Poda Na Lima : Kearifan Lokal Nilai Universal Menuju Islam Berkemajuan
Oleh : Jufri
Selepas salat Magrib, sebagaimana biasa, jika handphone sudah terpegang, pikiran saya pun ikut menerawang ke mana-mana. Entah bagaimana, malam ini terlintas kembali di pikiran saya tentang Poda Na Lima. Meskipun sudah beberapa kali saya tuliskan, kali ini saya ingin menghubungkannya dengan Gerakan Islam Berkemajuan dan tema Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara: “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya.”
Sebagai masyarakat Sumatera Utara saya merasa bahwa Poda Na Lima bukan hanya perlu dan cocok untuk masyarakat Batak atau Mandailing , tapi bahkan sangat cocok menjadi nilai yang diamalkan oleh siapapun dan dimanapun.
Rasanya, Poda Na Lima sebagai salah satu kearifan lokal Sumatera Utara harus terus diperkenalkan dan disosialisasikan kepada masyarakat, termasuk kepada warga Muhammadiyah. Pesan-pesan yang terkandung di dalamnya sebenarnya bersifat universal, lintas suku bahkan lintas agama. Nasihatnya sederhana, tetapi sangat penting untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, saya membayangkan Poda Na Lima bukan hanya sebagai warisan budaya yang disimpan dalam ingatan, tetapi juga sebagai nilai kehidupan yang dapat menjadi bagian dari semangat menyukseskan Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara.
Muktamar bukan sekadar forum permusyawaratan organisasi. Muktamar juga merupakan momentum untuk memperkenalkan wajah Muhammadiyah dan Sumatera Utara kepada seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.
Menyukseskan Muktamar bukan hanya soal menyiapkan tempat, acara dan berbagai kebutuhan teknis. Lebih dari itu, Muktamar adalah kesempatan untuk menghadirkan wajah Muhammadiyah dan Sumatera Utara yang berkemajuan.

Di sinilah Poda Na Lima menjadi menarik untuk direnungkan:
Paias Rohamu — bersihkan hatimu.
Paias Pamatangmu — bersihkan tubuhmu.
Paias Parabitonmu — bersihkan pakaianmu.
Paias Bagasmu — bersihkan rumahmu.
Paias Pakarangammu — bersihkan lingkunganmu.
Lima pesan sederhana. Tetapi jika diamalkan, ia dapat menjadi cermin kepribadian manusia, keluarga, masyarakat bahkan sebuah gerakan.
Segala sesuatu bermula dari hati. Paias Rohamu mengajarkan kita untuk membersihkan hati sebelum berusaha membersihkan dunia. Islam Berkemajuan tidak mungkin dibangun oleh manusia yang hatinya dipenuhi kesombongan, iri hati, dendam dan kebencian. Berorganisasi membutuhkan keikhlasan, berjuang membutuhkan kesabaran, memimpin membutuhkan kerendahan hati dan berbeda pendapat membutuhkan kedewasaan.
Dari hati yang bersih lahir pikiran yang jernih. Dari pikiran yang jernih lahir tindakan yang bijaksana.
Paias Pamatangmu mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan. Manusia yang sehat akan lebih mampu belajar, bekerja, beribadah dan memberikan manfaat. Membangun bangsa yang cerdas juga berarti membangun generasi yang sehat, mendapatkan pendidikan yang baik, makanan yang bergizi dan lingkungan yang sehat.
Paias Parabitonmu mengingatkan kita bahwa kebersihan bukan hanya soal penampilan. Pakaian yang bersih harus sejalan dengan perilaku yang baik. Jangan sampai penampilan kita rapi, tetapi ucapan dan perilaku kita merugikan orang lain. Kebersihan lahir harus berjalan bersama kebersihan batin.
Paias Bagasmu mengingatkan bahwa rumah adalah sekolah pertama bagi manusia. Di rumah anak-anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, disiplin dan penghormatan kepada orang lain. Jika keluarga baik, masyarakat akan lebih mudah dibangun. Karena itu, Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya juga harus dimulai dari rumah-rumah yang menjadi tempat tumbuhnya manusia berilmu, beriman dan berakhlak.
Kemudian Paias Pakarangammu membawa pesan yang lebih luas. Lingkungan bukan hanya halaman rumah, tetapi juga kampung, kota, bangsa bahkan semesta. Islam Berkemajuan tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi baik secara pribadi, tetapi juga mengajak setiap orang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.
Seorang Muslim tidak cukup hanya bersih dirinya. Ia juga harus ikut membersihkan kehidupan sosial dari kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, kekerasan, kebencian dan kerusakan lingkungan. Seorang warga Muhammadiyah tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi bagi persoalan masyarakat.
Jika direnungkan, Poda Na Lima memiliki alur yang sangat sistematis:
Hati → Tubuh → Pakaian → Rumah → Lingkungan.
Perubahan dimulai dari manusia, tetapi tidak boleh berhenti pada manusia.
Inilah salah satu karakter penting Islam Berkemajuan. Kebaikan pribadi harus menjadi energi untuk memperbaiki masyarakat. Ilmu tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan, tetapi harus menjadi amal. Kecerdasan tidak boleh hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi harus memberi manfaat. Kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas manusia dan kebersihan kehidupan sosial.
Dalam konteks Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara, Poda Na Lima dapat menjadi cermin kepribadian tuan rumah.
Paias Rohamu — hadir dengan hati yang ikhlas.
Paias Pamatangmu — hadir dengan tubuh yang sehat.
Paias Parabitonmu — tampil dengan penuh kehormatan dan martabat.
Paias Bagasmu — siapkan rumah dan tempat tinggal dengan baik.
Paias Pakarangammu — jaga lingkungan agar bersih, nyaman dan menyenangkan.
Bukankah semua itu juga bagian dari akhlak?
Maka, kearifan lokal tidak harus dipertentangkan dengan Islam. Nilai-nilai kebaikan yang hidup dalam budaya masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat pesan-pesan universal Islam.
Muhammadiyah dengan semangat Islam Berkemajuan harus mampu berdialog dengan budaya tanpa kehilangan prinsip-prinsip Islam. Budaya yang baik dapat dirawat, nilai yang sesuai dengan Islam dapat dikembangkan dan tradisi yang mengandung kebaikan dapat menjadi bagian dari dakwah pencerahan.
Ketika semangat Cerdas, Unggul, Terpercaya dihubungkan dengan tema Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya, maka kecerdasan harus memiliki arah.
Cerdas pikirannya. Bersih hatinya. Sehat tubuhnya. Baik perilakunya. Harmonis keluarganya. Bermanfaat bagi lingkungannya.
Itulah manusia yang mampu menjadi bagian dari bangsa yang cerdas dan semesta yang bercahaya.
Pada akhirnya, Poda Na Lima bukan sekadar nasihat masa lalu. Ia adalah kearifan lokal yang tetap relevan untuk menata masa depan.
Dari hati yang bersih lahir pikiran yang cerdas.
Dari pikiran yang cerdas lahir tindakan yang berkemajuan.
Dari tindakan yang berkemajuan lahir masyarakat yang tercerahkan.
Dan dari masyarakat yang tercerahkan, semoga lahir bangsa yang cerdas dan semesta yang bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




