• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Kamis, Mei 14, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu
    SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

    SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

    Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

    Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

    Lazismu Kupas Tuntas Pengalihan DAM Haji ke Tanah Air, Solusi Atasi Ketimpangan Distribusi Daging Kurban

    Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

    Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

    PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

    PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

    Trending Tags

    • Kabar PTMA
      SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

      SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

      Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

      Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

      Lazismu Kupas Tuntas Pengalihan DAM Haji ke Tanah Air, Solusi Atasi Ketimpangan Distribusi Daging Kurban

      Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

      Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

      PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

      PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

        Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

        Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

        Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

        Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

        Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu
          SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

          SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

          Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

          Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

          Lazismu Kupas Tuntas Pengalihan DAM Haji ke Tanah Air, Solusi Atasi Ketimpangan Distribusi Daging Kurban

          Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

          Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

          PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

          PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

          Trending Tags

          • Kabar PTMA
            SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

            SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

            Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

            Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

            Lazismu Kupas Tuntas Pengalihan DAM Haji ke Tanah Air, Solusi Atasi Ketimpangan Distribusi Daging Kurban

            Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

            Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi

            PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

            PWM Sumut Tancap Gas: Tim SatuMu Dampingi 4 PDM Sekaligus, Sukseskan Program PP Muhammadiyah

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Mengalihkan Penyembelihan Dam ke Tanah Air, Bagaimana Hukumnya?

              Qiyamul Lail 4 Rakaat, Apakah Pakai Tahiyat Awal?

              Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

              Shalat Dhuha Secara Berjamaah, Apakah Dituntunkan?

              Lafal Takbir Hari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

              Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1 Kali atau 2 Kali, dan Haruskah Diawali Takbir?

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Perspektif Profetik Ekologi dan Strategi Aksi

              by
              24/09/2022
              in BeritaMu
              0
              Perspektif Profetik Ekologi dan Strategi Aksi
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              muhammadiyah.or.id –

              Perspektif Profetik Ekologi dan Strategi Aksi

              WartaTerkait

              SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

              Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

              Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

              Lazismu Kupas Tuntas Pengalihan DAM Haji ke Tanah Air, Solusi Atasi Ketimpangan Distribusi Daging Kurban

              Oleh: Dr. Achyani, M.Si, Dosen S2 Pendidikan Biologi UM Metro

              Ekoprofetik

              Dengan etika dan ahlak, manusia akan memerankan dirinya sebagai seorang khalifah di muka bumi untuk menjaga dan melindungi alam semesta dan segala isinya (QS 2: 30), bukan seorang eksploitator rakus yang menganggap alam dan seluruh isinya sekedar bernilai instrumental-ekonomis bagi kepentingan manusia. Di bumi, manusia memang didapuk sebagai khalifah tetapi bukan berarti yang paling kuat. Justru posisi manusia di bumi merupakan salah satu rantai terlemah.

              Manusia sangat tergantung makhluk hidup lain. Misalnya saja, tanpa tumbuhan manusia tidak akan melangsungkan kehidupannya karena manusia sangat tergantung suplai oksigen dari tumbuhan. Selain itu, manusia juga tidak mampu mengolah sendiri sisa metabolisme yang dihasilkan, seperti CO2. Bila dibiarkan menumpuk maka CO2 akan membahayakan kehidupan manusia.

              Hasil penelitian menunjukan tumbuhan (dominn dihutan) dapat menyerap sekitar 5 milyar ton CO2 yang berasal dari aktiftas manusia. Bisa dibayangkan betapa hancurnya bumi ini bila tidak ada tumbuhan. Lebih dari itu semua, bumi ini kondisinya sudah sangat baik ketika manusia belum hadir dibumi. Jadi, sebenarnya manusia yang membutuhkan mereka dan bukan sebaliknya.

              Allah SWT sudah mewanti-wanti kita dalam beberapa ayat Alquran agar manusia tidak merusak alam, khususnya bumi yang dihamparkan untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Bumi ini diciptakan oleh Allah dalam kondisi yang sebaik-baiknya (Jangan lah kamu membuat kerusakan dibumi setelah diciptakan dengan sebaik-baiknya. Itulah yang terbaik bagimu jika kamu orang beriman(QS: Al-A’raf 85).

