Archetype (an-Nuskhah al-Umm) dalam Manuskrip Astronomi
Oleh : Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar – Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Manuskrip merupakan salah satu warisan intelektual paling penting dalam sejarah peradaban manusia, termasuk dalam tradisi keilmuan Islam. Melalui manuskrip, gagasan, teori, observasi, dan penemuan para ulama serta ilmuwan masa lalu dapat diketahui dan dipelajari. Dalam bidang astronomi, banyak karya penting diwariskan dalam bentuk naskah tulisan tangan yang tersebar di berbagai tempat di dunia. Namun, keberadaan banyak salinan dari satu karya sering memunculkan perbedaan teks akibat proses penyalinan. Karena itu kajian filologi menjadi sangat penting untuk menelusuri naskah induk (archetype) demi menghadirkan teks yang paling otentik dan ilmiah.
Dalam filologi, Archetype adalah naskah induk atau teks tertua yang ditetapkan seorang filolog menjadi sumber utama dari sejumlah salinan naskah yang ada. Dalam bahasa Arab, Archetype disebut dalam beberapa istilah antara lain “an-nuskhah al-umm” (naskah induk), lalu “al-ashl al-musytarak” (naskah bersama), atau disebut juga dengan “al-ash” (asal, naskah dasar). Patut dicatat, Archetype tidak selalu merupakan naskah asli yang ditulis langsung oleh pengarang (mu’allif), tetapi bisa merupakan salinan tertua yang menjadi asal-usul dari seluruh tradisi penyalinan berikutnya. Archetype memiliki urgensi diantaranya menjaga otentisitas teks, melacak sejarah transmisi intelektual, serta menentukan validitas ilmiah sebuah edisi tahqiq.
Ketika seorang filolog meneliti beberapa salinan naskah dari satu karya (satu judul), dalam praktiknya kerap ditemukan banyak perbedaan teks, atau ada kata yang hilang, ada banyak tambahan kalimat, ada perubahan ejaan, atau kesalahan penyalinan. Melalui proses kolasi (membandingkan naskah, muqabalah an-nusakh), analisis varian teks, dan rekonstruksi genealogis (stemma codicum), seorang filolog berusaha menelusuri bentuk teks yang paling awal. Teks atau naskah yang paling awal inilah yang disebut “archetype” (an-nuskhah al-umm, al-ashl al-musytarak).
Sebagai contoh, jika ada lima manuskrip dari satu kitab falak klasik, dan semua manuskrip memiliki kesalahan yang sama pada bagian tertentu, filolog dapat menyimpulkan bahwa kesalahan itu sudah ada pada naskah sumber sebelumnya. Dari analisis seperti itu, hubungan antar naskah dapat direkonstruksi hingga ditemukan naskah leluhur atau archetype.
Dalam tradisi tahqiq Arab, archetype biasanya diungkapkan dengan beberapa istilah, yaitu “an-Nuskhah al-Umm” yaitu naskah induk atau “mother manuscript”, yang merupakan istilah yang paling dekat dengan konsep archetype. Lalu disebut juga “al-Ashl” yaitu asal, teks sumber, atau naskah dasar. Istilah ini sering digunakan dalam tahqiq untuk menyebut sumber utama teks. Lalu “an-Nuskhah al-Ashliyyah” yaitu naskah asli atau naskah sumber asal. Berikutnya adakalanya juga disebut “al-Ashl al-Musytarak” yaitu sumber bersama atau “common ancestor”. Seperti diketahui archetype sering merupakan sumber bersama dari seluruh naskah yang ada.
Di kalangan filolog Arab modern, istilah yang paling sering digunakan untuk makna filologis archetype adalah “an-Nuskhah al-Umm”. Dalam konteks tahqiq manuskrip astronomi, an-Nuskhah al-Umm lebih mudah dan lebih lazim dipahami sebagai “naskah induk”.
Menentukan Archetype (naskah induk) dilakukan melalui analisis hubungan teks antar manuskrip yaitu berdsasarkan rekonstruksi bukti tekstual dari berbagai salinan yang ada. Adapun langkah-langkah menentukan naskah archetype sebagai berikut: pertama, Mengumpulkan Seluruh Manuskrip (Jam‘ an-Nusakh). Tujuannya adalah mengetahui jumlah versi teks (naskah), mengetahui variasi bacaan, dan melacak jalur transmisi teks. Kedua, Deskripsi Kodikologis (Wasf an-Nusakh), yaitu pada jenis kertas, tinta, bentuk tulisan, jumlah halaman, nama penyalin, tahun penyalinan, tempat penyalinan, dan lain-lain. Deskripsi ini membantu menentukan usia sebuah naskah.
Ketiga, Kolasi Teks (Muqabalah), yaitu membandingkan kata demi kata, kalimat demi kalimat gunan menemukan kata yang hilang, tambahan teks, perubahan urutan, kesalahan penyalinan, dan lain-lain. Keempat, Mengidentifikasi Shared Errors (Kesalahan Bersama). Ini terhitung tahap paling penting dalam Archetype. Dua naskah atau lebih manakala memiliki kesalahan yang sama maka diduga kuat ia berasal dari sumber yang sama. Dalam konteks filologi, kesalahan bersama menunjukkan hubungan genealogis teks. Kelima, Menyusun Stemma Codicum (Syajarat al-Makhtutat, Nasab an-Nusakh). Setelah hubungan antar naskah ditemukan, selanjutnya dibuat “pohon keluarga naskah”.
Contohnya sebagai berikut,

