Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPS PWM) DKI Jakarta menggelar Pendampingan Psikososial dan Spiritual Bagi Relawan Sosial Se-DKI Jakarta bertempat di Auditorium FISIP UMJ, Minggu (26/2). Acara pendampingan digelar dalam rangka menyemarakkan gelaran Musyawarah Wilayah (Musywil) ke 22 PWM DKI Jakarta pada Maret mendatang.
Acara yang dihadiri oleh Ketua Baznas DKI Jakarta Dr. Akhmad H. Abu Bakar, MM., Kepala Kantor Layanan LazizMu UHAMKA Drs. Nandi Rachman, M.Ag., Sekretaris BPH UMJ Prof. Dr. Agus Suradika, M.Pd., Warek II UMJ Dr. Ir. Mutmainah, MM., Warek IV UMJ Dr. Septa Candra, S.H., M.H. serta tamu undangan dari Ortom Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah, dan Rumah Sakit Muhammadiyah.
Ketua MPS PWM DKI Jakarta Muhammad Rifqi menyampaikan bahwa kegiatan pendampingan psikososial dan spiritual bagi relawan merupakan rangkaian kegiatan dari syiar Musywil ke 22 PWM DKI Jakarta pada Maret mendatang.
“Kegiatan hari ini merupakan serangkaian acara menuju Musywil ke 22 PWM DKI Jakarta yang insyaallah akan dilaksanakan pada tanggal 10 dan 11 Maret yang harus sama-sama kita semangati dan berdoa mudah-mudahan acaranya berjalan dengan baik, lancar, dan hikmah dengan apa yang sudah dibicarakan sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah,” jelas Rifqi.
Tidak hanya itu, Rifqi menyampaikan bahwa MPS memiliki amal usaha salah satunya adalah panti Muhammadiyah, Rifqi berharap adanya panti tersebut mendapat perhatian lebih sebagai bentuk penguatan amal usaha di wilayah DKI Jakarta.
Acara dibuka oleh Ketua PWM DKI Jakarta KH. Sun’an Miskan, Lc. sekaligus penyampaian bencana dan pemberdayaan kaum mustadl’afin dalam perspektif agama. Sun’an mengatakan bahwa rahmat alam itu berarti islam yang kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat serta pemecah persoalan bencana dan banyaknya musibah yang dialami oleh manusia merupakan ujian dari Allah SWT.
“Segala soalan cobaan dan musibah yang diberikan oleh Allah SWT itu semuanya banyak hikmah yang terkandung,” jelas Sun’an.
Lebih lanjut, Sun’an mengatakan Muhammadiyah dalam menghadapi situasi bencana alam secara masif dan keberpihakannya kepada kaum Mustadl’afin atas dorongan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah yang berpacu pada surat Al-Ma’un. Sun’an melaporkan Amal usaha Muhammadiyah wilayah DKI Jakarta memiliki 310 pada lembaga panti asuhan, anak yatim, dan kaum Mustadh’afin yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Dengan menghadirkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Inodnesia (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy. M.A.P. sebagai keynote speaker pada acara pendampingan sikososial dan spiritual bagi relawan yang mengusung tema “Kesalehan Sosial Persyarikatan Sebagai Upaya Pemenuhan Kebutuhan dan Spiritual Masyarakat”.
Muhadjir dalam menjelaskan persoalan sosial persyarikatan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan spiritual masyarakat menggambarkan dengan kisan perang uhud pada zaman Nabi. Muhadjir mengatakan perang uhud merupakan perang pembalasan kaum Quraisy atas kekalahan mereka dari pasukkan muslim di perang badar.
Lebih lanjut, Muhadjir menjelaskan ketika umat islam kalah dalam berperang melawan kaum Quraisy pada perang Uhud saat itulah terjadi perpecahan antar sesama umat islam. “Kekalahan yang dialami oleh umat islam kemudian mereka saling menyalahkan, dan saling mencari kesalahan orang lain,” jelas Muhadjir.
Dari penggambaran kekalahan umat islam pada perang uhud banyak diantara umat muslim lainnya yang menyesal dan menyalahkan Nabi Muhammad SAW atas kelalaiaan dalam menerima serangan mendadak dari kaum Quraisy terutama kaum Muhajrin yang kerap ikut menyesali atas kekalahan umat muslim di perang uhud.
Muhadjir menjelaskan bahwa penghuni Suffah merupakan kaum Muhajirin muslimin yang telah menempuh perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah dalam menghadapi beberapa permasalahan sosial. Kedatangan mereka yang tanpa perbekalan memadai ke suatu daerah agraris sangat berbeda dengan daerah asal dan gersang menjadi faktor pemicu. Intinya, mereka membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta tempat tinggal.
“Pada saat itu para penghuni suffah ini kecewa atas kemenangan kaum Quraisy, selain itu banyaknya korban meninggal termasuk pamannya Raullah yang gugur pada pertempuran itu,” jelas Muhadjir.
