Dari Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027: Menyambungkan Semangat Masa Lalu dengan Masa Depan
Oleh : Jufri
Ada sesuatu yang menarik ketika kita membuka kembali lembaran sejarah Muhammadiyah. Di hadapan kita bukan sekadar tulisan lama , bukan pula hanya catatan tentang sebuah kongres yang pernah berlangsung puluhan tahun lalu. Di dalamnya ada semangat, kegelisahan, harapan dan cara berpikir para pendahulu yang ternyata masih sangat relevan untuk dibaca oleh generasi hari ini.
Saya kembali membaca naskah Khutbah Iftitah Kongres Muhammadiyah ke-28 Tahun 1939 di Medan, yang disampaikan oleh H.M. Farid Ma’ruf, Sekretaris H.B. Muhammadiyah. Semakin membacanya, semakin terasa bahwa kongres tersebut bukan hanya berbicara tentang Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi, tetapi juga tentang kaum Muslimin, rakyat dan masa depan negeri yang sedang mereka perjuangkan.
Ada satu hal yang menurut saya sangat menarik secara historis.
Kongres Muhammadiyah ke-28 tahun 1939 berlangsung ketika Indonesia masih berada dalam zaman Hindia Belanda. Indonesia belum menjadi negara merdeka. Proklamasi Kemerdekaan masih enam tahun kemudian, pada 1945.
Namun dalam khutbah iftitah tersebut, kata “Indonesia” sudah digunakan.
Ini bukan sekadar persoalan istilah. Penggunaan kata Indonesia dalam pidato Muhammadiyah pada masa itu menunjukkan adanya kesadaran kebangsaan yang telah tumbuh. Bahkan ditegaskan bahwa Kongres Muhammadiyah adalah kongres kaum Muslimin di Indonesia, yang bekerja untuk ketinggian kaum Muslimin dan rakyat pada umumnya, menurut ajaran Islam yang suci dan benar.
Kalimat ini sangat penting untuk direnungkan.
Muhammadiyah pada masa itu tidak memandang dakwah Islam hanya sebagai urusan internal organisasi. Kerja Muhammadiyah diarahkan untuk meningkatkan kehidupan kaum Muslimin sekaligus memberikan manfaat bagi rakyat pada umumnya.
Islam yang diperjuangkan Muhammadiyah memiliki dimensi keumatan sekaligus kebangsaan.
Menariknya lagi, perhatian Muhammadiyah dalam Kongres ke-28 itu ternyata sangat konkret. Mereka tidak hanya berbicara tentang gagasan besar, tetapi juga menyentuh persoalan kehidupan rakyat sehari-hari.
Pertama, pendidikan.
Muhammadiyah memberikan perhatian besar terhadap pendidikan. Pendidikan umum dan pendidikan agama diharapkan dapat diajarkan di sekolah-sekolah rakyat, baik sekolah yang didirikan pemerintah maupun sekolah yang dibangun oleh rakyat sendiri.
Gagasan ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Muhammadiyah telah melihat pendidikan sebagai jalan penting untuk membangun manusia.
Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang pintar membaca, menulis dan berhitung. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, agama, akhlak dan tanggung jawab sosial.
Jika kita tarik ke masa sekarang, gagasan itu terasa semakin relevan. Tantangan pendidikan hari ini bukan hanya bagaimana anak-anak menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga bagaimana mereka tetap memiliki karakter, adab dan nilai keagamaan.
Kedua, kesehatan dan pengobatan modern.
Muhammadiyah juga memberikan perhatian agar rakyat memiliki kesadaran menggunakan pengobatan modern melalui dokter ketika sakit, bukan menyerahkan persoalan kesehatan kepada praktik-praktik yang bersifat tahayul.
Ini menunjukkan keberanian Muhammadiyah untuk membawa masyarakat keluar dari pola pikir yang tidak rasional menuju kehidupan yang lebih berdasarkan ilmu pengetahuan.
