• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Rabu, September 9, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu
    Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

    Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

    Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

    Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

    Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

    Tiga Golongan Manusia dalam Surah Al-Fatihah

    OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

    OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

    Tingkatkan Mutu Layanan Medis, RS PKU Aisyiyah Boyolali Mulai Bangun Gedung Baru

    Trending Tags

    • Kabar PTMA
      Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

      Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

      Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

      Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

      Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

      Tiga Golongan Manusia dalam Surah Al-Fatihah

      OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

      OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

      Tingkatkan Mutu Layanan Medis, RS PKU Aisyiyah Boyolali Mulai Bangun Gedung Baru

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

        Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

        Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

        SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

        5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

        Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu
          Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

          Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

          Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

          Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

          Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

          Tiga Golongan Manusia dalam Surah Al-Fatihah

          OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

          OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

          Tingkatkan Mutu Layanan Medis, RS PKU Aisyiyah Boyolali Mulai Bangun Gedung Baru

          Trending Tags

          • Kabar PTMA
            Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

            Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

            Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

            Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

            Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

            Tiga Golongan Manusia dalam Surah Al-Fatihah

            OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

            OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

            Tingkatkan Mutu Layanan Medis, RS PKU Aisyiyah Boyolali Mulai Bangun Gedung Baru

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              Lafal Salam Mengakhiri Shalat dan Salam Penutup Khutbah

              Adakah Azan Iqamah untuk Shalat Sendirian?

              Roh Anak Dikorbankan untuk Pesugihan

              SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

              5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

              Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

              admin by admin
              09/09/2026
              in BeritaMu
              0
              Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

               

              Dr. Junaidi MSi
              Dr. Junaidi MSi

              Dr. Junaidi, M.Si

              WartaTerkait

              Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

              Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

              Tiga Golongan Manusia dalam Surah Al-Fatihah

              OIF UMSU Selenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium

              (Dosen UIN Sumatera Utara Medan)

               Amar ma’ruf nahi munkar sering direduksi menjadi jargon moral yang siapa pun boleh mengklaimnya, dari mubaligh di mimbar, ormas yang melakukan razia jalanan, hingga rezim yang membungkam kritik atas nama “menjaga stabilitas”. Tulisan ini mengajukan argumen yang lebih tajam, kekuatan transformatif amar ma’ruf nahi munkar tidak pernah lepas dari pertanyaan siapa yang memiliki wilayah, otoritas dan kapasitas kelembagaan untuk melaksanakannya dan dengan instrumen apa. Dipisahkan dari pertanyaan otoritas ini, amar ma’ruf nahi munkar akan jatuh ke salah satu dari dua jurang, menjadi moralisme individual yang mandul karena tak berdaya mengubah struktur, atau berubah menjadi kekerasan main hakim sendiri yang justru bertentangan dengan spirit aslinya. Pemikiran politik Islam klasik, terutama pertentangan tersembunyi antara al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah, sesungguhnya sudah memetakan jurang ini enam abad sebelum perdebatan kontemporer tentang purifikasi Islam dan vigilantisme keagamaan muncul kembali di ruang publik Indonesia.

              Dari Etika Individual ke Institusi Negara

              Kesalahan paling umum dalam wacana populer tentang amar ma’ruf nahi munkar adalah memperlakukannya semata sebagai kewajiban etis personal, seolah cukup bermodal niat baik dan keberanian, siapa pun berhak “menegakkan” kebaikan dan mencegah kemungkaran di ruang publik. Padahal, tradisi fiqh siyasah klasik justru melembagakan prinsip ini menjadi institusi negara yang formal: wilayatul hisbah. Ibn Taymiyyah dalam al-Siyasah al-Shar’iyyah fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyyah mendefinisikan wilayah sebagai wewenang dan kekuasaan yang dimiliki institusi pemerintah untuk menegakkan jihad, keadilan, hudud, amar ma’ruf nahi munkar, serta menolong pihak yang teraniaya, semua ini disebutnya sebagai kepentingan agama yang paling fundamental. Wilayatul hisbah bukan gerakan spontan warga, melainkan departemen resmi yang tugas utamanya justru melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar secara terlembaga seperti di Aceh.

