Akademi Jurnalistik Muda Muhammadiyah, Menyemai Kader Dakwah di Era Digital
Oleh: Jufri
Menggembirakan sekali mendapat kabar dan membaca berita tentang antusiasme peserta dalam kegiatan Akademi Jurnalistik Muda Muhammadiyah Sumatera Utara. Akademi yang diikuti oleh para pimpinan dan anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) se-Sumatera Utara ini berjalan lancar dan penuh makna.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumatera Utara itu juga cukup menggelitik rasa ingin tahu. Di tengah kegiatan tersebut, muncul talenta-talenta muda yang penuh energi, progresif, dan memiliki semangat untuk berkembang. Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah dunia digital yang terus bergerak dan berubah dengan sangat cepat.
Dari berita dan tulisan yang saya baca tentang kegiatan ini, muncul optimisme dan harapan terhadap masa depan Islam berkemajuan yang terus tumbuh dan berkelanjutan. Ada keyakinan bahwa Muhammadiyah memiliki generasi penerus yang siap beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa harus kehilangan identitas dan nilai-nilai perjuangannya.
Teringat sebuah ungkapan yang terasa relevan dengan semangat kaderisasi di Muhammadiyah: “Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti.”
Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan sebuah gerakan tidak boleh hanya bergantung pada generasi yang sedang memimpin. Selagi satu generasi masih berjuang, generasi berikutnya harus dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan. Sebelum sebuah kepemimpinan berakhir, harus sudah tumbuh kader-kader baru yang siap meneruskan amanah.
Begitu pula dalam dunia jurnalistik Muhammadiyah. Selagi para senior masih aktif menulis, mengelola media, dan menyebarkan gagasan, kader-kader muda harus mulai belajar, berlatih, dan diberi kesempatan untuk mengambil peran. Bukan untuk menggantikan secara tergesa-gesa, melainkan untuk memastikan bahwa tradisi literasi dan dakwah tidak terputus oleh pergantian generasi.
Melihat antusiasme mereka tentu membawa angin segar bagi perkembangan dunia jurnalistik Muhammadiyah pada masa depan. Ada harapan bahwa dari ruang pelatihan seperti ini akan lahir kader-kader muda yang tidak hanya piawai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menyebarkan gagasan, pengetahuan, dan nilai-nilai kebaikan.
Apalagi, kegiatan ini berlangsung dalam suasana menyongsong Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 yang akan diselenggarakan di Medan, Sumatera Utara, pada November 2027.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah Sumatera Utara ini memiliki tujuan penting, yakni menumbuhkan semangat dan jiwa dakwah melalui jurnalistik. Sebuah ikhtiar yang patut diapresiasi karena dakwah pada zaman ini tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga harus hadir melalui tulisan, berita, foto, video, dan berbagai platform media digital.
Kita menyadari bahwa generasi muda hari ini hidup di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Informasi datang silih berganti, sementara media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, kader Muhammadiyah perlu memiliki kemampuan untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memproduksi dan menyebarkan informasi yang benar, mencerahkan, serta membawa manfaat bagi masyarakat.
Kader Muhammadiyah harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Salah satu jalannya adalah melalui kegiatan jurnalistik yang memberikan ruang bagi kader untuk belajar, berlatih, berkreasi, dan mengembangkan kemampuan komunikasi di tengah perkembangan teknologi digital.
Beradaptasi bukan berarti kehilangan identitas. Justru, kader Muhammadiyah harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Teknologi boleh terus berubah, platform media boleh berganti, tetapi komitmen terhadap kebenaran, kecerdasan, akhlak, dan dakwah yang mencerahkan harus tetap menjadi pegangan.
Jurnalistik bukan sekadar kemampuan menulis berita. Di dalamnya terdapat tanggung jawab terhadap kebenaran, ketelitian dalam memeriksa informasi, keberanian menyampaikan fakta, serta kebijaksanaan dalam menggunakan bahasa. Seorang jurnalis muda Muhammadiyah harus mampu membedakan kritik dan hujatan, fakta dan opini, serta informasi yang mencerdaskan dan informasi yang justru menyesatkan.
Di sinilah pentingnya membangun tradisi literasi di kalangan kader muda Muhammadiyah. Semangat membaca harus berjalan seiring dengan keberanian menulis. Kemampuan berkomunikasi perlu disertai integritas, sedangkan kecakapan menggunakan teknologi harus dibarengi dengan tanggung jawab moral.
Lebih dari itu, Akademi Jurnalistik Muda Muhammadiyah diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan sesaat. Perlu ada keberlanjutan melalui pendampingan, ruang publikasi, komunitas penulis muda, serta kolaborasi antara IPM dan MPI Muhammadiyah di berbagai tingkatan.
Dengan demikian, para peserta tidak hanya pulang membawa sertifikat dan kenangan kegiatan, tetapi juga memiliki bekal keterampilan, jaringan, dan semangat untuk terus berkarya.
Apalagi, kita sedang menyongsong Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 di Sumatera Utara dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Peristiwa besar ini tentu membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk kader-kader muda yang mampu mendokumentasikan perjalanan persyarikatan, menyebarluaskan gagasan, dan memperkenalkan gerakan Muhammadiyah kepada masyarakat luas.
Bayangkan jika dari kegiatan ini lahir jurnalis-jurnalis muda yang kelak menjadi penulis, reporter, pengelola media digital, pembuat konten edukatif, bahkan pemimpin media yang membawa nilai-nilai Islam berkemajuan. Mereka dapat menjadi bagian penting dari upaya mencerdaskan bangsa sekaligus menghadirkan dakwah yang mencerahkan di tengah perubahan zaman.
Tentu saja, talenta muda yang penuh energi dan progresif itu membutuhkan ruang untuk tumbuh. Semangat mereka perlu disambut dengan kepercayaan, kreativitas mereka perlu diberi kesempatan, dan gagasan mereka perlu mendapatkan pendampingan. Jangan sampai kader muda hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi tidak memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi setelah kegiatan berakhir.
Di sinilah peran organisasi menjadi penting. Muhammadiyah tidak cukup hanya mengajak kader muda mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Pada akhirnya, keberhasilan kaderisasi bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan atau jumlah peserta yang hadir. Lebih penting dari itu adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu melahirkan kader yang berilmu, berintegritas, berkemajuan, dan siap melanjutkan perjuangan.
Dari berita dan tulisan tentang Akademi Jurnalistik Muda Muhammadiyah Sumatera Utara ini, saya melihat secercah harapan. Ada semangat yang tumbuh, ada talenta yang mulai terlihat, dan ada peluang untuk membangun tradisi dakwah melalui jurnalistik yang lebih kuat pada masa depan.
Semoga optimisme ini terus terpelihara. Sebab, Islam berkemajuan bukan hanya tentang gagasan besar hari ini, melainkan juga tentang bagaimana kita menyiapkan generasi yang akan menjaga, mengembangkan, dan meneruskannya pada masa depan.
Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti. Bukan sekadar ungkapan, melainkan pengingat bahwa keberlanjutan perjuangan harus dipersiapkan sejak sekarang.
Selamat berkarya, kader muda Muhammadiyah. Teruslah membaca, menulis, memeriksa kebenaran, dan menyebarkan pencerahan. Sebab, melalui tulisan yang baik, gagasan dapat melintasi batas ruang dan waktu, sementara nilai-nilai kebaikan dapat menjangkau lebih banyak manusia.
Dakwah tidak hanya membutuhkan suara yang lantang, tetapi juga tulisan yang mencerahkan dan karya yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan semesta.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