Tidah hanya itu saja, Muhammadiyah yang merupakan gerakkan dakwah dan tajdid dijelaskan oleh Muhadjir bahwa gerakkan tersebut merupakan identitas utama sebagaimana telah diletakkan fondasinya oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah.
“Karenanya seluruh usaha Muhammadiyah itu sejatinya merupakan jihad fisabilillah, yang menurut Tarjih disebut sebagai badlul-juhdi atau usaha yang sungguh-sungguh sebagai jalan yang membawa pada keridhaan Allah dengan cara menegakkan kalimat-Nya dan menerapkan hukum-hukum-Nya,”ungkap Muhadjir.
Muhadjir dalam mengaitkan makna jihad tersebut kemudian memenggal ayat yang sering KH. Ahmad Dahlan terapkan untuk mengajari muridnya yakni pada surat Ali-Imran ayat 142. Jihad sebagai usaha yang sungguh dengan jiwa, pikiran, harta, tenaga, dan segala ikhtiar untuk memajukan kehidupan umat dan bangsa. Muhammadiyah tidak hanya jihad di satu bidang tertentu saja, yang implikasinya membawa perubahan bagi kehidupan umat dan bangsa seperti pada jihad pendiikan, ekonomi, dan kesehatan
“Kiyai Dahlan itu ada ayat yang beliau senangi selain Al-Maun yakni surat Ali Imran ayar 142, ini lah yang sering kiyai Ahmad dahlan gunakan untuk mengajari muridnya. Kita ini manusia yang tidak bisa masuk surga jika tidak berjihad dan medan jihad kita itu sudah jelas beramal di Muhammadiyah karena kita memiliki mean untuk berjihad seperti jihad pendidikan, ekonomi, dan kesehatan” kata Muhadjirin.
Dari kisah Rasullah dan makna jihad tersebutlah yang kemudian Muhadjir kaitkan dengan kesalehan sosial persyarikatan bahwa banyak hal yang bisa dipelajari oleh kita umat muslim hanya dengan mempelajari sejarah islam.
Tarjin dalam landasan bermuhammadiyah kemudian dikaitkan oleh Muhadjir bahwa landasan dalam merumuskan berbagai hal pada bidang kehidupan, sehingga nafas Islam benar-benar dijadikan sebagai pedoman hidup manusia memerlukan data valid berupa pandangan keagamaan serta tahun yang akan dijadikan acuan sebagai bentuk dari cara bermuhammadiyah berkemajuan.
“Kita harus paham terhadap ilmu-ilmu alam di dalam islam harus kita kuasai jangan menguasai dan tidak harus berlatar belakang pendidikan kiyai yang harus berani berhujjah dan harus kita pahami bahwa Muhammadiyah tidak memandang pada keistimewaan, dan hal itu lah yang menjadikan Muhammadiyah tidak ada putus pada individu,” jelas Muhadjir.
Tidak berhenti disitu, Muhadjir kemudian menyampaikan bahwa Muhammadiyah juga kental akan transaksi horizontal seperti membangun rumah sakit, sekolah, serta layanan sosial dimana hal tersebut merupakan spirit profetik yang merupakan filantropi pembeda antara masyarakat Muhammadiyah dan bukan.
“Saya pernah ketemu dengan orang Muhammadiyah itu memang beda jadi kalau orang Muhammadiyah itu kayak dokter, perawat kesannya itu ada panggilan jiwa jadi mereka melakukan itu karena memiliki spirit vertikal dengan Allah,” jelas Muhadjir.
Muhadjir berpesan menuju Muswil ke 22 PWM DKI Jakarta agar dirancang dalam mengembangkan amal-amal usaha Muhammadiyah terutama pada sektor pendidikan dan layanan kesehatan dalam menyongsong perubahan DKI Jakarta yang nantinya tidak lagi menjadi Ibu kota Indonesia.
“Mohon dirancang betul strategi dalam mengembangkan amal usaha Muhammadiyah di wilayah DKI kalau tidak salah ada 82 sekolah muhammadiyah dan 5 rumah sakit yang itu harus diperhatikan saat menyongsong perubahan DKI yang tidak lagi menjadi Ibu kota Indonesia,” ungkap Muhadjir.
Serangkaian acara dilaksanakan pada kegiatan pendampingan sosial yang kemudian dilanjutkan dengan tiga sesi materi dan masing-masing terdapat dua materi yang harus peserta ikuti. Dukungan psikososial yang diberikan pasca bencana bertujuan untuk membantu meringankan beban psikologis dan mencegah reaksi psikologis negatif yang muncul pasca bencana yang berkembang menjadi lebih buruk.
Dukungan psikososial dapat mengembalikan individu, keluarga, masyarakat agar setelah peristiwa bencana terjadi dapat berfungsi optimal dan memiliki ketangguhan menghadapi masalah sehingga menjadi produktif dan berdaya guna kembali. (KH/KSU)
Artikel Menko PMK Muhadjir Sebut Jihad Sebagai Filantropi Bermuhammadiyah pertama kali tampil pada Universitas Muhammadiyah Jakarta.



