MAULID NABI : MENGHIDUPKAN CINTA RASUL DENGAN MENELADANI AKHLAQNYA
Oleh : Ustadz Talkisman Tanjung – Batahan
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW saat ini diarahkan tidaklah sekedar menelusuri sejarah kelahiran Nabi, tetapi kepada bagaimana peringatan Maulid melahirkan perubahan akhlak, ibadah, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Dan Allah berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad; dinilai sahih oleh sejumlah ulama)
Mengapa fokusnya pada pembentukan akhlaqul karimah ? Sebab, hari ini banyak orang yang paham ilmu termaduk sejarah kelahiran Nabi, namun tidak punya Akhlak yang mulia. Bukankah kita sering mendengar bahwa Adab jauh lebih tinggi dibanding ilmu.
Beberapa pesan utama yang bisa dikembangkan
Pertama : Mencintai Nabi bukan sekadar banyak menyebut namanya, tetapi
Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah dan akhlaknya.
Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Jadi ukuran cinta bukan hanya “berapa banyak kita bershalawat?”, tetapi juga:
apakah shalat kita semakin baik?
apakah kejujuran kita semakin kuat?
apakah lisan kita semakin terjaga?
apakah kita semakin sayang kepada keluarga?
apakah kita semakin peduli kepada fakir miskin dan tetangga?
apakah kita semakin jauh dari fitnah, ghibah dan permusuhan?
Kedua: Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan dalam keluarga.
Beliau bukan hanya pemimpin umat, tetapi juga suami, ayah, sahabat dan tetangga yang penuh kasih sayang.
Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”
(HR. Muslim)
Ini luar biasa. Seakan-akan Al-Qur’an tidak hanya dibaca oleh Rasulullah ﷺ, tetapi diterjemahkan menjadi perilaku hidup beliau.
Ketiga: Nabi ﷺ mengajarkan kasih sayang.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’: 107)
Maka jangan sampai kita rajin memperingati Maulid tetapi masih mudah memutus silaturahmi, mudah marah, suka menghina, senang menyebarkan aib, dan gemar bermusuhan.
Maulid harus membuat hati lebih lembut, bukan hanya suara lebih keras
Ketika bershalawat.
Kisah teladan yang sangat menyentuh dimasa lalu,
Suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama para sahabat. Lewatlah jenazah seorang Yahudi. Rasulullah ﷺ oberdiri sebagai penghormatan.
Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah ia jenazah seorang Yahudi?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
أَلَيْسَتْ نَفْسًا؟
“Bukankah dia juga seorang manusia?”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lihatlah akhlak Nabi ﷺ.
Beliau mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh menghilangkan kemanusiaan.
Penutup
Kalau saat ini kita memperingati Maulid Nabi ﷺ, jangan sampai setelah acara selesai shalawat berhenti, tetapi akhlak Nabi juga berhenti.
Jangan sampai kita menangis ketika mendengar kisah Rasulullah ﷺ, tetapi besok kembali menyakiti orang lain.
Jangan sampai kita bershalawat dengan lisan, tetapi menghina dengan lisan yang sama.
Jangan sampai kita mengaku umat Nabi Muhammad ﷺ, tetapi meninggalkan shalat, berdusta dalam berdagang, mengkhianati amanah, memutus silaturahmi menyakiti tetangga.dan lain sebagainya.
Mari kita jadikan Maulid sebagai momentum perubahan.
Dari malas menjadi rajin beribadah.
Dari pemarah menjadi penyabar.
Dari pendendam menjadi pemaaf.
Dari sombong menjadi tawadhu’.
Dari suka memecah belah menjadi perekat persaudaraan.
Dari hanya mencintai Nabi dengan ucapan menjadi mencintai Nabi dengan keteladanan.
Sebab Rasulullah ﷺ telah bersabda:
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka marilah kita berdoa:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالتَّخَلُّقَ بِأَخْلَاقِهِ، وَاجْمَعْنَا مَعَهُ فِي الْجَنَّةِ.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi kami Muhammad ﷺ, kemampuan mengikuti sunnahnya, menghiasi diri dengan akhlaknya, dan kumpulkanlah kami bersamanya di dalam surga-Mu.”
Batahan, 12 Rabi’ul Awwal 1448 H/25 Agustus 2026..



