Sang Surya Menyatukan Indonesia dan Malaysia: Ketika Raja Muda Perlis Menjadi Canselor UMAM
Oleh: Jufri
Senin kemarin saya menghadiri Istiadat Pemasyhuran Duli Yang Teramat Mulia Tuanku Syed Faizuddin Putra Ibni Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail, Raja Muda Perlis, sebagai Canselor Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Bagi saya, momentum 14 September 2026 ini bukan sekadar seremoni perguruan tinggi. Ada sesuatu yang lebih besar untuk direnungkan: tentang pendidikan, persahabatan antarbangsa, dan perjalanan Muhammadiyah membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan.
Sebuah gerakan yang lahir dan tumbuh di Indonesia kini memiliki ruang pengabdian yang semakin luas di Malaysia. Pendidikan yang sejak awal menjadi salah satu jalan dakwah Muhammadiyah, kini manfaatnya terus bergerak melampaui batas-batas negara.
Pendidikan sebagai Jalan Membangun Peradaban
Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Sekolah, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai amal usaha lahir dari kesadaran bahwa dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata.
Dakwah harus hadir dalam kerja nyata.
Mendidik anak-anak, membangun karakter, mengembangkan ilmu, meningkatkan kualitas kesehatan, menggerakkan ekonomi, dan membantu masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan Islam yang mencerahkan.
Karena itu, kehadiran Universiti Muhammadiyah Malaysia membawa harapan yang tidak kecil. UMAM diharapkan bukan hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kewirausahaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Universitas yang baik tidak cukup hanya memiliki gedung megah atau seremoni yang meriah. Ia harus mampu melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, kompeten, adaptif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Di sinilah pendidikan menjadi bagian penting dari pembangunan peradaban.
Ketika Raja Muda Menjadi Canselor
Pemasyhuran Duli Yang Teramat Mulia Tuanku Syed Faizuddin Putra Ibni Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail sebagai Canselor UMAM tentu merupakan momentum yang patut dihargai.
Kehadiran tokoh kerajaan dalam lingkungan perguruan tinggi mempertemukan tradisi, kehormatan, dan ikhtiar membangun masa depan melalui pendidikan.
Namun, jabatan Canselor tentu bukan sekadar gelar kehormatan. Di baliknya ada tanggung jawab moral untuk ikut memperkuat kepercayaan masyarakat dan mendorong universitas agar terus meningkatkan kualitasnya.
Kita berharap kehadiran beliau memberikan energi positif bagi perkembangan UMAM.
Sebab, universitas yang besar tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menjadi pemimpinnya. Ia juga ditentukan oleh kualitas dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, tata kelola, budaya akademik, dan kesungguhan seluruh civitas akademika menjalankan amanah.
Seremoni mungkin berlangsung sehari. Tetapi tanggung jawab membangun universitas berlangsung sepanjang masa.
Perlis dan Jejak Islam Berkemajuan
Ada satu bagian dari sambutan Dr. Saidul Amin yang menarik perhatian saya. Beliau mengingatkan bahwa kedekatan Perlis dengan gerakan Islam berkemajuan sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Jauh sebelum Universiti Muhammadiyah Malaysia berdiri, gagasan pembaruan Islam sudah memiliki jejak di Perlis. Sekitar tahun 1927–1930, menurut yang disampaikan Dr. Saidul Amin, ada tokoh seperti Tuanku Hasan dan Lebai Kecik dari Bukittinggi yang menjadi bagian dari perjalanan awal perkembangan pemikiran Islam berkemajuan di Perlis. Ada pula Taher Jalaluddin juga dari Bukittinggi yang turut membawa gagasan pembaruan ke kawasan tersebut.
Menariknya, perjalanan itu memiliki keterkaitan dengan dinamika Muhammadiyah di Minangkabau. Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan gerakan tersebut di Sumatera Barat.
Mendengar penjelasan itu, saya semakin menyadari bahwa sejarah sebuah gerakan ternyata tidak selalu berjalan dalam garis batas negara. Gagasan bisa menyeberangi laut, melewati batas administratif, dan tumbuh di tempat yang berbeda ketika menemukan masyarakat yang memiliki kebutuhan dan semangat yang sama.