              Hal senada dikatakan juga dalam surat yang sama ayat 56). Satu kesmpulan ayat yang jelas dari ayat tersebut : orang yang beriman pastilah tidak akan merusak bumi dan segala isi nya karena ingin menghargai ciptaan Allah yang sudah di rancang dengan sebaik – baiknya. Hal ini ditegaskan pula dalam surat Al-Qamar 49 : Sungguh, kami menciptakan segala sesuatu sesuai ukuran.

              Alam terhampar dan berkembang mengikuti logikanya sendiri. Sebuah logika organis yang mengutamakan keseimbangan, keintegralan, keragaman, dan keberlanjutan. Semuanya berlangsung dalam proses rumit namun sangat teratur, terstruktur, terukur, dan tanpa cacat. Sebagaiamana difirmankan Allah SWT dalam al-Quran surat al-Mulk ayat 3-4, yang artinya:

              “….kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihat berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” (QS 67:3). “ Kemudian padanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu tidak menemukan sesuatu yang cacat dan (sampaai) penglihatanmu itupun dalam keadaan lelah (QS 67:5).

              Sedemikian cermatnya Allah menciptakan alam ini sehingga jutaan species yang ada dibumi dapat saling berinteraksi, baik dalam bentuk simbiosis mutualiasme, komensialisme, maupun parasitisme. Tentu saja untuk mendukung bentuk-bentuk interaksi tersebut diperlukan keseimbangan jumlah yang proporsional untuk masing-masing species yang berinteraksi. Semuanya berlangsung secara berkesinambungan selama milyaran tahun sejak semula alam diciptakan. Artinya, alam ini sudah ada dalam bentuk keseimbangannya sebelum manusia ada, sebagaimana dijelaskan oleh al-Qur’an yaitu ketika Allah mengangkat Adam AS sebagai seorang khalifah di bumi.

              Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, ditambah rendahnya kesadaran dan kedisiplinan penduduknya, Indonesia terus mengalami kerusakan ekosistem yang semakin masif. Bahkan, baru-baru ini Indonesia tercatat dalam guinness book of record sebagai negara tercepat kerusakan hutannya. Sebelumnya, Indonesia mendapat predikat sebagai negara tercemar di Asia. Wajar, bila bencana demi bencana ekosistem akan terus terjadi, dari yang berskala kecil atau diangap kecil karena ketidaktahuan kita akan efek jangka panjangnya, sampai bencana yang menimbulkan puluhan bahkan ratusan korban jiwa.

              Setidaknya sudah sepuluh tahun terakhir, tanda-tanda adanya ketidakseimbangan ekosistem pun semakin nyata seperti terjadi banjir dan longsor pada setiap musim hujan dan kekeringan pada setiap musim kemarau; walau hanya hujan sebentar sudah menimbulkan banjir atau kemarau belum mencapai hitungan bulan air tanah sudah mengering. Bencana-bencana tersebut sudah menjadi rutinitas.

              Belum lagi munculnya berbagai penyakit baru di sejumlah tempat seperti flu burung dan cikungunya, dan penyakit lama yang masih terus mewabah seperti Demam Berdarah dengue (DBd), malaria, dan muntaber, seolah menguatkan bahwa kita hidup di ekosistem yang tidak memiliki daya dukung (carrying capacity ) yang memadai lagi. Allah SWT dalam al-Quran al-A’raf sudah mewanti-wanti: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah diciptakan sebaik-sebaiknya”.

              Pandangan Keraf (2010), barangkali dapat menerangkan berbagai fenomena di atas secara mendasar. Menurutnya, bencana demi bencana ekosistem yang kita alami dewasa ini sesungguhnya bersumber pada kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Pada gilirannya kekeliruan cara pandang ini melahirkan perilaku keliru terhadap alam. Manusia keliru memandang alam dan keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta seluruhnya. Dan inilah awal dari semua bencana ekosistem hidup yang kita alami sekarang ini.