Kalau dahulu persoalannya adalah bagaimana masyarakat percaya kepada dokter dan pengobatan modern, hari ini tantangannya berkembang menjadi bagaimana masyarakat mampu membedakan informasi kesehatan yang benar dengan informasi palsu di tengah derasnya media sosial.
Spiritnya tetap sama: agama tidak boleh dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan.
Islam justru mendorong manusia untuk menggunakan akal, mencari ilmu dan mengambil ikhtiar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, pemahaman terhadap hukum agama.
Muhammadiyah berusaha dengan sekuat-kuatnya mengembalikan kaum Muslimin kepada hukum agama yang sebenar-benarnya melalui Al-Qur’an dan Hadis.
Untuk itu dibutuhkan suatu permusyawarahan besar yang membahas hukum-hukum agama serta berbagai peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan kaum Muslimin dan seluk-beluk persoalannya.
Di sini kita melihat salah satu tradisi penting Muhammadiyah: agama dipelajari, dibahas dan dirumuskan melalui ilmu dan musyawarah.
Bukan sekadar mengikuti kebiasaan tanpa memahami dasar.
Semangat tersebut kemudian menjadi bagian penting dari tradisi tarjih dan pemikiran keislaman Muhammadiyah. Ada usaha untuk menghadirkan pemahaman Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis sekaligus mampu menjawab persoalan zaman.
Ini juga menjadi pelajaran penting bagi generasi sekarang. Persoalan umat semakin kompleks. Banyak persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi 1939: teknologi digital, kecerdasan buatan, transaksi digital, perubahan lingkungan, bioetika, ekonomi global dan berbagai persoalan sosial baru.
Karena itu, semangat musyawarah dan pengkajian keagamaan justru semakin dibutuhkan.
Keempat, perhatian kepada kaum wanita.
Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah juga memberikan perhatian kepada kaum wanita. Ada kesadaran bahwa kemajuan perempuan memiliki dampak terhadap kemajuan bangsa dan agama.
Ini merupakan pandangan yang sangat penting.
Sebab perempuan bukan sekadar bagian dari masyarakat yang harus diperhatikan, tetapi merupakan kekuatan penting dalam membangun keluarga, pendidikan dan peradaban.
Kalau perempuan maju, keluarga memiliki peluang untuk maju. Kalau keluarga maju, masyarakat memiliki fondasi yang lebih kuat. Dan ketika masyarakat maju, bangsa pun akan memperoleh manfaatnya.
Karena itu, perhatian terhadap perempuan bukan sekadar persoalan perempuan. Ia adalah persoalan keluarga, umat, bangsa dan masa depan.
Dalam konteks Muhammadiyah, perhatian ini tentu tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan yang turut membangun pendidikan, kesehatan, sosial dan dakwah.
Kelima, perhatian terhadap putra-putri Muhammadiyah yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Ini juga menarik.
Muhammadiyah pada masa itu telah berpikir jauh ke depan. Anak-anak muda yang memperoleh kesempatan belajar ke luar negeri bukan hanya didorong untuk mengejar ilmu, tetapi juga dianjurkan dan diarahkan agar mengetahui jalan yang akan ditempuh setelah kembali ke tanah air.
Artinya, pendidikan luar negeri tidak boleh berhenti pada keberhasilan pribadi.
Ilmu yang diperoleh harus memiliki hubungan dengan kepentingan masyarakat dan tanah air.
Ini adalah gagasan tentang investasi sumber daya manusia yang sangat maju untuk zamannya.
Hari ini kita mengenalnya dengan berbagai istilah: human capital, pembangunan sumber daya manusia, diaspora, transfer pengetahuan dan knowledge management.
Tetapi prinsipnya sudah lama hidup dalam pemikiran Muhammadiyah: kirim generasi untuk belajar, lalu pulangkan ilmu itu untuk membangun negeri.
