Pertemuan Hangat di Tengah Persiapan Muktamar
Oleh : Jufri
Direktur Siber Polda Sumatera Utara Kombes Pol H. Bayu Wicaksono berkesempatan bertemu dengan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Agung Danarto dan Dr. dr. Agus Taufikurrahman di sebuah kafe di Kota Medan. Pertemuan tersebut berlangsung secara spontan dan tidak direncanakan.
Hadir pula Rektor UMSU Prof. Akrim, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Dr. Marah Doli Nasution, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan Prof. Muhammad Qorib, Sekretaris BPH Drs. Mutholib, M.M., serta Bendahara BPH Dr. H. Irwan Syahputra.
Meski berlangsung tanpa rencana, pertemuan dengan keluarga besar Muhammadiyah itu terasa hangat dan penuh keakraban. Apalagi Kombes Pol H. Bayu Wicaksono bukan sosok yang asing dengan Muhammadiyah. Di tengah tugasnya sebagai anggota Polri, ia juga dikenal memiliki kedekatan dan hubungan yang baik dengan warga Muhammadiyah.
Bagi Kombes Pol H. Bayu Wicaksono, pertemuan tersebut tentu menjadi momen yang membahagiakan. Ia dapat bersilaturahmi langsung dengan para pimpinan Muhammadiyah, termasuk Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang tengah berada di Medan. Kedekatan emosional itu semakin terasa karena Kombes Pol Bayu sering disebut sebagai anak ideologis Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir.
Pertemuan sederhana di sebuah kafe itu akhirnya menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai unsur: kepolisian, pimpinan pusat Muhammadiyah, dan jajaran pimpinan UMSU. Tidak selalu harus dalam forum resmi, silaturahmi kadang justru tumbuh dari perjumpaan yang sederhana dan tidak direncanakan.
Kehadiran pimpinan pusat Muhammadiyah di Sumatera Utara sendiri berkaitan dengan agenda meninjau persiapan venue Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah yang akan dipusatkan di Desa Sientis, Deli Serdang.
Pembangunan berbagai fasilitas untuk menyambut Muktamar yang dijadwalkan berlangsung pada November 2027 tersebut terus berjalan. Persiapan itu juga senantiasa dipantau oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar seluruh kebutuhan pelaksanaan Muktamar dapat dipersiapkan dengan baik.
Muhammadiyah sendiri dikenal sebagai organisasi Islam berkemajuan yang mengusung konsep Darul Ahdi wa Syahadah. Konsep ini menempatkan Islam dan keindonesiaan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Bagi Muhammadiyah, menjadi Muslim yang baik sekaligus menjadi warga negara yang baik bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan.
Muhammadiyah mungkin tidak selalu meneriakkan jargon “NKRI harga mati”. Namun, konsep Darul Ahdi wa Syahadah sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam tentang kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang berdaulat.
Komitmen itu bukan sesuatu yang baru muncul belakangan. Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, Muhammadiyah telah hadir melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial dan berbagai amal usaha untuk mencerdaskan serta memajukan kehidupan masyarakat. Sejarah tersebut menjadi bukti bahwa kecintaan kepada Indonesia bagi Muhammadiyah bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata.
Karena itu, Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara kelak bukan hanya menjadi perhelatan internal organisasi. Ia juga dapat menjadi momentum untuk kembali meneguhkan bahwa Islam berkemajuan dan keindonesiaan dapat berjalan beriringan. Muhammadiyah ingin terus berkontribusi menghadirkan Indonesia yang berkemajuan, berkeadaban dan berkeadilan.
Dan mungkin, pertemuan spontan di sebuah kafe di Kota Medan itu menjadi salah satu cerita kecil dari perjalanan panjang menuju Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Tanah Deli. Sebuah pertemuan sederhana, tetapi memperlihatkan bahwa silaturahmi, kebersamaan dan kolaborasi selalu memiliki tempat penting dalam perjalanan sebuah bangsa dan organisasi.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



