Selamat Jalan, Ustadz Azar Aswadi: Senyum Ramah dan Aura Keulamaan yang Menyejukkan
Oleh: Jufri
Saya termasuk agak sering berjumpa dengan beliau, tetapi rasanya belum pernah bercerita panjang lebar. Mungkin karena sebelumnya kami tidak pernah bersentuhan langsung dalam aktivitas organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah. Namun, setiap kali berjumpa, keramahan dan senyumnya selalu tampak menyejukkan.
Seingat saya, beliau termasuk sering hadir dalam beberapa acara yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara maupun Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Dalam berbagai kesempatan itulah kami beberapa kali berjumpa dan saling menyapa, meskipun tidak sampai berbincang panjang lebar.
Meski tidak begitu akrab, sesekali ketika berjumpa saya pernah juga mencandai beliau. Senyum ramahnya tetap tenang. Ada kesan teduh dan bersahaja, bahkan tampak aura keulamaan di wajahnya.
Pagi ini, ketika membaca berita di beberapa grup WhatsApp dan media sosial, saya mendapat kabar bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah.
Salah satu kabar duka itu datang dari Lazismu Sumatera Utara yang menyampaikan ucapan belasungkawa atas berpulangnya Ustadz Azar Aswadi, M.A., Ketua Dewan Pengawas Lazismu Langkat.
Untuk memastikan kabar tersebut, saya pun menghubungi Ustadz Sukri Karnedi, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Langkat. Saat saya menghubungi beliau, Ustadz Sukri sedang dalam perjalanan untuk bertakziah. Saya sekaligus menanyakan kebenaran berita duka yang mulai beredar di berbagai grup WhatsApp dan media sosial.
Dari Ustadz Sukri Karnedi, saya mendapatkan kepastian bahwa Ustadz Azar Aswadi memang telah meninggal dunia.
Dari beliau, saya juga mendapatkan keterangan tambahan bahwa almarhum merupakan pegawai Kementerian Agama Kabupaten Langkat. Menurut informasi yang disampaikan Ustadz Sukri, masa tugas beliau masih sekitar tiga tahun lagi.
Keterangan itu membuat saya kembali merenung. Ternyata, masih ada waktu pengabdian yang tersisa, masih ada masa tugas yang semestinya dapat dijalani, dan mungkin masih banyak rencana yang ingin diwujudkan. Namun, kehidupan manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan perkiraan dan perencanaan kita.
Kematian memang tidak mengenal usia. Muda ataupun tua, masih aktif bekerja ataupun telah memasuki masa pensiun, setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan-Nya.
Kita sering menghitung sisa masa kerja, menyusun rencana masa depan, dan membayangkan berbagai hal yang ingin dicapai. Semua itu tentu baik sebagai bagian dari ikhtiar menjalani kehidupan. Namun, kita juga harus menyadari bahwa tidak seorang pun mengetahui batas akhir usianya sendiri.
Pada akhirnya, kita semua akan kembali juga pada waktunya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Ustadz Azar Aswadi juga merupakan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Langkat. Sebuah amanah dalam persyarikatan yang memiliki tanggung jawab penting, khususnya dalam bidang pemahaman dan pengamalan ajaran Islam sesuai dengan manhaj Muhammadiyah.
Dalam ingatan saya, almarhum merupakan pribadi yang ramah dan bersahabat. Tidak banyak bicara, tetapi tetap memperlihatkan keramahan dan sikap yang menyenangkan. Ada ketenangan dalam pembawaannya, seolah tidak perlu banyak kata untuk menunjukkan kehangatan dalam sebuah perjumpaan.
Ada rasa kehilangan, meskipun hubungan kami tidak begitu dekat secara pribadi. Sebab, terkadang seseorang tidak harus sering berbincang panjang untuk meninggalkan kesan baik dalam ingatan orang lain. Ada orang yang cukup dikenang melalui keramahan, keteduhan wajah, dan senyum tulus setiap kali berjumpa.
Begitulah kesan saya terhadap almarhum.
Kepergian beliau kembali mengingatkan kita bahwa usia manusia memiliki batas, sedangkan kebaikan dan keteladanan dapat terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Dalam kehidupan bermuhammadiyah, kita dipertemukan dengan begitu banyak orang. Ada yang menjadi sahabat dekat, teman seperjuangan, guru, atau sekadar kenalan yang sesekali berjumpa dalam berbagai kegiatan persyarikatan. Namun, semuanya dapat meninggalkan kesan dan pelajaran tersendiri.
Barangkali itulah salah satu makna persaudaraan dalam Muhammadiyah. Kita tidak harus selalu bersama, tidak harus berada dalam struktur organisasi yang sama, bahkan tidak harus sering berbincang. Namun, rasa persaudaraan dan penghormatan tetap terpelihara.
Dalam sebuah gerakan dakwah seperti Muhammadiyah, setiap orang memiliki jalan dan ruang pengabdian masing-masing. Ada yang mengabdikan diri melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan umat, maupun aktivitas dakwah lainnya.
Tidak semua pengabdian harus terlihat besar dan dikenal banyak orang. Terkadang, keramahan, ketulusan, dan akhlak yang baik justru menjadi dakwah yang paling sederhana, tetapi membekas dalam ingatan.
Saya pun kembali merenung. Betapa sering kita berjumpa dengan seseorang, saling menyapa dan tersenyum, tetapi tidak pernah menyangka bahwa suatu ketika perjumpaan itu menjadi kenangan terakhir.
Kita sering merasa masih memiliki banyak kesempatan untuk berbincang, bersilaturahmi, atau sekadar duduk bersama. Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan kesempatan itu berakhir.
Kematian bukan sekadar kabar duka tentang seseorang yang telah pergi. Ia juga merupakan pengingat bagi kita yang masih hidup agar tidak terlena oleh waktu, jabatan, pekerjaan, dan berbagai urusan dunia.
Selama masih diberi kesempatan, mari terus berbuat baik, memperkuat silaturahmi, menunaikan amanah, dan memberikan manfaat bagi sesama. Sebab, kita tidak pernah tahu berapa lama lagi kesempatan itu akan menjadi milik kita.
Sudah sejauh mana kita menghadirkan manfaat bagi orang lain? Sudahkah kehadiran kita memberikan keteduhan, atau justru sebaliknya?
Pertanyaan sederhana yang tentu saja pertama-tama saya tujukan kepada diri sendiri.
Selamat jalan, Ustadz Azar Aswadi, M.A.
Ustadz adalah orang baik. Semoga segala kebaikan, pengabdian, dan amal ibadah Ustadz menjadi pahala di sisi Allah SWT.
Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kekhilafan almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik, Jannatul Firdaus.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.
Selamat jalan, Ustadz. Senyum ramah dan wajah teduh itu akan tetap menjadi kenangan.
Kita yang masih diberi kesempatan hidup pada akhirnya juga akan menyusul. Entah kapan dan di mana, semuanya menjadi rahasia Allah. Semoga ketika waktu itu tiba, kita telah membawa bekal amal kebaikan yang cukup untuk menghadap-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



