Polisi , Kampus, Komunikasi dan Tantangan Dunia Siber
Oleh : Jufri
Dalam sambutan pada acara memasuki kantor baru Reserse Siber Polda Sumatera Utara, Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, S.Pd.I., M.Pd. menyampaikan satu hal yang menarik perhatian saya.
Beliau menyampaikan bahwa UMSU sedang memproses rencana pembukaan jurusan baru di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, yaitu Siber Security. Kehadiran bidang ini penting untuk terus mendukung pengembangan kampus digital sekaligus menjawab perkembangan dan tantangan digitalisasi yang semakin tinggi.
Pengembangan bidang Siber Security tersebut nantinya tentu membutuhkan kerja sama dengan banyak pihak, termasuk Reserse Siber Polri. Gagasan itu pun langsung disambut positif oleh Direktur Reserse Siber Polda Sumatera Utara Kombes Pol Dr. Bayu Wicaksono, S.I.K., M.Si., beserta jajarannya.
Baik Direktur Reserse Siber Polda Sumatera Utara maupun Rektor UMSU sama-sama mengapresiasi berbagai kegiatan dan kerja sama yang selama ini telah dilaksanakan. Keduanya juga berharap ke depan akan semakin banyak kerja sama yang dapat dibangun, termasuk dalam mendukung berbagai agenda besar yang akan datang, seperti Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada akhir tahun 2027.
Yang menarik, suasana sore itu berlangsung dalam nuansa kekeluargaan dan humanis. Tidak terasa sekadar sebagai pertemuan antara institusi, tetapi sebagai perjumpaan antara sesama anak bangsa yang memiliki tanggung jawab berbeda namun tujuan yang sama: menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, nyaman dan tertib.
Bahkan masyarakat yang hadir dipersilakan melihat ruangan demi ruangan di kantor baru tersebut. Kegiatan sederhana itu diselingi percakapan yang akrab dan hangat antara polisi dan masyarakat. Menurut saya, suasana seperti ini justru penting, karena semakin sering terjadi perjumpaan yang terbuka dan manusiawi, semakin tumbuh pula rasa saling menghargai antara polisi dan masyarakat.
Suasana seperti ini mengingatkan kita bahwa hubungan polisi dan masyarakat sesungguhnya membutuhkan saling percaya, saling memahami dan saling mendukung. Polisi membutuhkan dukungan masyarakat dalam menjalankan tugasnya, sementara masyarakat juga membutuhkan kehadiran polisi untuk memberikan rasa aman dan perlindungan.
Keamanan bukan hanya tugas polisi. Ia merupakan tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat percaya kepada aparat dan aparat mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, maka ruang untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan menjadi semakin terbuka.
Menurut saya, pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan perguruan tinggi dengan institusi kepolisian tidak harus selalu berbicara tentang seremoni. Ada ruang kolaborasi yang jauh lebih luas, terutama dalam menghadapi perubahan kehidupan masyarakat yang semakin digital.
Hari ini hampir semua lini kehidupan bersentuhan dengan dunia digital. Pendidikan, ekonomi, pemerintahan, komunikasi, bisnis, bahkan aktivitas sosial masyarakat semakin bergantung pada teknologi.
Karena itu, literasi digital saja tidak lagi cukup. Kita membutuhkan sumber daya manusia yang memahami keamanan siber, etika digital, perlindungan data, sekaligus mampu membaca berbagai tantangan yang muncul di ruang maya.
Tugas kepolisian sendiri tentu semakin kompleks dan berat. Perubahan perilaku manusia yang sebagian berpindah ke dunia maya membutuhkan perangkat, sistem, sekaligus sumber daya manusia yang unggul untuk menjaga keamanan dan menangani berbagai perilaku yang melanggar hukum di ruang digital.
Apalagi dunia siber tidak mengenal batas teritorial sebuah negara.
