Tiga Kali Wisudawan Terbaik, Tiga Dekade Perjalanan Ilmu
Oleh : Jufri
Siang tadi, ketika saya berada di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, seperti biasa saya menghubungi Sekretaris PW Muhammadiyah Sumatera Utara yang juga sahabat saya, Dr. H. Irwan Syahputra Terus terang, saya tidak ingat kalau hari ini beliau sedang menjalani momen penting: Wisuda Doktor di UIN Sumatera Utara Medan.
Yang membuat saya ikut terkejut sekaligus bahagia, ternyata Bang Irwan kembali meraih predikat wisudawan terbaik. Dan ini bukan yang pertama, bukan pula yang kedua. Sejak jenjang S1, S2 hingga S3, tiga kali sudah beliau menyandang predikat wisudawan terbaik.
Tentu saja saya ikut senang dan bahagia mendengar kabar tersebut. Ada kebahagiaan yang rasanya ikut terbagi kepada saya sebagai sahabat. Sebab, ketika seorang sahabat berhasil mencapai sesuatu yang baik, kita tidak harus berada di atas panggung untuk ikut merasakan kebahagiaannya. Mendengar kabarnya saja, hati sudah ikut tersenyum.
Saya kemudian teringat percakapan kami. Ketika saya bertanya, bukankah pada saat S2 juga menjadi wisudawan terbaik? Bang Irwan menjawab bahwa itu terjadi ketika beliau menyelesaikan pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bahkan tesisnya ketika itu diuji oleh lima penguji dari berbagai disiplin ilmu.
Artinya, prestasi akademik ini bukan sesuatu yang baru muncul hari ini. Ia seperti benang merah yang tersambung dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya.
Tetapi bagi saya, yang paling menarik justru bukan tiga kali predikat wisudawan terbaik itu.
Ada cerita yang jauh lebih menyentuh di baliknya.
Bang Irwan mengenang ketika mengikuti Wisuda ke-XXVII IAIN Sumatera Utara pada 27 September 1997. Saat itu, beliau berhasil mendudukkan mamak dan bapaknya di barisan terdepan, mendampingi dirinya sebagai wisudawan terbaik.
Hampir tiga puluh tahun kemudian, pada Wisuda ke-89 UIN Sumatera Utara Medan, sejarah itu seperti berulang. Bedanya, kali ini yang duduk di barisan terdepan adalah istri dan anak.
Waktu memang berjalan. Orang tua yang dahulu menjadi saksi keberhasilan seorang anak, pada waktunya menjadi kenangan yang terus hidup dalam doa. Sementara istri dan anak kemudian hadir sebagai saksi perjalanan berikutnya.
Dari mamak dan bapak kepada istri dan anak.
Dari IAIN Sumatera Utara kepada UIN Sumatera Utara.
Dari seorang anak yang membanggakan orang tuanya, menjadi seorang suami dan ayah yang membahagiakan keluarganya.
Saya kira, di situlah letak sisi paling mengharukan dari sebuah wisuda.
Wisuda memang identik dengan toga, ijazah, gelar akademik dan predikat terbaik. Tetapi di balik semua itu ada perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat. Ada doa orang tua, ada kesabaran keluarga, ada guru dan dosen yang membimbing, ada sahabat yang memberi semangat, dan ada begitu banyak pihak yang membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Karena itu, keberhasilan akademik sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi keberhasilan seseorang seorang diri.
Ada banyak orang yang ikut berdiri di belakangnya.
Mungkin karena itulah Bang Irwan menutup ungkapannya dengan kalimat yang sederhana tetapi sangat dalam:
هذا من فضل ربي
Hādzā min fadhlī rabbī.
“Ini adalah karunia dari Tuhanku.”
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa ilmu, kesempatan, kemampuan dan keberhasilan pada akhirnya tidak boleh membuat seseorang lupa kepada sumber segala karunia.
Predikat wisudawan terbaik tentu patut disyukuri. Tetapi yang lebih penting setelah predikat itu adalah bagaimana ilmu tersebut memberi manfaat.
Sebab semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya. Gelar akademik bukan hanya tambahan huruf di belakang nama, tetapi semestinya menjadi tambahan tanggung jawab di tengah masyarakat.
Apalagi bagi seorang kader persyarikatan dan aktivis sosial seperti Bang Irwan. Ilmu tidak cukup berhenti di ruang kuliah, ruang sidang tesis atau disertasi. Ilmu harus menemukan jalannya menuju pengabdian.
Ada ungkapan yang sering kita dengar: ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain.
Maka saya membayangkan, tiga kali menjadi wisudawan terbaik bukanlah alasan untuk berhenti. Justru menjadi pengingat bahwa perjalanan intelektual masih panjang.
S1 telah dilalui.
S2 telah dilalui.
S3 pun hari ini telah diselesaikan.
Tetapi kehidupan setelah wisuda adalah ruang belajar yang jauh lebih luas. Di sana tidak ada penguji yang duduk di depan meja dengan lembar pertanyaan. Yang menjadi penguji adalah waktu, kehidupan dan masyarakat.
Dan pertanyaannya sederhana:
Apa yang akan dilakukan dengan ilmu yang sudah diperoleh?
Saya tentu berharap, suatu saat nanti Bang Irwan melangkah lebih jauh lagi dan memperoleh amanah sebagai guru besar. Semoga ketika momentum itu tiba, saya masih diberi umur, kesehatan dan kesempatan untuk menjadi saksi. Kalau pun tidak bisa hadir secara langsung, setidaknya saya masih mendapat kabar tentang satu lagi pencapaian sahabat yang sejak dulu saya kenal sebagai orang yang tekun dalam perjalanan ilmunya.
Semoga waktu dan kesempatan itu masih tersedia di masa depan.
Saya juga berharap, di tengah berbagai pencapaian akademik yang telah diraih, Bang Irwan tetap menjadi pribadi yang rendah hati. Sebab ilmu yang tinggi akan semakin indah ketika berjalan bersama kerendahan hati.
Semoga ilmu dan pengalaman yang dimiliki terus menjadi kontribusi, motivasi dan inspirasi bagi banyak orang. Bukan hanya karena predikat yang pernah diraih, tetapi karena keteladanan dalam menjalani proses, ketekunan dalam belajar dan kesediaan untuk berbagi.
Hari ini kebahagiaan itu milik Bang Irwan dan keluarga.
Tetapi entah mengapa, sebagian kecil dari kebahagiaan itu terasa sampai kepada saya.
Mungkin begitulah persahabatan bekerja.
Kita tidak kehilangan apa-apa ketika ikut bahagia atas keberhasilan orang lain. Justru hati terasa lebih luas.
Selamat, Bang Irwan dan keluarga.
Selamat atas gelar Doktor dan predikat wisudawan terbaik untuk ketiga kalinya. Semoga Allah memberikan keberkahan atas ilmu, keluarga, perjalanan akademik dan pengabdian yang telah dilalui.
Dan semoga suatu hari nanti, anak-anak yang hari ini duduk di barisan terdepan itu akan mengenang ayahnya bukan hanya sebagai seorang doktor atau wisudawan terbaik, tetapi sebagai ayah yang mengajarkan bahwa ilmu harus dijalani dengan sungguh-sungguh, diraih dengan doa, dan dikembalikan kepada kehidupan dalam bentuk pengabdian.
Karena pada akhirnya, prestasi boleh tercatat dalam buku wisuda.
Tetapi kebermanfaatanlah yang akan dicatat dalam kehidupan.