              Strategi Aksi

              Berarti, persoalan kerusakan ekosistem saat ini sejatinya adalah persoalan mentalitas dan ahlak manusia. Dalam keadaan demikian perlu pendekatan etika dan moral untuk dikedepankan dan sangat tidak memadai jika diselesaikan menggunakan pendekatan teknis parsial semata. Pembenahannya harus pula menyangkut pembenahan cara pandang, moralitas, dan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam maupun dengan manusia lain. Jalur pendidikan (umum dan ahlak) dan hukum (penegakan hukum lingkungan) adalah pilihan paling logis sebagai jawabannya.

              Jalur pendidikan formal dan agama ditempuh untuk rekayasa sosial (social enginering) dan membangun etika dan ahlak generasi muda kita yang memiliki jangkauan ke depan, sedangkan sangsi hukum bersifat kuratif. Etika dan ahlak berfungsi sebagai pedoman bagaimana manusia seharusnya hidup, dan bertindak sebagai orang yang baik dalam arti bisa menempatkan perannya secara tepat di alam semesta ini. Etika yang mengharmonisasi interaksi antara manusia dengan ekosistem seperti yang dikenal sebagai tradisi yang ramah ekosistem sudah secara baik dipraktikan oleh nenek moyang kita.

              Pengetahuan ekologi yang mendalam dan turun menurun membentuk aturan-aturan adat untuk pelestarian ekosistem hidup seperti tercermin pada pengertian tabu atau sakral sebenarnya sudah ada sejak dulu kala. Pengetahuan dan perilaku penduduk pedalaman yang ramah ekosistem tersebut dikenal sebagai kearifan tradisional atau lokal. Termasuk di dalamnya pelbagai pengetahuan asli (indegenous sciences) yang dimiliki penduduk pedalaman misalnya pengetahuan tentang bermacam-macam obat yang diambil dari alam sekitar.

              Masih banyak penduduk pedalaman yang mempertahankan kearifan tradisional tersebut hingga sekarang. Namun, tidak sedikit pula yang tergiur keuntungan sesaat sehingga kearifan lokal yang meraka miliki secara perlahan mulai luntur dikalahkan oleh kerakusan globalisasi. Penduduk pedalaman yang dulu dengan teguh menjaga kelestarian hutannya, sekarang sebagian dari mereka malah terlibat dalam mengeksploitasi hutannya mengikuti aturan-aturan para cukong kayu yang mengejar keuntungan sesaat. Hal yang sama terjadi di pantai, para nelayan yang dulu berpantang merusak hutan mangrove dan terumbu karang, sekarang sebagian dari mereka tidak lagi mempertahankan tradisinya itu karena lagi-lagi demi kepentingan ekonomi jangka pendek.

              Seharusnya manusia menyadari, atas dasar apa manusia mengklaim dirinya lebih penting daripada makhluk lainnya di alam? Tanpa air dan tanah, tanpa makhluk hidup lain, manusia tidak dapat bertahan hidup karena manusia hanya satu entitas yang bergantung pada makhluk lain di alam semesta ini. Bahkan, boleh dikata manusia merupakan titik lemah dalam rantai makanan di alam. Kenyataan ini dengan mudah dapat kita lihat dengan mengandaikan di bumi ini tidak adan tumbuhan atau hewan. Dari manakah kita mendapatkan oksigen dan makanan? Sebaliknya seandainya tidak ada manusia, makhluk hidup lain tetap dapat melangsungkan kehidupannya, seperti terlihat dari sejarah bumi sebelum ada manusia.

              Sudah saatnya dan sepantasnya kita semua tidak terus menerus mengandalkan penduduk pedalaman untuk menyelamatkan ekosistem hidup sekitar. Kalau mereka bisa mengembangkan kearifan dalam berinteraksi dengan ekosistemnya, mengapa kita yang dibekali pendidikan, teknologi, dan ekonomi yang (mungkin) lebih baik dari mereka tidak bisa mengembangkan gerakan kearifan merawat ekosistem hidup secara lebih baik.