Seseorang dapat berada di Medan, tetapi aktivitas digitalnya bisa berhubungan dengan sistem yang berada di Jakarta, Singapura, Eropa, bahkan belahan dunia lainnya. Dunia digital menghapus banyak sekat dan batas geografis.
Dunia menjadi semakin luas karena jangkauannya tidak terbatas, tetapi sekaligus terasa semakin kecil karena semuanya dapat terhubung dalam hitungan detik.
Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, perubahan ini juga mengubah cara manusia berinteraksi, membangun persepsi, menyebarkan informasi dan membentuk opini. Satu pesan dapat menyebar sangat cepat, bahkan sebelum kebenarannya sempat diperiksa.
Karena itu, komunikasi digital membutuhkan manusia yang bukan hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki etika, literasi dan tanggung jawab.
Dari perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia Berkelanjutan, tantangan digital juga tidak cukup dijawab dengan membeli perangkat atau membangun sistem. Investasi terpenting tetap pada manusianya.
SDM harus terus belajar, beradaptasi dan meningkatkan kompetensi mengikuti perubahan teknologi. Organisasi yang ingin bertahan bukan hanya membutuhkan manusia yang mampu bekerja hari ini, tetapi juga manusia yang dipersiapkan menghadapi perubahan hari esok.
Dalam kerangka itulah Siber Security menjadi salah satu pendukung penting. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, komunikasi, teknologi dan pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, kampus tidak cukup hanya menjadi tempat menghasilkan ijazah dan gelar. Kampus juga dituntut menjadi kampus berdampak—kampus yang kehadirannya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ilmu yang lahir di kampus harus menemukan jalan untuk menjawab persoalan nyata. Riset tidak berhenti di rak perpustakaan, inovasi tidak berhenti di ruang laboratorium, dan lulusan tidak hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan solusi dan memberi manfaat.
Dalam konteks kampus berdampak, kolaborasi dengan kepolisian, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat menjadi penting. Kampus dapat menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Kampus tidak cukup hanya menghasilkan sarjana yang mampu menggunakan teknologi. Kampus juga perlu menyiapkan manusia yang mampu memahami, mengembangkan, mengamankan dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dalam konteks itu, hubungan Muhammadiyah dengan Polri yang selama ini terjaga tentu dapat terus dikembangkan dalam bentuk kerja sama yang lebih produktif. Ke depan, peran serta masyarakat, termasuk warga Muhammadiyah dan perguruan tinggi Muhammadiyah, dapat menjadi bagian dari upaya bersama membangun ruang digital yang sehat, aman dan mencerdaskan.
Apalagi Ketua Umum PP Muhammadiyah pernah menyampaikan bahwa tugas kepolisian memiliki titik temu dengan semangat dakwah Muhammadiyah, yaitu amar makruf nahi munkar, dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkemajuan.
Tentu saja, masing-masing memiliki tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang berbeda. Namun perbedaan peran itu tidak menghalangi ruang kolaborasi untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.
Karena itu, rencana UMSU mengembangkan bidang Siber Security menarik untuk kita ikuti. Apalagi jika sejak awal dibangun melalui kolaborasi antara kampus, kepolisian, dunia usaha, pemerintah dan berbagai pihak lainnya.
Kampus digital bukan sekadar memasang perangkat teknologi di ruang kuliah. Kampus digital membutuhkan manusia yang cerdas, sistem yang aman, komunikasi yang sehat dan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan.
Dan kampus berdampak bukan sekadar slogan. Ia harus terlihat dari seberapa jauh ilmu pengetahuan, teknologi dan sumber daya manusia yang dikembangkan kampus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mungkin inilah salah satu bentuk nyata dari semangat Islam berkemajuan: tidak takut memasuki dunia baru, tetapi tetap membawa nilai, etika dan tanggung jawab di dalamnya.
Teknologi boleh semakin maju. Dunia boleh semakin tanpa batas. Tetapi manusia tetap membutuhkan ilmu, akhlak dan tanggung jawab agar kemajuan itu benar-benar membawa kemaslahatan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni










