MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw, perebutan kekuasaan terjadi di antara generasi awal kaum muslimin.
Pertentangan mengenai siapakah pihak yang berhak mewarisi kepemimpinan kaum muslimin memecah persatuan umat menjadi dua kelompok, yakni pihak yang berkeyakinan bahwa kekuasaan sepatutnya diserahkan kepada ahlul bait (keluarga Nabi) dan pihak lain yang tidak sepakat.
Pihak yang condong kepada Ahlul bait, terutama kepada sosok Ali ibn Abi Thalib di kemudian hari menamakan dirinya sebagai kelompok Syi’ah.
Syi’ah sendiri pada perkembangannya terbagi dalam banyak firqah (kelompok). Ada yang moderat seperti Syi’ah Zaidiyah, hingga yang ekstrim seperti Syi’ah Ghulat dan Syi’ah Imamiyah atau Syi’ah Rafidhah.
Menurut Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Muhammadiyah Syamsul Hidayat, Muhammadiyah telah memiliki pandangan resmi terhadap kelompok Syi’ah di atas, terkhusus kepada Syi’ah Ghulat dan Syi’ah Rafidhah.
Dalam kanal Youtube Majelis Tabligh Muhammadiyah, Sabtu (17/9), Syamsul menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki empat pandangan standar. Dasar ini menurutnya juga digunakan oleh Majelis Tarjih dalam memberikan fatwa terkait kelompok Syi’ah.
“Pertama kali (pandangan ini) dikemukakan oleh Buya Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah yang saat itu ditugasi oleh PP Muhammadiyah untuk menjelaskan sikap itu. Pokok-pokok pikiran disampaikan di sidang pleno dan tidak ada yang membantah dan mengoreksi, dengan kata lain sepakat,” kata Syamsul.
Empat Pandangan Muhammadiyah
Poin pertama, Syamsul menjelaskan bahwa Muhammadiyah tidak sepakat dengan akidah Syi’ah yang memahami bahwa imam mereka maksum (ishmatul imamah).
“Di dalam ajaran Islam, Alquran dan As Sunnah dan pemahaman salafus salih dan ahlus sunnah wal jama’ah, yang punya sifat maksum hanya Rasulullah Muhammad Saw. Oleh karena itu Muhammadiyah jelas tidak sejalan, tidak sependapat, bahkan bertentangan atau menolak konsep ‘ishmatul imamah yang selama ini dipegang oleh Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Ghulat,” terangnya.
Poin kedua, Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah mewasiatkan kepemimpinan atau pengganti dirinya selepas beliau wafat.
“Sehingga tidak benar kalau yang berhak menjadi khalifah adalah ‘Ali ibn Abi Thalib, lalu menganggap (kepemimpinan) sahabat (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman) tidak sah,” jelasnya.
Poin ketiga, Muhammadiyah selaras dengan pedoman Alquran dan Sunnah serta pemahaman ahlusunnah tidak sepakat terkait pengkultusan kepada sosok ‘Ali bin Abi Thalib Ra dan keturunannya.
“Jadi semua sahabat adalah orang-orang yang mulia, kedudukannya sama, di ilmu hadis, ada kaidah as sahabatu kuluhum ‘udl,” terang Syamsul. Makna dari kaidah terseubt, bahwa sahabat memiliki akidah dan pandangan yang benar, sikap adil sehingga hadis yang mereka riwayatkan dapat diterima.
Poin keempat, terkait standar validitas hadis. Muhammadiyah menurutnya tidak sepakat dengan pandangan sempit kelompok Syi’ah bahwa hadis yang makbul (dapat diterima) adalah yang berasal dari ahlu bait saja.
“Jadi ini empat standar yang dijadikan Muhammadiyah dan ini pandangan resmi karena sudah dijadikan panduan, rujukan dalam fatwa Tarjih Muhammadiyah. Jadi dengan begitu, Muhammadiyah jelas tidak sejalan bahkan bertentangan dengan akidah dan pemahaman Syi’ah terutama Syi’ah Rafidhah dan Syi’ah Ghulat,” tegasnya.
Meski Tidak Sepaham, Muhammadiyah Tetap Membuka Pintu Dialog dan Mu’amalah
Selanjutnya, Syamsul Anwar mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak serta merta bersikap zalim dan menutup pintu terhadap kelompok Syi’ah.
Menurutnya, Muktamar ke-47 di Makassar tahun 2015 telah memberikan rekomendasi agar Muhammadiyah membuka dialog bagi kelompok Sunni dan Syi’i.
“Dialog ini penting, tapi ada persyaratan yang harus dipenuhi. Dalam rekomendasi Muktamar itu, syaratnya semua pihak dalam dialog itu punya pemahaman yang sama, sikap yang sama dalam menyikapi kemuliaan para sahabat Nabi Muhammad Saw. Jadi seluruh sahabat Nabi adalah orang-orang yang mulia yang jadi penerus perjuangan Rasulullah Saw. Tidak mengkultuskan sahabat tertentu dengan menghinakan bahkan mencemooh sahabat yang lain seperti Aisyah dan yang lainnya,” tegas Syamsul. (afn)
The post Pandangan Resmi Muhammadiyah Terhadap Syi’ah appeared first on Muhammadiyah.