              Fakta genealogis ini penting karena ia membongkar asumsi yang keliru. Dalam pemikiran politik Islam klasik, kapasitas untuk “mencegah dengan tangan” (bi al-yad), tingkatan tertinggi dalam gradasi hadis riwayat Muslim tentang perubahan kemungkaran, secara implisit terikat pada kepemilikan otoritas. Ibn Taymiyyah sendiri menegaskan bahwa penguasa yang memiliki kekuasaan (sulthan) mampu melaksanakan nahi munkar jauh lebih efektif dibanding rakyat biasa yang memiliki keterbatasan kemampuan. Sebuah pengakuan eksplisit bahwa daya paksa dalam nahi munkar adalah fungsi dari otoritas, bukan hak universal setiap individu untuk main hakim sendiri. Rakyat biasa, dalam kerangka ini secara struktural diarahkan pada tingkatan yang lebih rendah: lisan (nasihat, advokasi, kritik terbuka) dan hati (penolakan batin serta penjagaan integritas diri sendiri), bukan tindakan koersif.

              Distorsi genealogis inilah yang menjelaskan fenomena kontemporer yang meresahkan,  razia dan sweeping oleh kelompok non-negara yang mengatasnamakan amar ma’ruf nahi munkar sesungguhnya adalah pembajakan konsep hisbah dari akar kelembagaannya. Ironisnya, justru Ibn Taymiyyah, tokoh yang paling sering dikutip untuk melegitimasi ketegasan dan bahkan kekerasan atas nama nahi munkar, adalah pemikir yang paling tegas mensyaratkan wilayah sebagai prasyarat pelaksanaan nahi munkar bi al-yad. Ini bukan detail teknis yang sepele,  ini adalah inti dari keseluruhan arsitektur pemikirannya tentang negara.

               Pertanyaan berikutnya yang jarang diajukan secara serius, jika wilayatul hisbah adalah institusi abad pertengahan yang spesifik konteksnya (mengawasi pasar, moralitas publik, dan ibadah), bagaimana prinsip ini bisa relevan dengan negara-bangsa modern yang tidak lagi punya “petugas hisbah” secara harfiah?

              Jawabannya terletak pada mekanisme maslahah mursalah (kemaslahatan yang tidak secara eksplisit diatur nash), namun sejalan dengan tujuan syariat (maqashid al-syari’ah). Siyasah syar’iyyah, sebagai cabang fiqh yang mengatur hubungan negara dan hukum Islam, pada dasarnya adalah aplikasi dari maslahah mursalah, mengatur kesejahteraan dengan hukum yang bentuknya tidak termuat secara literal dalam nash, selama tujuannya menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Prinsip inilah yang secara metodologis membuka jalan bagi reinterpretasi wilayatul hisbah ke dalam bentuk-bentuk institusi modern, komisi antikorupsi, ombudsman, lembaga pengawas pemilu, pers yang bebas, hingga organisasi masyarakat sipil yang memiliki kapasitas investigasi dan advokasi kebijakan.

              Argumen ini punya implikasi tajam yang sering dihindari dalam wacana dakwah populer: jika fungsi hisbah modern telah terdistribusi ke institusi-institusi tersebut, maka klaim otoritas moral individual atau kelompok non-negara atas nama amar ma’ruf nahi munkar—tanpa keterikatan pada mekanisme akuntabilitas kelembagaan apa pun—kehilangan pijakan usul fiqh-nya sendiri. Dakwah kontemporer yang ingin setia pada spirit hisbah klasik justru semestinya mendorong penguatan institusi-institusi pengawasan tersebut dan berperan sebagai kelompok penekan (pressure group) yang mengisi kelemahan mereka—bukan mengambil alih fungsi eksekutif hisbah secara sepihak di jalanan.