Dalam diagram ini naskah A dan naskah B berasal dari cabang X, lalu naskah C dan naskah D berasal dari cabang Y, dan semuanya berasal dari satu sumber (induk). Keenam, Rekonstruksi Teks Induk. Setelah pola hubungan diketahui, selanjutnya filolog merekonstruksi bentuk teks yang paling awal dan paling mungkin menjadi sumber semua salinan. Inilah yang disebut dengan Archetype (Ashl al-Musytarak, an-Nuskhah al-Umm).
Sebagai misal naskah “Ghunyah al-Fahim wa ath-Thariq Ila Hall at-Taqwim” (Tujuan Pemahaman Tentang Metode Analisis Penanggalan) karya Ahmad bin Rajab al-Majdy (w. 850 H/1447 M), yaitu sebuah naskah yang membahas tentang aneka penanggalan pra Islam dan di era Islam, juga pembahasan tentang data-data dan posisi-posisi bintang-bintang dan atau planet-planet. Beberapa salinan naskah ini antara lain terdapat di Perpustakaan Nasional (al-Maktabah al-Wathaniyah) Paris (Prancis), Dar al-Kutub al-Mishriyyah Mesir (1), Dar al-Kutub al-Mishriyyah Mesir (2), dan Perpustakaan Al-Azhar, Mesir. Dari penetapan asal-usul, pelacakan akar, autentikasi, dan penelusuran genealogi teks (thuruq ta’shil an-nusakh) diketahui bahwa empat naskah ini tidak berasal dari jalur (rumpun) yang sama, artinya tiap-tiap naskah berdiri sendiri. Karena itu pula penentuan naskah suntingan (nuskhah al-umm) dilakukan dengan penentuan usia naskah dan kejelasan teks. Dalam hal ini, sesuai tahqiq yang dilakukan peneliti naskah (filolog, muhaqqiq) ini ditetapkan naskah Perpustakaan Nasional (al-Maktabah al-Wathaniyah) Paris, Prancis, sebagai naskah suntingan (nuskakh al-mu’tamidah).

Lembar judul naskah “Ghunyah al-Fahim wa ath-Thariq Ila Hall at-Taqwim” karya Ahmad bin Rajab al-Majdy (w. 850 H/1447 M). Sumber : Dar al-Kutub al-Mishriyyah Mesir (1)

Lembar judul naskah “Ghunyah al-Fahim wa ath-Thariq Ila Hall at-Taqwim” karya Ahmad bin Rajab al-Majdy (w. 850 H/1447 M). Sumber : Perpustakaan Al-Azhar Mesir
Dengan demikian dapat dipahami bahwa Archetype atau naskah induk merupakan salah satu konsep sentral dalam kajian filologi dan tahqiq manuskrip. Archetype bukan sekadar naskah tertua yang ditemukan secara fisik, tetapi merupakan teks leluhur yang berhasil direkonstruksi melalui penelitian ilmiah atas berbagai salinan manuskrip. Dalam tradisi filologi Arab, konsep ini dikenal dengan beberapa istilah seperti an-Nuskhah al-Umm, al-Ashl, atau al-Ashl al-Musytarak, yang semuanya merujuk pada sumber tekstual yang menjadi asal-usul transmisi sebuah karya.
Penentuan archetype memerlukan langkah, dimulai dari pengumpulan manuskrip, deskripsi kodikologis, kolasi teks, identifikasi kesalahan bersama, penyusunan stemma codicum, hingga rekonstruksi bentuk teks yang paling awal. Melalui tahapan ini, seorang filolog tidak hanya berupaya menghadirkan teks yang paling dekat dengan maksud pengarang, tetapi juga menelusuri sejarah perjalanan intelektual sebuah karya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam konteks manuskrip astronomi Islam, penetapan an-Nuskhah al-Umm (archetype) memiliki arti penting karena membantu mengungkap otentisitas teks, perkembangan tradisi keilmuan, serta jalur penyebaran ilmu falak (astronomi) di dunia Islam dan Nusantara. Dengan demikian, studi archetype tidak hanya bersifat teknis-filologis, tetapi juga menjadi jalur penting untuk memahami sejarah ilmu pengetahuan dan warisan intelektual Islam secara lebih mendalam. Wallahu a’lam[]








