WARTAPTM.ID, MAKASSAR – Tim peneliti Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) menemukan potensi ekstrak daun kebiul (Caesalpinia bonduc) dalam menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi kerusakan jaringan pankreas pada tikus dengan diabetes.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Pediatric Endocrinology, Diabetes and Metabolism, Volume 31, Nomor 4, tahun 2025. Artikel berjudul “Hypoglycemic Effects of Caesalpinia bonduc (L). Roxb Leaf Extract in Streptozotocin-Induced Diabetic Rats” itu ditulis Ami Febriza bersama Anisah Ainun Zahrah, Nurul Sulfi Andini, dan Fityatun Usman. Penelitian ini melibatkan kolaborasi peneliti dari Unismuh Makassar dan Universitas Hasanuddin.
Ketua tim peneliti, Ami Febriza, menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari upaya mengkaji potensi tanaman yang telah dikenal dalam pengobatan tradisional. Sebelumnya, pemanfaatan kebiul lebih banyak dikaitkan dengan bagian bijinya. Karena itu, tim peneliti memilih bagian daun untuk menguji kandungan senyawa dan aktivitas biologisnya terhadap metabolisme glukosa.
“Penelitian ini berangkat dari keinginan kami menggali potensi tanaman yang selama ini dikenal masyarakat dalam pengobatan tradisional. Kami ingin mengetahui apakah daun kebiul memiliki aktivitas biologis yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah sekaligus melindungi jaringan pankreas,” ujar Ami, Senin (2/11/2026).
Penurunan Gula Darah Teramati dalam Enam Jam
Penelitian menggunakan 25 tikus Wistar jantan yang dibuat mengalami kondisi diabetes melalui pemberian streptozotocin (STZ). Senyawa tersebut digunakan untuk menginduksi kerusakan sel penghasil insulin di pankreas. Hewan coba kemudian dibagi menjadi lima kelompok untuk membandingkan efek perlakuan.
Tiga kelompok mendapat ekstrak daun kebiul dengan dosis 150, 200, dan 400 miligram per kilogram berat badan. Sementara itu, dua kelompok lainnya masing-masing menerima glibenklamid sebagai kontrol positif dan plasebo sebagai pembanding.
Hasil pengujian menunjukkan penurunan kadar glukosa darah pada ketiga kelompok yang memperoleh ekstrak. Pada kelompok dosis 400 miligram per kilogram berat badan, kadar glukosa rata-rata turun dari 336 menjadi 116,20 miligram per desiliter dalam enam jam setelah pemberian perlakuan.
Penurunan juga tercatat pada kelompok dosis 150 miligram, dari 237,40 menjadi 103 miligram per desiliter. Adapun kelompok dosis 200 miligram mengalami penurunan dari 324 menjadi 199,40 miligram per desiliter.
Menurut Ami, hasil tersebut menunjukkan adanya aktivitas penurunan glukosa darah pada ekstrak daun kebiul. Namun, pengamatan setelah 24 jam memperlihatkan kadar glukosa kembali meningkat. Pada kelompok dosis 400 miligram, misalnya, rata-rata kadar glukosa naik menjadi 240,80 miligram per desiliter.
“Pada dosis tertinggi yang kami uji, penurunan kadar glukosa darah terlihat cukup besar. Namun, hasil ini harus dipahami dalam konteks penelitian pada hewan coba, sehingga belum dapat dijadikan dasar penggunaan ekstrak daun kebiul sebagai obat diabetes pada manusia,” jelasnya.
Peneliti Amati Perubahan Jaringan Pankreas
Selain mengukur kadar glukosa darah, tim peneliti mengamati kondisi jaringan pankreas melalui pemeriksaan histopatologi. Hasil pengamatan menunjukkan kelompok tikus yang memperoleh ekstrak, terutama pada dosis lebih tinggi, memiliki gambaran jaringan pankreas yang lebih baik dibandingkan kelompok plasebo.
Perubahan tersebut terlihat dari berkurangnya area nekrosis atau kematian jaringan, peradangan, dan sejumlah tanda kerusakan sel. Temuan ini memberikan petunjuk awal mengenai kemungkinan aktivitas perlindungan jaringan pankreas dari ekstrak daun kebiul.
“Hal yang menarik dari penelitian ini bukan hanya penurunan kadar gula darah, melainkan juga perubahan gambaran jaringan pankreas. Temuan tersebut memberi petunjuk awal bahwa ekstrak daun kebiul mungkin memiliki efek perlindungan terhadap kerusakan jaringan akibat kondisi diabetes,” ungkap Ami.
Dalam pemeriksaan fitokimia, peneliti mengidentifikasi beberapa kelompok senyawa dalam ekstrak, antara lain flavonoid, tanin, dan saponin. Flavonoid diduga berkontribusi terhadap aktivitas biologis ekstrak, termasuk melalui sifat antioksidannya. Meski demikian, mekanisme kerja senyawa-senyawa tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Ami menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut masih berada pada tahap praklinis. Dengan demikian, temuan pada tikus belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa ekstrak daun kebiul aman dan efektif sebagai terapi diabetes bagi manusia.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif, menguji keamanan, menentukan dosis yang tepat, serta memahami mekanisme kerja ekstrak. Pengujian juga perlu mencakup kemungkinan interaksi dengan obat diabetes yang telah digunakan dalam pelayanan kesehatan.
“Kami berharap penelitian ini menjadi langkah awal bagi pengembangan bahan alam lokal di bidang kesehatan. Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam, termasuk pengujian keamanan dan efektivitas, sebelum ekstrak daun kebiul dapat dipertimbangkan untuk penggunaan klinis,” kata Ami.
The post Riset Dosen Kedokteran Unismuh Makassar Ungkap Potensi Daun Kebiul untuk Menurunkan Gula Darah appeared first on Warta PTM.