              Al-Ghazali versus Ibn Taymiyyah: Dua Kalkulus Risiko, Bukan Sekadar Beda Pendapat

              Perbandingan al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah kerap disederhanakan menjadi “yang satu lembut, yang satu keras”. Pembacaan ini dangkal dan mengaburkan pertaruhan intelektual yang sesungguhnya terjadi: keduanya sedang menghitung kalkulus risiko politik yang berbeda dalam kondisi krisis legitimasi kekuasaan. Al-Ghazali menulis al-Tibr al-Masbuk fi Nasihati al-Muluk di tengah fragmentasi kekuasaan Dinasti Saljuk, dan memilih strategi nasihat kepada penguasa (nasihat al-muluk) karena baginya, ulama tidak boleh diam terhadap kezaliman, diam adalah pengkhianatan terhadap amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri. Namun ia menahan diri dari menyerukan perlawanan terbuka karena kalkulusnya bertumpu pada dar’ al-mafsadah muqaddam ‘ala jalb al-maslahah—mencegah kerusakan lebih besar (fitnah, perang saudara, kekosongan kekuasaan) didahulukan atas upaya meraih kebaikan yang belum pasti hasilnya.

              Ibn Taymiyyah hidup di tengah invasi Mongol dan kehancuran struktur kekhalifahan, menghitung kalkulus yang berbeda: bagi pemerintahan syariat yang dicita-citakannya, nilai terpenting yang harus dijaga justru adalah keadilan itu sendiri dan penegakan amar ma’ruf nahi munkar secara langsung. Bedanya bukan soal siapa yang lebih “Islami”, melainkan soal penilaian empiris terhadap Risiko, dalam kondisi otoritas negara masih relatif utuh (situasi al-Ghazali), stabilitas dinilai lebih rapuh untuk dipertaruhkan; dalam kondisi otoritas sudah runtuh dan fragmentaris (situasi Ibn Taymiyyah), diamnya ulama justru menjadi risiko yang lebih besar ketimbang koreksi terbuka.

              Relevansi tajam bagi konteks kontemporer: pertentangan ini tidak pernah selesai, dan tidak seharusnya diselesaikan dengan memilih satu tokoh sebagai “pemenang” mutlak. Yang perlu diwarisi bukan kesimpulan praktisnya, melainkan metodologi kalkulus risikonya—yakni kesediaan untuk secara jujur menilai: dalam kondisi struktural saat ini, apakah koreksi terbuka terhadap kekuasaan akan memperkuat institusi keadilan, atau justru mempercepat destabilisasi yang merugikan kelompok rentan yang seharusnya dilindungi oleh amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri?

              Kritik atas Purifikasi yang Kehilangan Wilayah: Kasus Vigilantisme Keagamaan

              Di titik inilah kerangka di atas menghasilkan kritik yang tajam terhadap sebagian praktik keagamaan populer di Indonesia. Ketika kelompok Masyarakat tanpa mandat negara, tanpa mekanisme akuntabilitas hukum, dan tanpa proses pembuktian yang layak dengan melakukan razia terhadap tempat hiburan, penggerebekan pasangan yang dicurigai berzina, atau intimidasi terhadap kelompok minoritas atas nama amar ma’ruf nahi munkar, maka praktik ini sesungguhnya bukan pelaksanaan hisbah yang otentik, melainkan penyalahgunaan terminologinya. Ia melompati dua prasyarat yang justru paling ditekankan baik oleh al-Ghazali maupun Ibn Taymiyyah: pertama, wilayah atau otoritas yang sah untuk bertindak bi al-yad.  Kedua, etika pelaksanaannya—al-Ghazali menuntut ilmu, wara’, dan akhlak baik sebagai prasyarat pelaku hisbah, sementara Ibn Taymiyyah dalam Tazkiyatun Nafs menegaskan kasih sayang sebagai pijakan amar ma’ruf nahi munkar dan mengaitkannya dengan kaidah bahwa nahi munkar tidak boleh dilakukan dengan cara yang munkar.