              Dalam kondisi demikian, sudah saatnya revitalisasi etika lingkungan menjadi agenda bersama dan utama sebagai upaya mengatasi percepatan kerusakan ekosistem hidup, khususnya di Indonesia. Suatu etika yang tidak hanya berlaku untuk berinteraksi dengan sesama manusia, tetapi juga interaksi manusia dengan seluruh kehidupan di bumi. Suatu etika yang memandang alam sebagai bernilai pada dirinya sendiri dan pantas diperlakukan secara bermoral.

              Dengan etika dan ahlak, manusia akan memerankan dirinya sebagai seorang khalifah di muka bumi untuk menjaga dan melindungi alam semesta dan segala isinya. Dan bukan seorang eksploitator rakus yang menganggap alam dan seluruh isinya sekedar bernilai instrumental-ekonomis bagi kepentingan manusia. Dengan membangun gerakan bersama seperti itu, budaya ramah ekosistem bisa dimulai, dipertahankan, diajarkan dan diwariskan dari satu orang ke orang lain, dari satu kelompok ke kelompok lain, dari satu generasi ke generasi lain

              Faktor gaya hidup (life style) manusia harus menjadi agenda utama perubahan karena telah terbukti sebagai penyumbang terbesar terhadap kerusakan ekosistem hidup saat ini. Seperti efisiensi bahan-bahan yang berasal atau diekstrasksi dari ekosistem. Kerelaan untuk berkorban (willingness to sacrefice) dengan cara mengurangi kenikmatan dari bahan atau makanan yang kita konsumsi secara signifikan akan membantu menyelamatkan ekosistem. Sebagai contoh, jika singkong dimakan secara direbus saja sudah nikmat mengapa harus digoreng atau dibikin kue yang menggunakan aneka warna dan pewangi yang diekstrak dari alam. Bila satu orang yang melakukan itu tentu saja tidak akan ada dampak apa-apa terhadap ekosistem. Tapi, kalau yang berbuat seperti itu ada ribuan, bahkan jutaan orang, tentu akan sangat banyak bahan yang diekstrasi dari ekosistem sekitar.

              Begitu juga penggunaan bungkus berbahan organik harus menjadi keinginan dan kemauan kita. Penggunaan kantong plastik di pasar-pasar, toko, supermarket perlu segera diganti dengan daun atau kertas. Berdasarkan survei kantung plastik adalah bahan pencemar terbesar di sungai dan tanah. Bagi orang yang berkecukupan dan pejabat harus rela mengurangi penggunaan AC di ruangan dan mobilnya. Bila penggunaannya tidak bisa dihindarkan, gunakan suhu AC yang tidak terlalu rendah karena semakin rendah stelen suhu AC maka akan semakin banyak panas yang dibuang ke ekosistem dan berkontribusi besar tehadap pemanasan global yang saat ini semakin nyata kita rasakan dampaknya. Termasuk asesoris pakaian, mobil, dan rumah yang berasal dari bahan alam untuk tujuan eksklusifitas penampilan hendaknya dihindari.

              Etika dan ahlak memang diperlukan manusia. Manusia tanpa etika dan ahlak bukanlah manusia. Tetapi dari segi praktis, etika sering kali kurang kuat sebagai driving factor bagi manusia untuk melestarikan ekosistem hidup. Dalam kondisi demikian etika harus disertai pertimbangan yang langsung mengenai kepentingan praktis manusia. Misalnya, kerusakan hutan akan menyebabkan banjir, lubang ozon akan menyebabkan jumlah orang buta bertambah karena katarak dan kanker kulit, pemanasan global dapat menenggelamkan desa dan kota yang dekat dengan pantai, timbal yang berasal dari buangan kendaraan bermotor akan menurunkan IQ dan menyebabkan impotensi. Semuanya itu membuat manusia menderita.

              Agenda seting penyelamatan ekosistem perlu diperlebar jangkauannya. Gerakan penyelamatan ekosistem hidup perlu mentransformasikan dirinya menjadi gerakan sosial dan politik yang melibatkan seluruh komponen masyarakat seperti buruh, petani, nelayan, guru, kaum profesional, pemuda, remaja, anak-anak, kaum perempuan, dan politisi.