Kalau kita perhatikan kelima perhatian tersebut, ada sesuatu yang sangat menarik.
Pendidikan.
Kesehatan.
Pemahaman agama.
Kemajuan perempuan.
Pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan ke luar negeri.
Semuanya merupakan bagian dari pembangunan manusia.
Dengan demikian, Kongres Muhammadiyah ke-28 di Medan pada 1939 ternyata memiliki cara pandang yang sangat luas. Muhammadiyah tidak hanya memikirkan bagaimana organisasi tumbuh, tetapi bagaimana masyarakat tumbuh.
Dan inilah yang membuat sejarah tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan Muhammadiyah hari ini.
Pada waktu itu Muhammadiyah telah melewati perjalanan panjang. Dalam khutbah iftitah tersebut, Muhammadiyah digambarkan seperti seorang anak kecil yang pada awalnya membutuhkan pertolongan dan bimbingan dari orang tuanya, kemudian belajar merangkak, duduk, berdiri dan akhirnya menjadi dewasa yang mengetahui kewajiban dan tanggung jawabnya.
Sebuah perumpamaan yang sederhana tetapi sangat dalam.
Sebab organisasi yang besar tidak lahir langsung dalam keadaan besar. Ada masa ketika ia masih kecil, penuh keterbatasan dan membutuhkan banyak tangan untuk membimbingnya. Kemudian datang masa pertumbuhan, masa menghadapi ujian, masa belajar mengambil keputusan dan akhirnya masa ketika organisasi harus mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Kongres Muhammadiyah ke-28 tahun 1939 di Medan adalah salah satu bagian penting dari perjalanan itu.
Kini, puluhan tahun kemudian, Sumatera Utara kembali mendapatkan amanah sejarah menjadi tempat berlangsungnya Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 tahun 2027.
Di sinilah saya melihat sebuah hubungan yang sangat indah.
Medan 1939 adalah warisan. Sumatera Utara 2027 adalah amanah.
Keduanya dipisahkan oleh zaman yang panjang, tetapi disatukan oleh semangat perjuangan.
Tahun 1939 adalah zaman Hindia Belanda. Tahun 2027 adalah zaman Indonesia merdeka. Dahulu Muhammadiyah berbicara tentang Indonesia ketika negara Indonesia belum lahir. Sekarang kita hidup dalam Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Maka tanggung jawab kita tentu jauh lebih besar.
Jika dahulu Muhammadiyah bekerja untuk ketinggian kaum Muslimin dan rakyat pada umumnya, maka hari ini semangat itu harus diterjemahkan dalam konteks Indonesia modern: melalui pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi, dakwah yang mencerahkan, kemajuan perempuan, pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Di sinilah Muktamar ke-49 jangan hanya dipandang sebagai agenda organisasi lima tahunan.
Ia harus menjadi jembatan sejarah.
Jembatan yang menghubungkan perjuangan para pendahulu dengan tantangan generasi sekarang.
Dahulu mereka berbicara tentang sekolah rakyat. Sekarang kita berbicara tentang pendidikan berkualitas, digitalisasi dan kecerdasan buatan.
Dahulu mereka mengajak masyarakat mempercayai dokter dan meninggalkan tahayul. Sekarang kita menghadapi tantangan hoaks kesehatan dan disinformasi digital.
Dahulu mereka membicarakan hukum agama melalui musyawarah besar. Sekarang kita menghadapi persoalan-persoalan baru yang membutuhkan ijtihad dan pemikiran keislaman yang mendalam.
Dahulu mereka berbicara tentang kemajuan wanita. Sekarang kita dituntut memastikan perempuan memiliki kesempatan yang luas untuk berkontribusi dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, organisasi dan kehidupan kebangsaan.
Dahulu mereka memikirkan anak-anak muda yang belajar ke luar negeri dan bagaimana mereka kembali membangun tanah air. Sekarang kita memiliki tantangan yang jauh lebih besar untuk mengelola sumber daya manusia dalam dunia yang semakin global.
