Merawat Hati dalam Perjuangan
Belajar dari Sumur Nabi Yusuf
(Tulisan ke-79 dari Beberapa Artikel Terkait Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Ada luka yang tidak datang dari lawan, tetapi justru dari orang-orang yang berjalan bersama kita. Ada kekecewaan yang terasa begitu dalam bukan karena dilakukan orang asing, melainkan karena datang dari mereka yang pernah kita percaya, kita bela, dan kita anggap sebagai saudara seperjuangan.
Dalam kehidupan organisasi, luka semacam ini bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Di balik rapat, pengajian, perkaderan, dan seruan persaudaraan, terkadang terselip rasa iri, persaingan yang tidak sehat, dan keinginan untuk menyingkirkan orang lain demi memperoleh tempat yang lebih tinggi.
Kita mungkin pernah menyaksikan seorang kader yang dahulu dirangkul, tetapi kemudian dijauhkan ketika dianggap menjadi pesaing. Ada yang dahulu dipuji, lalu dicari-cari kesalahannya ketika memperoleh kepercayaan. Ada pula yang bertahun-tahun berjuang bersama, tetapi hubungan persaudaraannya retak hanya karena perbedaan kepentingan.
Pertanyaannya, jika kader saling melukai, apa yang sebenarnya sedang kita kaderkan?
Belajar dari Sumur Nabi Yusuf
Al-Qur’an menghadirkan kisah yang begitu menyentuh tentang Nabi Yusuf a.s. Saudara-saudaranya merasa bahwa Yusuf dan Bunyamin lebih dicintai oleh ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. Perasaan itu tumbuh menjadi kecemburuan, lalu berubah menjadi rencana untuk menyingkirkan Yusuf.
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu…” (QS. Yusuf [12]: 9).
Bayangkan, Yusuf tidak dijatuhkan oleh orang asing. Ia dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri. Orang-orang yang tumbuh dalam keluarga yang sama justru menjadi bagian dari ujian paling berat dalam hidupnya.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang kecemburuan keluarga. Ia adalah cermin tentang betapa berbahayanya iri hati ketika dibiarkan menguasai jiwa. Kedekatan tidak selalu menjamin ketulusan. Kebersamaan tidak otomatis melahirkan persaudaraan. Bahkan, orang-orang yang berada dalam satu barisan pun dapat saling menjatuhkan ketika hati kehilangan kejernihan.
Dalam organisasi, sumur itu tidak selalu berupa lubang di tanah. Ia bisa berupa fitnah, pengucilan, pembunuhan karakter, penyebaran prasangka, atau usaha sistematis untuk memadamkan potensi kader lain.
Tubuh kita mungkin berada dalam satu forum, tetapi hati kita saling menjauh. Kita berbicara tentang kemajuan gerakan, tetapi diam-diam tidak rela melihat saudara sendiri berkembang.
Inilah luka yang harus direnungkan dalam kaderisasi Muhammadiyah.
Kaderisasi Bukan Sekadar Melahirkan Pemimpin
Kaderisasi tidak cukup hanya mengajarkan sejarah organisasi, ideologi, kepemimpinan, dan tata kelola persyarikatan. Kaderisasi harus membentuk kedewasaan jiwa. Sebab, kecerdasan tanpa akhlak dapat melahirkan kelicikan, kemampuan memimpin tanpa keikhlasan dapat berubah menjadi ambisi, dan militansi tanpa kerendahan hati dapat menjelma menjadi permusuhan.
KH Ahmad Dahlan meletakkan fondasi gerakan yang menautkan pemahaman agama dengan amal nyata. Semangat pembaruan itu seharusnya menggerakkan kita untuk terus memperbaiki diri, bukan sibuk mencari kekurangan orang lain.
Sementara itu, Buya Ahmad Syafii Maarif berkali-kali mengingatkan pentingnya dimensi moral dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Spirit pemikirannya mengajak kita memahami bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada simbol dan identitas, tetapi harus tampak dalam kejujuran, keberanian moral, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan itu relevan bagi setiap kader: jangan sampai kita fasih berbicara tentang Islam Berkemajuan, tetapi gagal memajukan akhlak kita sendiri.
Kader yang matang bukanlah kader yang selalu menang dalam persaingan. Kader yang matang adalah mereka yang mampu menerima keunggulan orang lain tanpa merasa terancam, berbeda pendapat tanpa membenci, dan kehilangan jabatan tanpa kehilangan kehormatan.