              Sensitivitas para politisi di negeri ini terhadap isu-isu ekosistem pun perlu ditingkatkan dan sudah saatnya mereka menempatkan kepentingan ekosistem hidup pada posisi tawar tinggi. Karena, di dalam ekosistem hidup terdapat hak-hak dasar (basic rights) manusia dan prinsip keadilan ekosistem serta akses yang setara terhadap sumber-sumber kehidupan.

              Pada kasus-kasus pembebasan tanah masyarakat untuk Hutan Tanaman Industri, khususnya di Provisi Lampung misalnya, rakyat yang terkena dampak kegiatan proyek tersebut seharusnya tidak mengalami nasib yang mengenaskan seperti sekarang bila hak-hak dasar penduduk yang telah tercerabut sedemikian rupa mendapatkan kompensasi yang sepadan (environmental justice) setelah memperhitungkan kerugian dari segala aspek dan tidak dikalahkan oleh pertimbangan profit perusahaan. Hal yang sama berlaku untuk makhluk hidup lain meskipun berbeda dalam implementasinya.

              Bila saja para calon pemimpin, baik di level nasional maupun daerah, memiliki tingkat melek ekosistem (environmental literacy) yang memadai maka kita layak berharap bahwa mereka akan berani mengangkat isu-isu ekosistem sebagai materi kampanyenya pada pemilihan capres atau pilkada. Sekedar contoh, di wilayah pantai di Indonesia ada masalah abrasi pantai yang semakin jauh ke daratan, pembalakan liar, pengamanan keberlanjutan ketersediaan summber air untuk dikonsumsi maupun irigasi untuk jangka panjang, serta masalah kepadatan penduduk.

              Kita juga berharap banyak kepada anggota legislatif agar lebih peduli dengan isu-isu ekosistem. Jika bisa, jadilah politisi hijau. Alangkah idealnya jika semua fraksi dan partai memiliki visi dan program ekosistem hidup yang kontekstual tentang daerahnya dan semua anggota pengurus melek masalah ekosistem hidup sehingga mampu mengangkat politik ekosistem secara khusus dalam forum resmi maupun tidak resmi.

              Tidak kalah pentingnya adalah upaya memperkuat lembaga atau LSM yang peduli isu-isu ekosistem di daerah yang berfungsi sebagai local environment watch untuk memantau, mengingatkan secara kritis-korektif dan memberikan masukan sebagai second opinion untuk gubernur, bupati, wali kota, dan legislatif terkait visi dan agenda penyelematan ekosistem di daerahnya. Melalui itu semua, semoga terbangun kesadaran kolektif bahwa kita melestarikan ekosistem karena kita yang membutuhkan jasa ekosistem dan bukan sebaliknya. Bila ekosistem hidup luka, kita juga yang sengsara.

              –Read Moremuhammadiyah.or.id

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Mereduksi Cyberbullying di Kalangan Pelajar Muhammadiyah

              Next Post

              Mahasiswa UMS Ciptakan Buku Ajar Tematik PAUD ‘Happy Thinking’

              InfoLain

              SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU
              BeritaMu

              SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

              14/05/2026
              BeritaMu

              Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

              14/05/2026
              BeritaMu

              Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

              14/05/2026
              Next Post
              World Peace Forum Akan Jadi Side Event Pada Muktamar ke 48 Mendatang

              World Peace Forum Akan Jadi Side Event Pada Muktamar ke 48 Mendatang

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                Gebrakan Baru! Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan 10 Program Unggulan di Tanwir II

                05/09/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0
                SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

                SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

                14/05/2026

                Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

                14/05/2026

                Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

                14/05/2026

                Lazismu Kupas Tuntas Pengalihan DAM Haji ke Tanah Air, Solusi Atasi Ketimpangan Distribusi Daging Kurban

                14/05/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (28,086)
                • Hukum Islam (1,416)
                • Kabar PTMA (3,665)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

                SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh Berkunjung ke OIF UMSU

                14/05/2026

                Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban

                14/05/2026

                Dra. Jamila MPd, Ketua LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Berpulang

                14/05/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In