Ada ungkapan Dr. Saidul Amin yang menurut saya sangat menarik:
“Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, berkembang di Minangkabau, berjaya di Perlis, dan luar biasa di Sumatera Utara.”
Tentu kalimat tersebut bukan sekadar retorika. Di dalamnya ada perjalanan sejarah sekaligus harapan.
Yogyakarta menjadi tempat lahirnya Muhammadiyah melalui KH Ahmad Dahlan. Minangkabau menjadi salah satu wilayah penting berkembangnya gerakan pembaruan dan pendidikan Muhammadiyah. Perlis memiliki sejarah kedekatan dengan gagasan Islam berkemajuan. Sementara Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah di mana Muhammadiyah kemudian berkembang melalui berbagai amal usaha dan kontribusinya bagi masyarakat.
Bagi saya, kalimat itu juga mengingatkan bahwa Muhammadiyah bukan milik satu kota, satu provinsi, bahkan bukan hanya milik satu negara.
Ia adalah gerakan yang membawa nilai dan cita-cita Islam berkemajuan. Karena itu, ketika nilai tersebut diterima dan dikembangkan di tempat lain, yang tumbuh bukan sekadar organisasi, tetapi juga persahabatan, ilmu pengetahuan, dan kerja sama kemanusiaan.
Ketika Sang Surya Menggema di Kampus UMSU
Ada satu momen yang secara pribadi membuat saya merasa sangat bahagia sekaligus bangga.
Ketika Lagu Sang Surya menggema di kampus UMSU, saya merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar suasana seremoni. Lagu yang menjadi simbol kebanggaan warga Muhammadiyah itu seakan menyatukan Indonesia dan Malaysia di bawah semangat gerakan Islam berkemajuan.
Di tempat itu, saya melihat bagaimana sebuah lagu dapat menjadi simbol persaudaraan. Sang Surya yang lahir dari rahim gerakan Muhammadiyah di Indonesia seakan memancarkan cahayanya di tanah Malaysia, mempertemukan dua bangsa yang memiliki kedekatan sejarah, budaya, bahasa, dan agama.
Perasaan itu semakin kuat karena UMAM bukan sekadar perguruan tinggi biasa. Kehadirannya menjadi catatan penting dalam perjalanan panjang pendidikan Muhammadiyah.
UMAM merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah yang ke-166, sekaligus menjadi satu-satunya perguruan tinggi Muhammadiyah dan Indonesia yang berada di luar negeri.
Karena itu, keberadaannya membawa tanggung jawab sekaligus peluang yang besar. Ia bukan hanya membawa nama UMAM, tetapi juga membawa nama Muhammadiyah dan Indonesia dalam ruang pendidikan tinggi internasional.
Tentu kita tidak boleh berhenti pada rasa bangga.
Justru kebanggaan itu harus menjadi energi untuk memastikan UMAM terus tumbuh, berkembang, dan mencapai kualitas yang diharapkan. Identitas Muhammadiyah harus berjalan bersama dengan standar akademik yang unggul, tata kelola yang profesional, keterbukaan terhadap dunia, dan kemampuan melahirkan lulusan yang mampu bersaing secara global.
Sang Surya tidak cukup hanya dikagumi cahayanya. Cahayanya harus diwujudkan dalam kerja nyata.
Islam Berkemajuan dan Manusia yang Terus Belajar
Bagi Muhammadiyah, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari gagasan Islam berkemajuan.
Islam mendorong manusia untuk membaca, berpikir, bekerja, berinovasi, dan memberikan manfaat kepada sesama. Iman dan ilmu bukan dua hal yang harus dipertentangkan, tetapi dua kekuatan yang semestinya berjalan bersama dalam membangun kehidupan.
Karena itu, perguruan tinggi Muhammadiyah harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dosen harus terus belajar. Mahasiswa harus dibekali kompetensi yang relevan. Tenaga kependidikan perlu bekerja secara profesional. Tata kelola harus semakin baik. Dan institusi harus mampu merespons perkembangan teknologi, ekonomi, serta tantangan sosial.
Universitas jangan hanya menghasilkan lulusan yang pandai menghafal teori. Ia harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama, beradaptasi, dan tetap memiliki integritas.
Kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Sebaliknya, akhlak tanpa kompetensi sering kali kesulitan menghadapi kompleksitas kehidupan.
Maka pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang membangun manusia secara utuh.
