Dari ‘Rindu Serindu-rindunya’ Menuju Unggul Seunggul-unggulnya’
Oleh : Jufri
Dulu, pada dekade 1990-an, ada sebuah lagu yang cukup populer dengan syair, “Rindu, serindu-rindunya…” Sebuah ungkapan tentang kerinduan yang begitu dalam.
Sabtu kemarin, saya mendengar sebuah ungkapan lain yang juga menggunakan pengulangan kata, tetapi dalam konteks yang berbeda. Dalam sebuah kesempatan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH dr. Agus Taufiqurrahman, menyampaikan bahwa di antara tafsir dari kuntum khaira ummah—sebaik-baik umat—adalah menjadi umat yang unggul.
Bukan sekadar unggul.
Tetapi unggul seunggul-unggulnya.
Beliau lalu mengikatkan kepada petuah fenomenal Pak AR, KH Abdul Rozak Fakhruddin: bahwa unggul itu ,: unggul intelektual, unggul moral dan unggul sosial.
Tiga keunggulan yang seharusnya menjadi satu kesatuan.
Sebab, kecerdasan intelektual tanpa moral dapat melahirkan manusia pintar tetapi berbahaya. Moral tanpa kecerdasan intelektual dapat membuat seseorang baik, tetapi mungkin kurang mampu menghadapi kompleksitas persoalan zaman. Sementara kecerdasan dan moral tanpa keunggulan sosial bisa membuat seseorang pintar dan baik, tetapi belum tentu mampu memberi manfaat yang luas bagi masyarakat.
Karena itu, kader Muhammadiyah harus dibentuk menjadi manusia yang cerdas pikirannya, baik akhlaknya dan luas manfaat sosialnya.
Dalam suasana itulah, ketika berlangsung sesi foto dan video bersama Rektor UMSU, Prof. Akrim, dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sumatera Utara, slogan UMSU: “Cerdas, Unggul, Terpercaya” terasa semakin menemukan makna dan relevansinya.
Setelah mendengar ungkapan “unggul seunggul-unggulnya” dari KH dr. Agus Taufiqurrahman, slogan itu pun seperti mendapatkan tambahan semangat.
Maka, dalam sesi tersebut, slogan UMSU itu kami tambahkan dengan ungkapan:
UMSU: Unggul seunggul-unggulnya!
Sebuah ungkapan yang mungkin terdengar sederhana, bahkan bisa menjadi bahan canda dan semangat dalam sesi foto serta video. Tetapi di baliknya terdapat harapan dan sekaligus tantangan.
Sebab, menjadi unggul bukan hanya soal slogan.
Unggul harus terlihat dalam kualitas pendidikan. Unggul dalam riset dan inovasi. Unggul dalam pengabdian kepada masyarakat. Unggul dalam tata kelola. Unggul dalam dakwah. Unggul dalam kaderisasi. Dan yang paling penting, unggul dalam melahirkan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kekuatan moral dan kepedulian sosial.
Rektor UMSU, Prof. Akrim, juga mengingatkan bahwa pendidikan, dakwah dan kaderisasi merupakan fungsi penting Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Pendidikan melahirkan manusia berilmu. Dakwah memberikan arah agar ilmu menjadi jalan kebaikan. Sementara kaderisasi memastikan nilai-nilai perjuangan terus diwariskan dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah. Ia harus melahirkan manusia yang memiliki ilmu, iman, karakter, kepedulian dan kemampuan untuk memberi manfaat.
Inilah tugas berat sekaligus mulia yang sedang dikerjakan oleh Muhammadiyah Sumatera Utara dan UMSU dalam mempersiapkan dan menyukseskan Muktamar Muhammadiyah ke-49.
Muktamar bukan sekadar agenda organisasi.
Ia adalah peristiwa sejarah.
Karena itu, persiapannya juga tidak boleh hanya dipahami sebagai pekerjaan teknis menyiapkan tempat, fasilitas dan rangkaian acara. Muktamar harus menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Muhammadiyah mampu mengelola agenda besar dengan manajemen yang baik, sumber daya manusia yang unggul, teknologi yang maju, pelayanan yang profesional dan tetap berakar pada nilai-nilai Islam.
Di sinilah pesan KH dr. Agus Taufiqurrahman tentang kemajuan menjadi sangat penting.
Beliau mengingatkan bahwa kemajuan harus menjadi model Muhammadiyah. Jika kata berkemajuan disebut, maka orang akan teringat kepada Muhammadiyah.
Ini bukan sekadar persoalan citra organisasi.
Ini adalah tanggung jawab sejarah.
Muhammadiyah harus menjadi contoh bahwa Islam dapat melahirkan kemajuan. Bahwa kesalehan tidak harus berhadapan dengan modernitas. Bahwa tradisi keislaman dapat berjalan bersama ilmu pengetahuan, teknologi, profesionalisme dan tata kelola yang baik.
Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan.
Ia harus terlihat dalam cara berpikir, cara bekerja, cara mengelola organisasi, cara membangun pendidikan, cara mengembangkan rumah sakit, cara mengelola perguruan tinggi, cara melakukan dakwah dan cara menyiapkan kader.
Kalau Muhammadiyah ingin disebut sebagai gerakan Islam berkemajuan, maka kemajuan itu harus terasa dan terlihat.
Dan yang tidak kalah penting, kemajuan itu harus memiliki keberlanjutan.
Tidak boleh sebuah prestasi hanya berhenti pada satu generasi. Tidak boleh sebuah kemajuan hanya bergantung pada satu atau dua orang. Organisasi yang besar harus mampu membangun sistem, tradisi dan kader yang mampu melanjutkan apa yang telah dirintis.
Sebab Muhammadiyah bukan organisasi yang dibangun untuk satu masa.
Muhammadiyah adalah gerakan yang harus terus hidup, tumbuh dan berkembang melampaui zaman.
Karena itu, pendidikan harus terus diperkuat. Dakwah harus terus dikembangkan. Kaderisasi harus terus dirawat. Dan semuanya harus melahirkan manusia-manusia unggul.
Mungkin, jika dulu ada lagu yang berbicara tentang “rindu serindu-rindunya”, maka dalam konteks Muhammadiyah hari ini kita boleh mengatakan:
Unggul seunggul-unggulnya.
Unggul dalam ilmu.
Unggul dalam akhlak.
Unggul dalam manfaat sosial.
Unggul dalam mengelola amanah.
Unggul dalam melahirkan kader.
Dan akhirnya, unggul dalam menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.
Sebab, apabila kemajuan benar-benar telah menjadi karakter Muhammadiyah, maka setiap kali orang berbicara tentang Islam Berkemajuan, orang akan teringat kepada Muhammadiyah.
Dan tugas generasi kita adalah memastikan bahwa kemajuan itu tidak hanya hadir hari ini, tetapi terus berlanjut pada masa yang akan datang.
Cerdas. Unggul. Terpercaya.
Dan dalam semangat yang disampaikan KH dr. Agus Taufiqurrahman:
Unggul seunggul-unggulnya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



