Muhammadiyah: Memperkuat Persaudaraan, Transparansi, dan Green Organization
(Dari Risalah Islam Berkemajuan Menuju Risalah Kesemestaan Meneguhkan Arah Gerakan Menuju Muktamar ke-49)
Oleh : Jufri
Muhammadiyah bukan sekadar organisasi yang memiliki sejarah panjang, struktur kepemimpinan, amal usaha, dan warga Persyarikatan yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Lebih dari itu, Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang kekuatannya terletak pada nilai perjuangan, persaudaraan, kepercayaan, dan kesediaan untuk terus berkhidmat.
Menjelang Muktamar ke-49 tahun 2027, ada sejumlah hal penting yang patut menjadi perhatian bersama. Bukan hanya bagaimana Muhammadiyah memperbesar amal usaha atau memperluas pengaruhnya, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas persaudaraan, membangun transparansi, memperkuat tata kelola, dan mengembangkan organisasi yang semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Pertama, memperkuat persaudaraan.
Muhammadiyah memiliki kekuatan besar karena dibangun di atas semangat Persyarikatan. Tidak ada seorang pun yang memiliki Muhammadiyah secara pribadi. Ketua, sekretaris, bendahara, maupun anggota pimpinan pada berbagai tingkatan hanyalah orang-orang yang mendapatkan amanah untuk menjalankan tugas organisasi.
Karena itu, perbedaan pandangan, pilihan, dan dinamika dalam organisasi semestinya tidak merusak persaudaraan. Kompetisi dalam kepemimpinan harus tetap berada dalam koridor akhlak, adab, dan semangat saling menghormati.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Kita boleh memiliki gagasan yang berbeda, tetapi jangan sampai menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Muhammadiyah membutuhkan kader-kader yang kuat pemikiran dan luas pergaulannya, tetapi juga lapang hatinya. Sebab, organisasi tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga orang-orang yang mampu menjaga kebersamaan.
Kedua, amal usaha adalah milik Persyarikatan.
Salah satu hal yang perlu terus ditegaskan adalah bahwa amal usaha Muhammadiyah merupakan milik Persyarikatan, bukan milik pribadi, kelompok, atau individu yang sedang mendapatkan amanah untuk mengelolanya.
Siapa pun yang diberi amanah mengelola sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, maupun amal usaha lainnya harus menyadari bahwa dirinya sedang menjalankan tanggung jawab organisasi.
Kita boleh menjadi pengelola, tetapi bukan pemilik. Kita boleh mendapatkan amanah kepemimpinan, tetapi Muhammadiyah bukan milik kita.
Karena itu, pengelolaan amal usaha harus mengedepankan profesionalitas, transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap aturan Persyarikatan. Kemajuan amal usaha harus memperkuat Muhammadiyah, bukan justru melahirkan pusat-pusat kekuasaan baru di luar mekanisme organisasi.
Semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkannya.
Ketiga, transparansi dan kepercayaan.
Organisasi yang besar membutuhkan tata kelola yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Transparansi bukan berarti semua hal harus diumbar ke ruang publik, melainkan adanya kejelasan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan keuangan, penggunaan aset, serta pelaksanaan program.
Kepercayaan warga Persyarikatan tidak cukup dibangun melalui pidato dan ajakan. Kepercayaan tumbuh ketika warga mengetahui bahwa amanah dikelola dengan baik, keputusan dibuat melalui mekanisme organisasi, dan setiap pimpinan bersedia mempertanggungjawabkan tugasnya.
Transparansi bukan tanda ketidakpercayaan kepada pimpinan. Justru transparansi merupakan bentuk penghormatan terhadap amanah dan upaya menjaga kehormatan organisasi.
Semakin besar Muhammadiyah, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk membangun sistem tata kelola yang profesional, akuntabel, dan berintegritas.
Keempat, Green Organization.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan juga perlu semakin serius membangun organisasi yang ramah lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan.
Green Organization bukan sekadar memperbanyak tanaman, mengurangi penggunaan plastik, atau membuat kegiatan penghijauan. Lebih jauh, ini adalah cara pandang bahwa keberlanjutan lingkungan harus menjadi bagian dari kebijakan, budaya kerja, pendidikan, dan pengelolaan amal usaha Muhammadiyah.
Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, masjid, dan berbagai institusi Muhammadiyah dapat menjadi contoh penerapan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Islam mengajarkan manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan.
Kelima, permusyawaratan bukan sekadar memilih pimpinan.
Muktamar, Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah, Musyawarah Cabang, dan Musyawarah Ranting bukanlah agenda yang semata-mata diselenggarakan untuk memilih pimpinan.
Pemilihan memang bagian penting dari permusyawaratan, tetapi substansi dan tujuannya jauh lebih luas. Permusyawaratan seharusnya menjadi ruang evaluasi, konsolidasi, refleksi, dan proyeksi masa depan Persyarikatan.
Di dalamnya dibicarakan bagaimana dakwah harus dikembangkan, bagaimana kaderisasi diperkuat, bagaimana amal usaha dimajukan, bagaimana aset dijaga, serta bagaimana Muhammadiyah menjawab berbagai tantangan zaman.
Sistem pemilihan melalui formatur juga mengandung pelajaran tentang kedewasaan berorganisasi. Kita tidak sedang membangun pertarungan untuk menentukan siapa yang paling berkuasa, melainkan memberikan amanah kepada kader-kader yang diharapkan mampu bekerja bersama untuk kepentingan Persyarikatan.
Setelah pemilihan selesai, tidak boleh ada yang merasa menjadi pemenang dan tidak boleh ada yang merasa menjadi pecundang. Sebab, yang harus menang adalah Muhammadiyah, bukan kelompok atau kepentingan orang per orang.
Berbeda dalam pilihan, bersatu dalam perjuangan. Inilah semangat persaudaraan yang harus terus dirawat.
Keenam, dari Risalah Islam Berkemajuan menuju Risalah Kesemestaan.
Muhammadiyah memiliki warisan pemikiran dan gerakan yang terus berkembang mengikuti tantangan zaman. Risalah Islam Berkemajuan menjadi salah satu penegasan identitas dan orientasi perjuangan Muhammadiyah. Islam harus hadir sebagai kekuatan yang mencerahkan, membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.
Namun, tantangan masa depan mengajak Muhammadiyah untuk memperluas cakrawala gerakannya. Islam berkemajuan tidak cukup hanya menjadi gagasan yang dibicarakan dalam forum-forum organisasi, tetapi harus semakin nyata manfaatnya bagi kehidupan semesta.
Di sinilah relevansi gagasan Risalah Kesemestaan. Sebuah orientasi gerakan yang menempatkan kemaslahatan manusia, perdamaian, keadilan, ilmu pengetahuan, kemajuan peradaban, serta kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab dakwah.
Muhammadiyah harus mampu membangun persaudaraan lintas batas, mengembangkan pendidikan yang mencerahkan, memperkuat ekonomi masyarakat, menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkeadilan, serta ikut merawat bumi dan kehidupan.
Dengan demikian, dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada kepentingan internal Persyarikatan atau umat Islam semata. Dakwah harus menghadirkan manfaat bagi seluruh umat manusia dan alam semesta.
Inilah tantangan sekaligus peluang Muhammadiyah untuk terus memperluas kontribusi dan pengabdiannya di tengah perubahan dunia.
Meneguhkan Masa Depan Persyarikatan
Muktamar ke-49 harus menjadi momentum memperbarui komitmen dan meneguhkan arah gerakan. Kita ingin Muhammadiyah semakin kuat dalam persaudaraan, semakin transparan dalam tata kelola, semakin profesional dalam mengelola amal usaha, dan semakin bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.
Kebesaran Muhammadiyah tidak hanya diukur dari banyaknya gedung, luasnya amal usaha, atau besarnya jumlah anggota. Kebesaran itu juga terlihat dari kualitas persaudaraan warganya, kejujuran dalam mengelola amanah, serta manfaat yang diberikan bagi kehidupan manusia dan kelestarian alam.
Kita boleh berbeda dalam pemikiran, pilihan, dan cara pandang, tetapi jangan sampai kehilangan kesadaran bahwa kita berada dalam satu rumah besar bernama Muhammadiyah.
Sebab, Muhammadiyah bukan milik orang-orang yang sedang memimpin, melainkan amanah perjuangan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Muktamar tentu saja bukan sekadar tentang siapa yang akan memimpin, tetapi tentang bagaimana Muhammadiyah akan terus bergerak, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi semesta.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