              Vigilantisme keagamaan bukan bentuk paling murni dari amar ma’ruf nahi munkar, ia justru bentuk penyimpangannya yang paling jauh dari akar usul fiqh yang melahirkannya. Purifikasi sosial yang otentik, dalam kerangka klasik ini justru menuntut kesabaran kelembagaan, membangun dan memperkuat mekanisme hisbah modern yang akuntabel, bukan mengambil jalan pintas koersi personal yang tidak memiliki legitimasi apa pun dalam usul fiqh siyasah itu sendiri.

              Argumen di atas membawa kita pada kesimpulan yang lebih tajam ketimbang sekadar menyatakan bahwa “amar ma’ruf nahi munkar adalah basis transformasi sosial”. Transformasi sosial yang otentik menuntut kesabaran kelembagaan. Purifikasi tidak dicapai lewat kemarahan kolektif yang meledak sesaat, melainkan lewat pembangunan institusi yang memiliki wilayah yang sah, baik institusi negara (KPK, peradilan, ombudsman) maupun institusi masyarakat sipil yang bekerja dalam koridor hukum dan etika hisbah klasik, seperti berilmu sebelum bertindak, menjaga integritas diri sebelum mengoreksi orang lain, dan mengedepankan kasih sayang di atas kekerasan.

              Bagi gerakan dakwah yang ingin setia pada tuntutan keadilan social, pemberantasan KKN, reforma agraria, pengawasan kebijakan publik, pelajaran dari pertentangan al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah bukanlah memilih menjadi “pendukung status quo” atau “pemberontak”, melainkan menjalankan kalkulus risiko yang jujur dan berpijak pada penguatan wilayah yang sah,  mendorong lembaga antikorupsi bekerja independen, memperkuat pers dan masyarakat sipil sebagai pelaksana hisbah modern, dan menahan diri dari godaan koersi personal yang justru mengkhianati akar usul fiqh dari amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri.

              Penutup

              Amar ma’ruf nahi munkar bukanlah izin universal bagi siapa pun untuk menegakkan kebenaran versinya sendiri secara sepihak. Ia adalah arsitektur etis-politis yang rumit, yang mensyaratkan otoritas, ilmu, kasih sayang, dan kalkulus risiko yang matang. Purifikasi sejati bukan tindakan spontan yang menuntut kepuasan moral instan, melainkan proyek jangka panjang membangun institusi yang layak dipercaya menjalankan fungsi hisbah di zamannya. Di titik inilah dakwah dan politik benar-benar bertemu: bukan pada siapa yang paling lantang berteriak menegakkan kebenaran, melainkan pada siapa yang paling sabar membangun wilayah yang sah untuk menegakkannya.

              *** Penulis, Dr. Junaidi MSi, Dosen UIN Sumatera Utara dan Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Medan

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

              Next Post

              Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

              admin

              admin

              InfoLain

              Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu
              BeritaMu

              Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

              09/09/2026
              BeritaMu

              Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

              09/09/2026
              BeritaMu

              Tiga Golongan Manusia dalam Surah Al-Fatihah

              09/09/2026

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Enam Hari di Sumut akibat IOD Negatif

                26/11/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0
                Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

                Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

                09/09/2026
                Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

                Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

                09/09/2026

                Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

                09/09/2026

                Tiga Golongan Manusia dalam Surah Al-Fatihah

                09/09/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (29,375)
                • Hukum Islam (1,633)
                • Kabar PTMA (4,186)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

                Urgensi Program Akademi Jurnalistik Filantropi: Merevolusi Narasi dan Merawat Kepercayaan Publik bagi Petugas Lazismu

                09/09/2026
                Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

                Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Tugas Siapa ?

                09/09/2026

                Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa, Muhammadiyah Salurkan Ratusan School Kit untuk Siswa

                09/09/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In