasiswa kepada akal imitasi atau artificial intelligence (AI) dalam aktivitas menulis. Menurutnya, ini berbahaya sebab berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis hingga skill berkomunikasi.
Mudzakkir menegaskan bahwa perlu ada pembedaan yang jelas antara AI sebagai alat bantu dan ketergantungan terhadap AI. Adapun perbedaan keduanya terletak pada siapa yang menjadi aktor utama dalam proses berpikir.
Jika AI digunakan sebagai alat bantu, manusia tetap memegang kendali. Individu tersebut sudah memiliki dasar kemampuan membaca, menulis, dan memahami materi, lalu menggunakan AI untuk membantu sistematisasi ide hingga mencari celah pada tulisan yang sudah dibuat.
Dalam posisi ini, AI hanya memperkuat kemampuan yang sudah ada. Mudzakkir menjelaskan bahwa individu dengan tipe ini tetap berpikir sendiri. Sebab individu tersebut mampu menilai jawaban AI serta bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
“AI juga sangat tergantung pada prompt atau umpan yang diberikan. Maka aktor utamanya tetap manusia. Semakin banyak stock of knowledge-nya, maka artikulasi pertanyaannya juga berbeda. AI membantu sistematisasi, iya. Membantu sebagai teman dialog, iya,” katanya.
Ketergantungan kepada AI
Mudzakkir lalu menjelaskan bahwa ketergantungan terjadi ketika AI menggantikan proses berpikir itu sendiri. Individu dengan tipe ini adalah mereka yang langsung meminta AI membuatkan tulisan atau jawaban tanpa benar-benar memahami isinya.
“Kalau hanya memberi prompt, ‘Buatkan saya artikel dengan kategori ini, ini, ini,’ itu bukan sekadar membantu. Ini tentu tantangan bagi dunia akademik. Namun masing-masing bidang keilmuan mungkin punya standar berbeda,” ujarnya.
Dalam kondisi ini, AI bukan lagi alat bantu, melainkan menjadi “pengganti” usaha belajar. Mudzakkir mengingatkan jika kebiasaan ini terus berlangsung, maka kemampuan berkomunikasi dapat melemah karena tidak pernah benar-benar dilatih.
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretair sPWM Jatim itu menjelaskan bahwa dosen kini dapat dengan sekali lihat membedakan mana tulisan yang sepenuhnya hasil AI dan mana yang tidak. Hal itu dapat terlihat, misalnya, dari gaya bahasa yang digunakan dalam tulisan tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa batas sejauh mana AI diperbolehkan dalam proses penulisan masih diperdebatkan. Belum ada konsensus umum karena setiap bidang keilmuan memiliki latar belakang dan standar yang beragam.
“Di beberapa kampus sekarang sudah ada aturan. Dalam publikasi jurnal pun ada yang menerima penggunaan AI, tetapi dalam batas tertentu dan harus dijelaskan di mana posisi bantuan AI tersebut secara jujur,” jelasnya.
Menulis Sebagai Skill Penting
Mudzakkir menjelaskan bahwa kemampuan menulis adalah bagian dari komunikasi. Hal ini penting sebab melalui menulis, seseorang belajar menyampaikan gagasan yang dapat dipahami oleh orang lain.
Menurutnya, jika individu tidak mampu menulis dengan baik, maka pesan yang sebenarnya bagus bisa gagal dipahami atau bahkan diabaikan. Pembaca bisa salah menangkap maksud yang sebenarnya.
Ketika seseorang menulis apa yang ada di dalam pikirannya, sebenarnya ia sedang menyusun logika, memilih kata, hingga menata argumen. Proses inilah yang melatih cara berpikir kritis dan sistematis. AI bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan proses mental yang terjadi ketika seseorang benar-benar menulis sendiri.
“Di mana pun, kemampuan menulis itu menjadi kemampuan yang penting. Saya kira itu kemampuan dasar yang harus digembleng. Itu semua perlu dibiasakan. Beda cerita kalau terbiasanya malah bergantung dengan AI,” tandasnya. (maklumat)