Muhammadiyah, Indonesia dan Malaysia
Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah, budaya, bahasa, dan agama. Tetapi kedekatan itu tidak cukup hanya dirayakan melalui ungkapan persaudaraan. Ia perlu dirawat melalui kerja sama yang nyata.
UMAM dapat menjadi salah satu jembatan penting dalam membangun hubungan tersebut.
Melalui pendidikan, mahasiswa dari kedua negara dapat belajar bersama, mengenal perbedaan, dan menemukan persamaan. Mereka bukan hanya mendapatkan pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman hidup dalam lingkungan yang lebih luas.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, perguruan tinggi harus melahirkan generasi yang tidak mudah terjebak dalam prasangka, fanatisme sempit, maupun sentimen primordial.
Perbedaan bangsa dan negara bukan alasan untuk saling menjauh. Justru melalui ilmu pengetahuan, perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan dan kerja sama.
Dalam konteks itulah kehadiran UMAM menjadi semakin bermakna. Ia seperti menemukan kembali jejak sejarah yang pernah berjalan puluhan tahun lalu: gagasan Islam berkemajuan yang bergerak melampaui batas geografis, kemudian bertemu dengan masyarakat dan tradisi setempat untuk melahirkan sesuatu yang baru.
Muhammadiyah memiliki modal sosial yang besar untuk memainkan peran tersebut. Namun, modal itu harus dikelola dengan profesional, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan.
UMAM diharapkan menjadi universitas yang unggul, cerdas, terpercaya, dan berdampak. Bukan hanya dikenal karena siapa Canselornya, tetapi terutama karena kualitas pendidikan, integritas pengelolaan, prestasi akademik, dan manfaatnya bagi masyarakat.
Dari Sumatera Utara untuk Sebuah Harapan
Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah di Sumatera Utara, saya memandang momentum ini dengan rasa syukur sekaligus harapan.
Sumatera Utara memiliki sejarah dan pengalaman panjang dalam perjalanan Muhammadiyah. Berbagai amal usaha, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, masjid, serta aktivitas dakwah telah menjadi bagian dari kontribusi Muhammadiyah di daerah ini.
Karena itu, ketika Dr. Saidul Amin menyebut Muhammadiyah “luar biasa di Sumatera Utara”, kalimat tersebut sekaligus menjadi kebanggaan dan tantangan.
Kebanggaan karena Muhammadiyah di Sumatera Utara telah memberikan kontribusi nyata. Tantangan karena setiap generasi memiliki kewajiban untuk melanjutkan dan meningkatkan apa yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Dari Sumatera Utara kita belajar bahwa gerakan besar tidak selalu dibangun dalam waktu singkat. Ia tumbuh dari kesungguhan, keikhlasan, kaderisasi, amal usaha, dan kesediaan untuk terus bekerja.
Pemasyhuran Canselor UMAM menjadi pengingat bahwa perjalanan Muhammadiyah masih panjang. Dunia pendidikan terus berubah, tantangan generasi muda semakin kompleks, dan masyarakat membutuhkan institusi yang bukan hanya berbicara tentang kemajuan, tetapi benar-benar menghadirkannya.
Karena itu, pengembangan UMAM perlu didukung dengan pikiran terbuka, kerja sama yang luas, tata kelola yang profesional, dan komitmen yang sungguh-sungguh.
Dari Yogyakarta ke Minangkabau, dari Minangkabau ke Perlis, dan kemudian berkembang di berbagai tempat termasuk Sumatera Utara, perjalanan itu menunjukkan bahwa ilmu dan gagasan yang baik memang tidak mengenal batas negara.
Sang Surya mungkin lahir dari bumi Indonesia, tetapi cahayanya tidak harus berhenti di Indonesia.
Ia dapat menerangi Malaysia, menguatkan persahabatan, mempertemukan manusia melalui pendidikan, dan menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.
Sebab pendidikan yang baik bukan sekadar membuat seseorang naik kelas secara akademik. Pendidikan yang baik membuat manusia semakin mampu memberi manfaat bagi manusia lainnya.
Pada akhirnya, mungkin di situlah ruh gerakan Muhammadiyah: mencerdaskan bangsa, membangun peradaban, dan menghadirkan cahaya kemajuan bagi semesta.
Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni.







