• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Rabu, Oktober 14, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

    Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

    Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

    Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

    Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

    Mubaligh Muhammadiyah Diajak Berdakwah dengan Strategi dan Etika Digital

    Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

    Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

      Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

      Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

      Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

      Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

      Mubaligh Muhammadiyah Diajak Berdakwah dengan Strategi dan Etika Digital

      Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

      Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

        Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

        Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

        SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

        5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

        Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

          Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

          Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

          Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

          Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

          Mubaligh Muhammadiyah Diajak Berdakwah dengan Strategi dan Etika Digital

          Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

          Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

            Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

            Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

            Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

            Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

            Mubaligh Muhammadiyah Diajak Berdakwah dengan Strategi dan Etika Digital

            Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

            Sosiologi Ibn Khaldun: ‘Asabiyyah di Era Digital: Ketika Solidaritas Juga Bisa Memecah (3)

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

              Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

              Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

              SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

              5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

              Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

              admin by admin
              14/10/2026
              in BeritaMu
              0
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

              Oleh: Jufri

              WartaTerkait

              PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

              Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

              Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

              Mubaligh Muhammadiyah Diajak Berdakwah dengan Strategi dan Etika Digital

              Saya baru saja membaca sebuah postingan di media sosial yang berisi keluhan seorang orang tua tentang perilaku anak-anak zaman sekarang. Sebenarnya, ini bukan keluhan pertama yang saya baca atau dengar. Dalam berbagai kesempatan, saya juga menemukan kegelisahan serupa dari para orang tua yang memiliki anak usia remaja, terutama generasi Z.

              Mereka merasa anak-anak sekarang semakin kurang peka terhadap keadaan di sekitarnya, termasuk terhadap kesibukan dan kelelahan orang tuanya sendiri. Pekerjaan rumah seolah bukan lagi bagian dari tanggung jawab bersama. Menyapu, mencuci piring, atau sekadar merapikan kamar sendiri terkadang harus disuruh berkali-kali. Namun, kalau urusan bermain HP, waktunya seperti tidak terbatas.

              Lebih menyedihkan lagi, ketika ditegur atau dimarahi, tidak sedikit yang justru membalas dengan nada lebih tinggi. Orang tua yang semula ingin menasihati akhirnya ikut terpancing emosi. Orang tua membentak, anak pun balik membentak. Dalam bahasa sehari-hari, awak yang memarahi, awak pula yang balik dimarahi. Sedih memang.

              Ternyata kegelisahan serupa juga muncul di lingkungan sekolah. Tidak sedikit guru yang mengeluhkan perubahan perilaku sebagian peserta didik. Ada yang semakin sulit diarahkan, kurang disiplin, kurang menghargai nasihat, bahkan menunjukkan sikap kurang santun ketika ditegur.

              Apalagi ada kesan sekarang guru tidak boleh lagi marah-marah seperti guru zaman dulu. Sedikit keras menegur anak, guru bisa merasa khawatir akan dipersoalkan. Tentu kita tidak sedang merindukan model pendidikan yang penuh bentakan, hukuman fisik, apalagi kekerasan. Zaman memang berubah dan pendekatan pendidikan harus ikut berubah.

              Namun, jangan pula perubahan itu membuat guru kehilangan keberanian untuk menegur, mendisiplinkan, dan mengatakan bahwa yang salah tetaplah salah.

              Dulu mungkin ada guru yang terlalu keras. Sekarang jangan sampai kita bergerak ke ujung yang lain, ketika guru justru takut kepada murid, bahkan takut kepada orang tua murid.

              Padahal, pendidikan karakter membutuhkan kasih sayang sekaligus ketegasan. Anak perlu merasa aman di sekolah, tetapi mereka juga harus memahami batas, aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi.

              Persoalannya bukan apakah guru boleh marah atau tidak, melainkan bagaimana ketegasan disampaikan secara mendidik, proporsional, dan tetap menghormati martabat anak.

              Demikian pula orang tua. Jangan setiap teguran guru langsung dianggap sebagai bentuk kebencian terhadap anak. Ada kalanya teguran justru lahir karena guru masih peduli.

              Akhirnya, di rumah orang tua mengeluh, di sekolah guru pun mengeluh. Lantas, siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab?

              Saya kira persoalan ini tidak sesederhana menyalahkan anak-anak generasi Z. Sebab, mereka tumbuh dalam lingkungan sosial dan perkembangan teknologi yang sangat berbeda dengan masa kecil orang tuanya.

              Dahulu, anak-anak terbiasa membantu pekerjaan rumah, bukan selalu karena diperintah, melainkan karena melihat langsung kesibukan orang tuanya. Ada yang membantu mencuci piring, menyapu halaman, menjaga adik, bahkan ikut bekerja membantu ekonomi keluarga.

              Sekarang situasinya berbeda. Banyak pekerjaan telah dipermudah teknologi. Sementara itu, perhatian anak-anak semakin banyak tersita oleh dunia digital. Mereka bisa berjam-jam berkomunikasi dengan orang yang jauh, tetapi terkadang sulit diajak berbicara oleh orang yang duduk di sebelahnya.

