Dakwah dan Seni Saling Memahami
Oleh : Jufri
Ada yang menarik pagi tadi, sebelum acara silaturahmi di sebuah Masjid Muhammadiyah di Kota Medan. Seorang jamaah mendekati saya. Kami langsung berbicara akrab, seperti orang yang sudah lama saling mengenal. Di tengah percakapan, tiba-tiba beliau menyampaikan sesuatu yang menurut saya menarik dan penting, meskipun mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai hal yang agak tabu untuk dibicarakan.
Saya memang termasuk orang yang sering kali dipercaya untuk menyampaikan aspirasi atau uneg-uneg. Mungkin wajah saya cocok sebagai tempat curhat, he he. Tetapi saya selalu berusaha menerima cerita seperti itu bukan untuk memperbesar persoalan, melainkan untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh jamaah.
Beliau bercerita tentang adanya sebagian ustadz atau mubaligh yang dalam berdakwah memiliki pertimbangan materi. Bahkan, ada tempat tertentu yang disebut memiliki nilai lebih tinggi cepat didatangi, sementara tempat lainnya lebih rendah ditinggalkan .
Saya tidak terlalu terkejut mendengarnya. Pertama, saya memang tidak pernah merasa menjadi pendakwah, apalagi menjadikan dakwah sebagai profesi. Kedua, sebagai pimpinan Muhammadiyah, saya merasa realitas seperti ini juga perlu diketahui. Bukan untuk menghakimi siapa pun, tetapi agar kita memahami dunia dakwah secara lebih utuh. Seorang mubaligh harus memahami jamaah, tapi seseorang yang bukan mubaligh juga harus memahami posisi seorang mubaligh .
Saya kemudian menyampaikan pandangan sederhana. Dalam persoalan seperti ini, menurut saya, kita perlu saling memahami. Mubaligh harus memahami kondisi masjid dan jamaah. Sebaliknya, jamaah juga harus memahami kondisi mubaligh.
Tidak semua mubaligh mempunyai kondisi kehidupan yang sama. Ada yang memiliki pekerjaan tetap, ada pula yang memang kehidupannya banyak bergantung pada aktivitas dakwah. Mereka juga mempunyai keluarga, kebutuhan hidup, biaya perjalanan dan waktu yang harus disediakan untuk memenuhi undangan dari satu tempat ke tempat lain.
Karena itu, penghargaan kepada mubaligh bukan sesuatu yang harus dianggap tabu. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai dakwah berubah menjadi semata-mata hubungan transaksional. Jangan sampai ukuran keberhasilan dakwah hanya dilihat dari apa yang diterima, bukan dari apa yang diberikan kepada umat.
Sebaliknya, jamaah dan pengurus masjid juga memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada masjid yang memiliki kemampuan ekonomi cukup baik, ada pula masjid yang untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya saja harus bergotong royong.
Di sinilah komunikasi menjadi penting.
Jangan sampai mubaligh merasa tidak dihargai hanya karena kemampuan sebuah masjid terbatas. Sebaliknya, jangan pula jamaah merasa terbebani karena harus memenuhi ukuran tertentu yang sebenarnya berada di luar kemampuan mereka.
Saya sendiri sejak awal mempunyai komitmen dengan istri untuk tidak pernah menanyakan atau memperhitungkan uang yang diperoleh dari aktivitas dakwah. Kalau ada yang memberikan, saya terima sebagai bentuk penghargaan. Kalau tidak ada, juga tidak menjadi persoalan.
Tetapi tentu setiap orang tidak sama. Pengalaman pribadi saya tidak bisa dijadikan ukuran bagi semua mubaligh. Ada orang yang berdakwah sambil bekerja, ada yang menjadikan dakwah sebagai bagian utama kehidupannya. Masing-masing memiliki keadaan, tanggung jawab dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, menurut saya, yang dibutuhkan bukan saling mencurigai, tetapi saling memahami.
Saya juga mengatakan kepada jamaah tadi, sebenarnya kita masih patut bersyukur hidup dan berdakwah di kota seperti Medan. Akses relatif mudah, masjid cukup banyak, aktivitas keagamaan juga hidup.
Bayangkan jika berdakwah di daerah terpencil. Untuk sampai ke lokasi saja terkadang membutuhkan perjuangan. Jalan yang jauh, fasilitas terbatas, bahkan mungkin harus melewati perjalanan yang tidak mudah.
Di daerah seperti itu, disambut dengan baik oleh jamaah saja mungkin sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Apalagi kalau masih mengharapkan sesuatu yang lain.
Kalimat ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa dakwah memiliki banyak wajah dan medan perjuangan.
Kita juga tidak boleh menggunakan kata “ikhlas” untuk kemudian mengabaikan kebutuhan hidup para mubaligh. Keikhlasan dan penghargaan tidak selalu harus dipertentangkan. Seseorang dapat berdakwah dengan ikhlas, sekaligus tetap membutuhkan biaya untuk menjalani kehidupan.
Yang penting adalah menempatkannya secara proporsional.
Dakwah bukan perdagangan. Tetapi dakwah juga tidak berarti menutup mata terhadap realitas kehidupan manusia, termasuk para mubaligh .
Mubaligh jangan hanya melihat masjid dari kemampuan materinya. Jamaah jangan pula melihat mubaligh hanya dari apa yang bisa diberikannya. Di antara keduanya ada hubungan yang jauh lebih penting: ilmu, silaturahmi, keteladanan, persaudaraan dan kebermanfaatan.
Dalam perspektif komunikasi, hubungan yang sehat selalu membutuhkan kemampuan memahami pihak lain. Begitu pula dalam organisasi dan kehidupan persyarikatan. Tidak semua persoalan harus dibaca dari satu sudut pandang. Kadang kita perlu bergeser sejenak dari posisi kita untuk melihat persoalan dari sisi orang lain.
Mungkin inilah pelajaran kecil dari percakapan singkat saya pagi tadi.
Dakwah membutuhkan orang yang pandai menyampaikan pesan, tetapi juga membutuhkan orang yang pandai memahami keadaan.
Sebab pada akhirnya, dakwah bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara kepada manusia, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia dengan segala keadaan, kebutuhan dan keterbatasannya.
Dan mungkin, di situlah indahnya dakwah: menyampaikan kebaikan tanpa kehilangan kemanusiaan, menjaga keikhlasan tanpa mengabaikan penghargaan, serta membangun hubungan dengan saling memahami.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni (***)