Kita perlu melahirkan kader yang tidak hanya kuat menghadapi lawan, tetapi juga mampu mengendalikan ego ketika berhadapan dengan saudara seperjuangan.
Jangan Jadikan Kaderisasi sebagai Sumur
Ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: apakah proses kaderisasi telah melahirkan persaudaraan, atau justru menjadi ruang untuk menanamkan loyalitas kepada kelompok tertentu?
Jika seorang kader belajar tentang kepemimpinan, tetapi kemudian menggunakan kemampuannya untuk menjatuhkan orang lain, ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Jika seorang kader memahami ideologi, tetapi tidak mampu menjaga lisannya dari fitnah, ada nilai yang belum sungguh-sungguh meresap ke dalam dirinya.
Jangan sampai perkaderan melahirkan orang-orang yang pandai berbicara tentang ukhuwah, tetapi gemar memelihara permusuhan. Jangan sampai organisasi menjadi tempat seseorang tumbuh hanya selama ia dianggap berguna, lalu ditinggalkan ketika tidak lagi dibutuhkan.
Kaderisasi harus menjadi ruang yang aman untuk bertumbuh, bukan sumur tempat seseorang ditenggelamkan karena dianggap mengancam kedudukan orang lain.
Kita memang tidak mungkin menghilangkan seluruh perbedaan dan persaingan. Organisasi membutuhkan kompetisi gagasan, evaluasi, bahkan kritik yang tajam. Namun, semua itu harus berjalan dalam batas akhlak, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Mengkritik bukan berarti membenci. Berbeda bukan berarti bermusuhan. Memberi kesempatan kepada kader lain bukan berarti kehilangan kehormatan.
Justru di situlah kualitas seorang pemimpin diuji.
Ketika Terluka, Jangan Kehilangan Akhlak
Kisah Nabi Yusuf juga mengajarkan bahwa orang yang terluka tidak harus tumbuh menjadi pribadi yang penuh dendam. Setelah melewati perjalanan panjang dan penderitaan yang berat, Yusuf akhirnya bertemu kembali dengan saudara-saudaranya. Ia memiliki kesempatan untuk membalas, tetapi memilih sikap pemaaf.
Al-Qur’an mengabadikan ucapannya: “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni kamu…” (QS. Yusuf [12]: 92).
Tentu, memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman. Persoalan harus tetap diselesaikan, kebenaran harus ditegakkan, dan perilaku yang merusak organisasi perlu diperbaiki. Namun, jangan biarkan luka mengubah kita menjadi orang yang melakukan hal serupa kepada orang lain.
Jika pernah disingkirkan, jangan menjadikan penyingkiran sebagai cara memimpin. Jika pernah difitnah, jangan membalas dengan fitnah. Jika pernah dikecewakan, jangan menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk merusak persaudaraan.
Jangan biarkan sumur yang pernah kita alami menjadi sumur yang kelak kita gali untuk saudara sendiri.
Pada akhirnya, kita tidak hanya akan dikenang karena jabatan yang pernah dipegang, pidato yang pernah disampaikan, atau program yang pernah dijalankan. Kita juga akan dikenang dari cara kita memperlakukan orang-orang yang berjalan bersama kita.
Maka, sebelum bertanya seberapa banyak kader yang telah kita lahirkan, marilah bertanya: sudahkah kita melahirkan kader yang mampu menjaga hati, menghormati sesama, dan berbahagia melihat saudaranya bertumbuh?
Sebab, kaderisasi yang berhasil bukan hanya melahirkan pemimpin yang hebat, melainkan manusia yang tidak tega menghancurkan saudaranya sendiri.
Jangan biarkan kader melukai kader. Jangan biarkan iri hati menenggelamkan potensi. Dan jangan biarkan ambisi mengalahkan persaudaraan.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang berilmu, berintegritas, dan berkemajuan. Kader yang berani memperjuangkan kebenaran, tetapi tetap rendah hati. Kader yang mampu bersaing dalam gagasan, tetapi tidak kehilangan kasih sayang.
Sebab, gerakan sebesar apa pun akan kehilangan ruhnya ketika orang-orang yang berjalan di dalamnya tidak lagi mampu menjaga satu sama lain.
Fastabiqul khairat.
Wallahu a’lam Bish Shawab