              Ironis memang. Teknologi komunikasi semakin canggih, tetapi komunikasi dalam keluarga justru bisa semakin berjarak.

              Dalam perspektif pendidikan karakter, keluarga sesungguhnya merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Di sanalah nilai tanggung jawab, disiplin, empati, kemandirian, dan penghormatan terhadap orang lain mulai dibentuk.

              Membantu pekerjaan rumah bukan sekadar persoalan menyapu, mencuci piring, atau merapikan tempat tidur. Lebih dari itu, pekerjaan sederhana tersebut merupakan proses pendidikan karakter.

              Anak belajar memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan kontribusi. Mereka tidak hanya memiliki hak untuk menikmati fasilitas keluarga, tetapi juga tanggung jawab untuk ikut menjaga kehidupan keluarga.

              Namun, kita sebagai orang tua juga perlu melakukan introspeksi.

              Terkadang sejak kecil anak terlalu dimanjakan. Semua kebutuhan disediakan, semua pekerjaan diselesaikan orang tua. Dengan alasan kasih sayang, anak tidak diberi kesempatan belajar bertanggung jawab.

              Ketika anak beranjak remaja, kita justru marah karena mereka tidak mandiri.

              Padahal, kemandirian tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses pembiasaan yang panjang.

              Di sinilah pentingnya memahami komunikasi remaja. Masa remaja merupakan fase pencarian identitas, ketika anak mulai membutuhkan pengakuan, kebebasan, dan kesempatan menyampaikan pendapat.

              Pendekatan komunikasi yang hanya mengandalkan perintah, larangan, ancaman, apalagi bentakan, sering kali justru melahirkan perlawanan.

              Tentu bukan berarti anak dibenarkan membentak atau melawan orang tua. Menghormati orang tua tetap menjadi nilai moral yang tidak boleh hilang. Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa komunikasi bukan hanya persoalan berbicara, melainkan juga kemampuan mendengarkan.

              Kadang kita ingin anak mendengarkan nasihat selama satu jam, tetapi kita sendiri tidak sabar mendengarkan cerita mereka selama lima menit.

              Kita ingin anak mampu mengendalikan emosi, sementara ketika marah, kita justru memperlihatkan bagaimana emosi sulit dikendalikan.

              Anak-anak mungkin tidak selalu mengikuti nasihat kita, tetapi mereka sangat mudah meniru perilaku kita.

              Persoalan penggunaan HP juga demikian.

              Tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada teknologi. HP hanyalah alat. Melalui perangkat yang sama, anak bisa belajar, mengembangkan kreativitas, membangun jejaring, bahkan memperoleh penghasilan.

              Persoalannya terletak pada bagaimana keluarga membangun budaya penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.

              Jangan sampai orang tua melarang anak bermain HP ketika makan bersama, sementara orang tuanya sendiri sibuk membaca WhatsApp, menonton video, atau mengikuti perdebatan politik di media sosial.

              Anak disuruh berhenti bermain HP, tetapi orang tua sendiri sulit melepaskan HP. Kalau sudah begini, siapa sebenarnya yang harus lebih dahulu belajar disiplin?

              Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia berkelanjutan, persoalan ini bahkan memiliki makna yang lebih luas.

              Anak-anak hari ini merupakan sumber daya manusia yang kelak akan mengisi dunia pendidikan, dunia kerja, organisasi, masyarakat, dan kepemimpinan bangsa.

              Kualitas sumber daya manusia tidak cukup hanya diukur melalui ijazah, prestasi akademik, kemampuan teknologi, atau kecerdasan intelektual.

              Diperlukan pula kemampuan mengelola diri, mengendalikan emosi, berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan memiliki kepedulian sosial.

              Dalam kajian manajemen sumber daya manusia, pengembangan kompetensi merupakan proses berkelanjutan. Manusia tidak cukup hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga harus dibentuk sikap, keterampilan, dan kemampuannya beradaptasi menghadapi perubahan.

              Prinsip tersebut sebenarnya dapat dimulai dari rumah dan diperkuat melalui pendidikan di sekolah.

              Anak diberikan tanggung jawab sesuai usianya, dibiasakan menyelesaikan pekerjaan, diajak memahami konsekuensi dari setiap tindakan, serta diberikan apresiasi ketika menunjukkan kemajuan.

              Bukan hanya dimarahi ketika melakukan kesalahan, tetapi juga dibimbing agar mampu memperbaikinya.

              Di sinilah diperlukan sinergi antara keluarga dan sekolah. Orang tua tidak bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan karakter kepada guru. Sebaliknya, sekolah juga tidak cukup hanya mengejar pencapaian akademik tanpa memperhatikan perkembangan kepribadian peserta didik.

              Guru membutuhkan dukungan orang tua, sementara orang tua membutuhkan komunikasi yang baik dengan guru. Keduanya bukan pihak yang saling menyalahkan, melainkan mitra dalam membentuk manusia yang berkualitas.