Karena itu, sejarah bukan untuk membuat kita bernostalgia.
Sejarah adalah cermin untuk melihat apakah kita sudah berjalan cukup jauh dari tempat para pendahulu memulai langkahnya.
Muhammadiyah hari ini tentu sudah jauh lebih besar.
Tetapi semakin besar organisasi, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Jangan sampai pertumbuhan kelembagaan tidak diikuti pertumbuhan kualitas manusia.
Jangan sampai banyaknya amal usaha tidak sejalan dengan semakin kuatnya ruh keikhlasan.
Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita kehilangan kedalaman nilai.
Dan jangan sampai kebesaran organisasi membuat kita lupa bahwa sejak awal Muhammadiyah hadir untuk memberikan kemanfaatan bagi umat, bangsa dan kemanusiaan.
Karena itu, Muktamar ke-49 di Sumatera Utara harus menjadi momentum untuk bertanya kembali:
Apa yang harus kita warisi dari masa lalu?
Kita warisi semangat ilmu, pendidikan, dakwah, musyawarah, pembaruan, kesehatan, kemajuan perempuan, pengembangan sumber daya manusia dan pengabdian kepada rakyat.
Apa yang harus kita kerjakan pada masa kini?
Kita perkuat kaderisasi, kualitas pendidikan, profesionalisme amal usaha, komunikasi publik, penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.
Dan masa depan seperti apa yang ingin kita bangun?
Masa depan Muhammadiyah tidak cukup diukur dari banyaknya gedung, sekolah, kampus, rumah sakit atau amal usaha.
Ia harus diukur dari seberapa banyak manusia yang tercerahkan, seberapa kuat karakter generasi mudanya, seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat dan seberapa jauh kontribusinya bagi Indonesia serta dunia.
Sebab boleh jadi suatu hari nanti, anak cucu kita akan membuka kembali catatan sejarah dan membaca tentang Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara.
Mereka mungkin akan bertanya:
Apa yang dilakukan generasi Muhammadiyah pada masa itu?
Mudah-mudahan jawabannya bukan sekadar bahwa kita pernah menyelenggarakan sebuah muktamar besar.
Tetapi bahwa pada masa itulah kita berhasil melanjutkan cita-cita para pendahulu dengan konteks zaman yang baru.
Bahwa kita memperkuat pendidikan.
Memajukan kesehatan.
Mengembangkan pemikiran Islam.
Menguatkan peran perempuan.
Membangun sumber daya manusia.
Memperluas dakwah.
Dan memperbesar kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa dan kemanusiaan.
Dari Medan 1939 kita belajar bahwa para pendahulu sudah berpikir jauh melampaui zamannya.
Dari Sumatera Utara 2027 kita harus membuktikan bahwa generasi kita juga mampu berpikir jauh melampaui zamannya.
Masa lalu tidak untuk kita tinggali. Masa lalu adalah tempat kita belajar.
Masa kini adalah tempat kita bekerja.
Dan masa depan adalah tempat kita menitipkan amanah.
Maka dari Kongres Muhammadiyah ke-28 tahun 1939 di Medan menuju Muktamar Muhammadiyah ke-49 tahun 2027 di Sumatera Utara, sesungguhnya kita sedang menyaksikan satu perjalanan panjang: dari semangat para pendahulu, menuju tanggung jawab generasi sekarang, untuk membangun masa depan Muhammadiyah yang semakin mencerahkan.
Menghargai masa lalu bukan berarti hidup di masa lalu.
Justru dengan memahami masa lalu, kita tahu dari mana kita berasal, mengapa kita berjalan, dan ke mana kita harus menuju.
Menghargai masa lalu, menghidupkan semangat hari ini, dan membangun masa depan.
Itulah cara sebuah gerakan berkemajuan menjaga sejarahnya tanpa terjebak di dalam sejarah.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



