Refleksi Diri dalam Gerak Perjuangan di Muhammadiyah
Dalam sebuah forum Baitul Arqam Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, akhir tahun 2025 lalu, saya menemukan satu titik hening dalam hidup saya sebagai kader. Bukan karena kegagalan, bukan pula karena kehilangan, tapi karena satu pertanyaan yang menghentak nalar sekaligus menyesakkan batin, siapa saya dalam Muhammadiyah? Di mana posisi saya dalam perjalanan panjang organisasi yang saya cintai ini?
Sudah lebih dari satu dekade saya berjalan bersama Muhammadiyah. Mengajar, berkegiatan, berjejaring. Namun waktu tak selalu identik dengan kedewasaan. Ada yang lama di dalam, tapi belum juga memahami ruh gerakan. Ada yang baru bergabung, tapi jiwanya sudah menyatu dengan semangat tajdid dan dakwah pencerahan. Saya sadar, saya perlu berhenti sejenak untuk membaca diri sendiri.
Pertama, kader biologis, mereka yang lahir dari rahim keluarga Muhammadiyah. Mereka menghirup Muhammadiyah sejak kecil—dari pengajian keluarga, sekolah, hingga rutinitas sosial. Namun tidak sedikit dari mereka yang hanya tinggal dalam identitas, tanpa benar-benar mengalami transformasi ideologis.
Kedua, kader ideologis, mereka yang menjalani proses kaderisasi dari bawah, memahami pemikiran-pemikiran KH Ahmad Dahlan, menjiwai tafsir sosial atas Al-Ma’un, dan menempatkan diri sebagai penggerak utama perubahan. Mereka adalah tulang punggung yang membawa Muhammadiyah tetap hidup dalam denyut zaman.
Keempat, kader simpatisan. Mereka bergabung karena cinta. Mungkin bukan karena garis keturunan atau pekerjaan, tapi karena keteladanan. Mereka melihat integritas tokoh Muhammadiyah, kesederhanaan yang langka, pelayanan tanpa pamrih, dan merasa terinspirasi. Mereka yang tertarik karena aura keikhlasan.
Kelima, kader parasit. Ini yang paling mengkhawatirkan. Mereka yang menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk kepentingan pribadi. Jabatan dikejar, proyek diincar, namun semangat fisabilillah tak tampak, dan keberpihakan terhadap mustadh’afin tak terlihat. Mereka hadir bukan untuk berjuang, melainkan untuk mengambil keuntungan dari perjuangan orang lain.
Muhammadiyah tidak didirikan hanya untuk menjadi institusi. Ia adalah gerakan. Ia adalah ruh perubahan. Ia hadir karena tangis sejarah, karena keprihatinan terhadap umat yang tertindas, terhadap pendidikan yang terbengkalai, terhadap kemiskinan yang diwariskan. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah bukan untuk membangun kemegahan, tapi untuk memerdekakan. Dari kebodohan, dari kemiskinan, dan dari ketertinggalan.
Teologi Al-Ma’un menjadi nafasnya. Kita diajari untuk tidak sekadar mengaji ayat, tapi menjelmakan ayat dalam tindakan. Menolong anak yatim, memberi makan fakir miskin, dan tidak membiarkan mereka yang lemah terus tertindas. Spirit inilah yang harus terus hidup dalam setiap diri kader Muhammadiyah.
Kita tidak boleh lupa, bahwa tokoh-tokoh besar Muhammadiyah hidup dalam kesederhanaan. Mereka bukan hanya bicara dakwah, tapi menjalani dakwah dengan sepenuh hati. Mereka tidak mencari jabatan, tapi jabatan datang karena keikhlasan mereka. Mereka tidak menghitung apa yang diberikan kepada Muhammadiyah, karena mereka merasa bahwa memberi kepada Muhammadiyah adalah bentuk cinta kepada Allah.
Tulisan ini bukan untuk menggurui. Ini adalah catatan, namun saya berharap bisa menjadi cermin bersama. Setiap dari kita harus terus bergerak dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi. Dari kader biologis menjadi kader ideologis. Dari honoris menjadi simpatisan sejati. Dari sekadar ikut, menjadi penggerak yang penuh kesadaran.
Menjadi Muhammadiyah sejati artinya memahami bahwa jalan ini adalah jalan sunyi. Bukan tempat mencari sorotan, tapi tempat mengasah keikhlasan. Jalan ini bukan untuk mendapatkan, tapi untuk memberi. Untuk melayani, bukan dilayani.
Mari kita jaga Muhammadiyah ini dengan jiwa yang bersih. Dengan etika yang tinggi. Dengan ilmu yang mendalam. Dan dengan semangat fisabilillah yang tak pernah padam. Kembalilah pada Al-Ma’un. Jadilah tangan yang memberi. Jadilah cahaya yang menuntun. Karena di sanalah inti dari menjadi kader sejati Muhammadiyah. (tabligh)