              Bayangkan jika seorang anak kelak menjadi sarjana, profesional, pengusaha, bahkan pemimpin, tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap kesulitan orang lain.

              Ia mungkin cerdas secara akademik, tetapi belum tentu matang secara emosional dan sosial.

              Bagaimana mungkin kita berharap seseorang mampu memimpin orang lain jika sejak kecil tidak pernah dibiasakan mengelola dirinya sendiri?

              Bagaimana mungkin kita berharap lahir pemimpin yang memiliki empati sosial jika terhadap kelelahan orang tuanya sendiri pun ia tidak pernah diajarkan untuk peduli?

              Namun, kita juga tidak boleh terjebak dalam anggapan bahwa semua anak generasi Z memiliki persoalan yang sama.

              Banyak anak muda hari ini yang justru sangat kreatif, mandiri, memiliki kepedulian sosial, berprestasi, bahkan mampu membantu perekonomian keluarganya sejak usia muda.

              Artinya, persoalan ini bukan semata-mata kesalahan sebuah generasi. Ada pengaruh pola pengasuhan, lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi, sistem pendidikan, dan kualitas komunikasi keluarga.

              Barangkali yang perlu kita perbaiki bukan hanya perilaku anak-anak, tetapi juga cara kita memahami perubahan zaman.

              Orang tua tidak harus kehilangan ketegasan. Namun, ketegasan tidak selalu identik dengan kemarahan. Kasih sayang juga tidak berarti membiarkan anak tumbuh tanpa tanggung jawab.

              Kita perlu membangun komunikasi yang terbuka, membiasakan pembagian tugas rumah tangga, membuat kesepakatan penggunaan HP, serta menyediakan waktu untuk benar-benar berbicara dan mendengarkan anak.

              Sebab, pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan melalui nasihat. Ia membutuhkan keteladanan dan pembiasaan.

              Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia berkelanjutan, keluarga sesungguhnya merupakan fondasi yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan lainnya.

              Sekolah mungkin mampu mengajarkan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi dapat mengembangkan kompetensi profesional. Namun, nilai tanggung jawab, empati, kejujuran, dan penghormatan terhadap sesama seharusnya telah mulai tumbuh sejak kehidupan keluarga.

              Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan masa depan anak melalui pendidikan, fasilitas, dan berbagai kemudahan, tetapi justru lupa mempersiapkan karakter mereka untuk menghadapi masa depan tersebut.

              Kita tentu ingin anak-anak menjadi orang berhasil. Namun, keberhasilan tidak hanya ketika mereka memperoleh pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, atau jabatan terhormat.

              Keberhasilan juga terlihat ketika mereka mampu menghargai orang lain, memahami tanggung jawab, memiliki kepedulian sosial, dan tidak melupakan orang tua yang telah membesarkannya.

              Pada akhirnya, keluhan para orang tua dan guru tentang perilaku sebagian anak-anak hari ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama.

              Jangan sampai rumah yang dahulu menjadi tempat pertama anak belajar berbicara, justru berubah menjadi tempat mereka semakin enggan berkomunikasi.

              Jangan pula sampai sekolah yang seharusnya menjadi tempat menyenangkan untuk belajar dan membentuk karakter berubah menjadi ruang ketegangan antara guru, peserta didik, dan orang tua.

              Mungkin pekerjaan rumah terbesar kita hari ini bukan sekadar mengajarkan anak menyapu lantai, mencuci piring, atau membersihkan kamar, melainkan membangun kembali kepekaan, tanggung jawab, dan komunikasi yang mulai berjarak, baik di rumah maupun di sekolah.

              Dan pekerjaan rumah yang satu ini tentu tidak cukup diselesaikan dengan kemarahan atau bentakan.

              Sebab, membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berkelanjutan sesungguhnya dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, yaitu keluarga dan lingkungan pendidikan yang saling mendengarkan, saling menghargai, dan saling peduli.

              Anak-anak memang perlu belajar memahami orang tua dan gurunya. Tetapi orang tua dan guru juga perlu terus belajar memahami anak-anaknya.

              Bukankah pendidikan itu sendiri merupakan proses belajar sepanjang hayat?

              Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni (***)

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

              Next Post

              PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

              admin

              admin

              InfoLain

              BeritaMu

              PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

              14/10/2026
              BeritaMu

              Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

              14/10/2026
              Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah
              BeritaMu

              Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

              14/10/2026
              Next Post

              PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Enam Hari di Sumut akibat IOD Negatif

                26/11/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

                14/10/2026

                Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

                14/10/2026

                Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

                14/10/2026
                Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

                Perang Saudi – Houthi dan Keselamatan Jamaah Umrah

                14/10/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (29,810)
                • Hukum Islam (1,633)
                • Kabar PTMA (4,321)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan WMIT dan AEEC Australia

                14/10/2026

                Orang Tua Mengeluh, Guru Pun Mulai Gelisah: Ada Apa dengan Anak-Anak Kita?

                14/10/2026

                Jangan Menunda Kebaikan, Dunia sebagai Ladang Akhirat

                14/10/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In