
Oleh: Shohibul Anshor Siregar
Dalam catatan sejarah perubahan sosial, kita sering kali terpaku pada apa yang tampak oleh mata: spanduk yang membentang, kepalan tangan di udara, atau bentrokan fisik di garis depan. Kita kerap lupa bahwa gerakan sosial tidak pernah bergerak dalam keheningan. Di balik setiap barisan massa yang menuntut keadilan, ada gelombang suara—mulai dari pekikan yel-yel, ketukan perkusi jalanan, hingga lagu perjuangan yang dinyanyikan serempak.
Suara dan musik bukanlah sekadar pemanis demonstrasi atau produk estetika semata. Dalam kacamata sosiologi, praksis musikal adalah instrumen politik yang inheren dengan kekuasaan. Ia adalah katalisator yang mampu mengubah kecemasan individual menjadi mobilisasi kolektif yang masif.
Medan Tempur Auditoris: Hegemoni vs Resistensi
Secara sosiologis, suara di ruang publik tidak pernah netral. Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, mengingatkan bahwa ruang publik adalah arena kontestasi modal simbolik. Siapa yang menguasai ruang suara, dialah yang memegang kendali atas narasi.
Dalam situasi konflik sosial, kita kerap melihat bagaimana suara digunakan sebagai instrumen penegak hegemoni dan kepatuhan. Tengok saja bagaimana deru mesin ekskavator, sirine patroli aparat, hingga bentakan pengeras suara mendominasi bentang suara (soundscape) dalam konflik agraria kontemporer di Wadas atau Rempang. Bunyi-bunyi industrial dan militeristik ini diproduksi secara sengaja untuk menciptakan represi psikologis, mengintimidasi warga, dan membungkam ruang dialog.
Namun, kekuasaan tidak pernah absolut. Masyarakat sipil merespons represi ini dengan menciptakan konter-hegemoni melalui bunyi. Ketika jalur komunikasi formal disumbat, musik protes maju sebagai senjata alternatif. Di sinilah musik bertransformasi menjadi apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai alat perjuangan budaya—sebuah medium untuk meruntuhkan kesadaran palsu dan menelanjangi ketidakadilan.
Komparasi Lintas Zaman dan Benua: Dari Jalanan Jakarta hingga Santiago
Kedahsyatan praksis musikal dalam konflik sosial bukanlah fenomena baru maupun lokal. Jika kita memverifikasinya secara empiris, kita akan menemukan benang merah yang sama yang melintasi sekat geografi dan generasi:
| Dimensi Perbandingan | Kasus Lintas Benua & Zaman | Manifestasi Suara & Kekuasaan | Dampak Mobilisasi Kolektif |
| Eropa (Abad ke-20) | Gerakan Partisan Antifasis di Italia (1943–1945) | Mempopulerkan lagu “Bella Ciao” sebagai simbol perlawanan terhadap diktator Benito Mussolini. | Menjadi perekat ideologis yang menyatukan kelompok perlawanan yang terpecah-pecah di pegunungan Italia. |
| Amerika Latin (1970-an) | Gerakan Nueva Canción di Chile melawan rezim Augusto Pinochet | Musisi seperti Victor Jara menggunakan gitar akustik dan lagu “El pueblo unido jamás será vencido”. | Lagu tersebut menjadi senjata psikologis warga kelas pekerja untuk bertahan di bawah teror penculikan rezim militer. |
| Asia / Indonesia (1998) | Gerakan Mahasiswa runtuhnya Orde Baru | Gemuruh lagu “Darah Juang” dan “Buruh Tani” menggema di dalam gedung DPR/MPR yang diduduki. | Meleburkan sekat-sekat ego sektoral antar-universitas menjadi satu kekuatan tunggal yang meruntuhkan rezim 32 tahun. |
| Indonesia Kontemporer | Aksi “Reformasi Dikorupsi” (2019) & Aksi Agraria | Pemanfaatan musik punk/noise, yel-yel teatrikal, dan amplifikasi audio via media sosial. | Menjaga resiliensi massa di tengah kepungan gas air mata dan menarik simpati publik global secara instan. |
Mengikat Emosi, Melarutkan Ketakutan
Mengapa pola ini terus berulang di berbagai belahan dunia? Jawabannya terletak pada dimensi afektifnya. Pengamat budaya Lawrence Grossberg mengenalkan konsep affective alliance (aliansi afektif), yaitu bagaimana musik mampu mengikat emosi individu-individu yang berbeda latar belakang ke dalam satu frekuensi perasaan yang sama.
Di tengah kepungan barikade dan ancaman represi fisik—baik yang dihadapi mahasiswa Chile di bawah moncong senjata Pinochet, maupun mahasiswa Indonesia saat aksi kawal konstitusi baru-baru ini—rasa takut adalah musuh terbesar gerakan.
Namun, ketika sebuah lagu perjuangan dinyanyikan bersama oleh ribuan orang, terjadi peleburan ego. Rasa takut individu larut ke dalam keberanian kolektif. Musik memberikan efek katarsis dan solidaritas instan; ia menyadarkan setiap orang di dalam barisan bahwa mereka tidak sedang berjalan sendirian.
Membaca Politik Lewat Telinga
Melihat fenomena ini, riset sosiologi kontemporer tidak boleh lagi mengabaikan aspek auditori. Konflik sosial tidak lagi cukup dianalisis hanya lewat pamflet politik, pasal-pasal hukum, atau pernyataan resmi di media sosial. Kita perlu melakukan “etnografi suara” untuk memverifikasi bagaimana getaran akustik di jalanan berujung pada tindakan politik nyata.
Secara empiris, gerakan yang mampu memproduksi dan mengelola “suara” mereka sendiri cenderung lebih tangguh dan berumur panjang. Suara-suara ini berhasil menembus dinding kedap suara istana, menarik simpati publik luas, dan memaksa pembuat kebijakan untuk mendengarkan.
Pada akhirnya, mendengarkan dinamika politik dunia dan Indonesia harus dilakukan dengan melatih telinga kita untuk mendengar lanskap suara di akar rumput. Sebab, di sanalah—di antara petikan gitar musisi jalanan Santiago, yel-yel warga Wadas yang mempertahankan tanahnya, dan resonansi lagu perjuangan mahasiswa Jakarta—kekuasaan sedang digugat, dan sejarah baru sedang dinyanyikan. (***)
*** Penulis, Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum Yayasan Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya (‘nBASIS) dan Penulis Tamu Infomu.co







