Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?
Oleh: Jufri
Saya baru saja membaca sebuah postingan di media sosial yang berisi keluhan seorang orang tua tentang perilaku anak-anak zaman sekarang. Sebenarnya, ini bukan keluhan pertama yang saya baca atau dengar. Dalam berbagai kesempatan, saya juga menemukan kegelisahan serupa dari para orang tua yang memiliki anak usia remaja, terutama generasi Z.
Mereka merasa anak-anak sekarang semakin kurang peka terhadap keadaan di sekitarnya, termasuk terhadap kesibukan dan kelelahan orang tuanya sendiri. Pekerjaan rumah seolah bukan lagi bagian dari tanggung jawab bersama. Menyapu, mencuci piring, atau sekadar merapikan kamar sendiri terkadang harus disuruh berkali-kali. Namun, kalau urusan bermain HP, waktunya seperti tidak terbatas.
Lebih menyedihkan lagi, ketika ditegur atau dimarahi, tidak sedikit yang justru membalas dengan nada lebih tinggi. Orang tua yang semula ingin menasihati akhirnya ikut terpancing emosi. Orang tua membentak, anak pun balik membentak. Dalam bahasa sehari-hari, awak yang memarahi, awak pula yang balik dimarahi. Sedih memang.
Ternyata kegelisahan serupa juga muncul di lingkungan sekolah. Tidak sedikit guru yang mengeluhkan perubahan perilaku sebagian peserta didik. Ada yang semakin sulit diarahkan, kurang disiplin, kurang menghargai nasihat, bahkan menunjukkan sikap kurang santun ketika ditegur.
Apalagi ada kesan sekarang guru tidak boleh lagi marah-marah seperti guru zaman dulu. Sedikit keras menegur anak, guru bisa merasa khawatir akan dipersoalkan. Tentu kita tidak sedang merindukan model pendidikan yang penuh bentakan, hukuman fisik, apalagi kekerasan. Zaman memang berubah dan pendekatan pendidikan harus ikut berubah.
Namun, jangan pula perubahan itu membuat guru kehilangan keberanian untuk menegur, mendisiplinkan, dan mengatakan bahwa yang salah tetaplah salah.
Dulu mungkin ada guru yang terlalu keras. Sekarang jangan sampai kita bergerak ke ujung yang lain, ketika guru justru takut kepada murid, bahkan takut kepada orang tua murid.
Padahal, pendidikan karakter membutuhkan kasih sayang sekaligus ketegasan. Anak perlu merasa aman di sekolah, tetapi mereka juga harus memahami batas, aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi.
Persoalannya bukan apakah guru boleh marah atau tidak, melainkan bagaimana ketegasan disampaikan secara mendidik, proporsional, dan tetap menghormati martabat anak.
Demikian pula orang tua. Jangan setiap teguran guru langsung dianggap sebagai bentuk kebencian terhadap anak. Ada kalanya teguran justru lahir karena guru masih peduli.
Akhirnya, di rumah orang tua mengeluh, di sekolah guru pun mengeluh. Lantas, siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab?
Saya kira persoalan ini tidak sesederhana menyalahkan anak-anak generasi Z. Sebab, mereka tumbuh dalam lingkungan sosial dan perkembangan teknologi yang sangat berbeda dengan masa kecil orang tuanya.
Dahulu, anak-anak terbiasa membantu pekerjaan rumah, bukan selalu karena diperintah, melainkan karena melihat langsung kesibukan orang tuanya. Ada yang membantu mencuci piring, menyapu halaman, menjaga adik, bahkan ikut bekerja membantu ekonomi keluarga.
Sekarang situasinya berbeda. Banyak pekerjaan telah dipermudah teknologi. Sementara itu, perhatian anak-anak semakin banyak tersita oleh dunia digital. Mereka bisa berjam-jam berkomunikasi dengan orang yang jauh, tetapi terkadang sulit diajak berbicara oleh orang yang duduk di sebelahnya.
Ironis memang. Teknologi komunikasi semakin canggih, tetapi komunikasi dalam keluarga justru bisa semakin berjarak.
Dalam perspektif pendidikan karakter, keluarga sesungguhnya merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Di sanalah nilai tanggung jawab, disiplin, empati, kemandirian, dan penghormatan terhadap orang lain mulai dibentuk.
Membantu pekerjaan rumah bukan sekadar persoalan menyapu, mencuci piring, atau merapikan tempat tidur. Lebih dari itu, pekerjaan sederhana tersebut merupakan proses pendidikan karakter.
Anak belajar memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan kontribusi. Mereka tidak hanya memiliki hak untuk menikmati fasilitas keluarga, tetapi juga tanggung jawab untuk ikut menjaga kehidupan keluarga.
Namun, kita sebagai orang tua juga perlu melakukan introspeksi.
Terkadang sejak kecil anak terlalu dimanjakan. Semua kebutuhan disediakan, semua pekerjaan diselesaikan orang tua. Dengan alasan kasih sayang, anak tidak diberi kesempatan belajar bertanggung jawab.
Ketika anak beranjak remaja, kita justru marah karena mereka tidak mandiri.
Padahal, kemandirian tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses pembiasaan yang panjang.
Di sinilah pentingnya memahami komunikasi remaja. Masa remaja merupakan fase pencarian identitas, ketika anak mulai membutuhkan pengakuan, kebebasan, dan kesempatan menyampaikan pendapat.
Pendekatan komunikasi yang hanya mengandalkan perintah, larangan, ancaman, apalagi bentakan, sering kali justru melahirkan perlawanan.
Tentu bukan berarti anak dibenarkan membentak atau melawan orang tua. Menghormati orang tua tetap menjadi nilai moral yang tidak boleh hilang. Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa komunikasi bukan hanya persoalan berbicara, melainkan juga kemampuan mendengarkan.
Kadang kita ingin anak mendengarkan nasihat selama satu jam, tetapi kita sendiri tidak sabar mendengarkan cerita mereka selama lima menit.
Kita ingin anak mampu mengendalikan emosi, sementara ketika marah, kita justru memperlihatkan bagaimana emosi sulit dikendalikan.
Anak-anak mungkin tidak selalu mengikuti nasihat kita, tetapi mereka sangat mudah meniru perilaku kita.
Persoalan penggunaan HP juga demikian.
Tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada teknologi. HP hanyalah alat. Melalui perangkat yang sama, anak bisa belajar, mengembangkan kreativitas, membangun jejaring, bahkan memperoleh penghasilan.
Persoalannya terletak pada bagaimana keluarga membangun budaya penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.
Jangan sampai orang tua melarang anak bermain HP ketika makan bersama, sementara orang tuanya sendiri sibuk membaca WhatsApp, menonton video, atau mengikuti perdebatan politik di media sosial.
Anak disuruh berhenti bermain HP, tetapi orang tua sendiri sulit melepaskan HP. Kalau sudah begini, siapa sebenarnya yang harus lebih dahulu belajar disiplin?
Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia berkelanjutan, persoalan ini bahkan memiliki makna yang lebih luas.
Anak-anak hari ini merupakan sumber daya manusia yang kelak akan mengisi dunia pendidikan, dunia kerja, organisasi, masyarakat, dan kepemimpinan bangsa.
Kualitas sumber daya manusia tidak cukup hanya diukur melalui ijazah, prestasi akademik, kemampuan teknologi, atau kecerdasan intelektual.
Diperlukan pula kemampuan mengelola diri, mengendalikan emosi, berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan memiliki kepedulian sosial.
Dalam kajian manajemen sumber daya manusia, pengembangan kompetensi merupakan proses berkelanjutan. Manusia tidak cukup hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga harus dibentuk sikap, keterampilan, dan kemampuannya beradaptasi menghadapi perubahan.
Prinsip tersebut sebenarnya dapat dimulai dari rumah dan diperkuat melalui pendidikan di sekolah.
Anak diberikan tanggung jawab sesuai usianya, dibiasakan menyelesaikan pekerjaan, diajak memahami konsekuensi dari setiap tindakan, serta diberikan apresiasi ketika menunjukkan kemajuan.
Bukan hanya dimarahi ketika melakukan kesalahan, tetapi juga dibimbing agar mampu memperbaikinya.
Di sinilah diperlukan sinergi antara keluarga dan sekolah. Orang tua tidak bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan karakter kepada guru. Sebaliknya, sekolah juga tidak cukup hanya mengejar pencapaian akademik tanpa memperhatikan perkembangan kepribadian peserta didik.
Guru membutuhkan dukungan orang tua, sementara orang tua membutuhkan komunikasi yang baik dengan guru. Keduanya bukan pihak yang saling menyalahkan, melainkan mitra dalam membentuk manusia yang berkualitas.
Bayangkan jika seorang anak kelak menjadi sarjana, profesional, pengusaha, bahkan pemimpin, tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap kesulitan orang lain.
Ia mungkin cerdas secara akademik, tetapi belum tentu matang secara emosional dan sosial.
Bagaimana mungkin kita berharap seseorang mampu memimpin orang lain jika sejak kecil tidak pernah dibiasakan mengelola dirinya sendiri?
Bagaimana mungkin kita berharap lahir pemimpin yang memiliki empati sosial jika terhadap kelelahan orang tuanya sendiri pun ia tidak pernah diajarkan untuk peduli?
Namun, kita juga tidak boleh terjebak dalam anggapan bahwa semua anak generasi Z memiliki persoalan yang sama.
Banyak anak muda hari ini yang justru sangat kreatif, mandiri, memiliki kepedulian sosial, berprestasi, bahkan mampu membantu perekonomian keluarganya sejak usia muda.
Artinya, persoalan ini bukan semata-mata kesalahan sebuah generasi. Ada pengaruh pola pengasuhan, lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi, sistem pendidikan, dan kualitas komunikasi keluarga.
Barangkali yang perlu kita perbaiki bukan hanya perilaku anak-anak, tetapi juga cara kita memahami perubahan zaman.
Orang tua tidak harus kehilangan ketegasan. Namun, ketegasan tidak selalu identik dengan kemarahan. Kasih sayang juga tidak berarti membiarkan anak tumbuh tanpa tanggung jawab.
Kita perlu membangun komunikasi yang terbuka, membiasakan pembagian tugas rumah tangga, membuat kesepakatan penggunaan HP, serta menyediakan waktu untuk benar-benar berbicara dan mendengarkan anak.
Sebab, pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan melalui nasihat. Ia membutuhkan keteladanan dan pembiasaan.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia berkelanjutan, keluarga sesungguhnya merupakan fondasi yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan lainnya.
Sekolah mungkin mampu mengajarkan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi dapat mengembangkan kompetensi profesional. Namun, nilai tanggung jawab, empati, kejujuran, dan penghormatan terhadap sesama seharusnya telah mulai tumbuh sejak kehidupan keluarga.
Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan masa depan anak melalui pendidikan, fasilitas, dan berbagai kemudahan, tetapi justru lupa mempersiapkan karakter mereka untuk menghadapi masa depan tersebut.
Kita tentu ingin anak-anak menjadi orang berhasil. Namun, keberhasilan tidak hanya ketika mereka memperoleh pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, atau jabatan terhormat.
Keberhasilan juga terlihat ketika mereka mampu menghargai orang lain, memahami tanggung jawab, memiliki kepedulian sosial, dan tidak melupakan orang tua yang telah membesarkannya.
Pada akhirnya, keluhan para orang tua dan guru tentang perilaku sebagian anak-anak hari ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama.
Jangan sampai rumah yang dahulu menjadi tempat pertama anak belajar berbicara, justru berubah menjadi tempat mereka semakin enggan berkomunikasi.
Jangan pula sampai sekolah yang seharusnya menjadi tempat menyenangkan untuk belajar dan membentuk karakter berubah menjadi ruang ketegangan antara guru, peserta didik, dan orang tua.
Mungkin pekerjaan rumah terbesar kita hari ini bukan sekadar mengajarkan anak menyapu lantai, mencuci piring, atau membersihkan kamar, melainkan membangun kembali kepekaan, tanggung jawab, dan komunikasi yang mulai berjarak, baik di rumah maupun di sekolah.
Dan pekerjaan rumah yang satu ini tentu tidak cukup diselesaikan dengan kemarahan atau bentakan.
Sebab, membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berkelanjutan sesungguhnya dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, yaitu keluarga dan lingkungan pendidikan yang saling mendengarkan, saling menghargai, dan saling peduli.
Anak-anak memang perlu belajar memahami orang tua dan gurunya. Tetapi orang tua dan guru juga perlu terus belajar memahami anak-anaknya.
Bukankah pendidikan itu sendiri merupakan proses belajar sepanjang hayat?
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni (***)







