Memahami Pemikiran Kiai Ahmad Dahlan Dari Fase Tradisi Jumud Menuju Fase Tajdid Pembaruan
Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., M.A. – Analis Kajian Potret Dinamika Muhammadiyah
Perjalanan pemikiran Kiai Ahmad Dahlan dapat dilihat melalui dua fase penting. Fase pertama adalah masa ketika beliau masih menjadi santri muda. Pada fase ini, Kiai Ahmad Dahlan tumbuh dan belajar dalam lingkungan keislaman tradisional yang berkembang di Nusantara. Pengalaman tersebut membentuk fondasi keilmuan agama yang kuat sekaligus memperkenalkan beliau pada praktik-praktik keagamaan masyarakat saat itu. Fase ini menjadi bekal penting yang membuat beliau memahami karakter umat dan mampu berdakwah dengan pendekatan yang bijaksana.
Fase kedua adalah dimulai setelah beliau menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu di Makkah. Di sana beliau berinteraksi dengan berbagai pemikiran pembaruan (tajdid) yang berkembang di dunia Islam. Dari pengalaman tersebut tumbuh semangat untuk mengembalikan pemahaman dan praktik Islam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih, sekaligus mendorong kemajuan umat melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan amal sosial.
Berangkat dari dua fase tersebut, Kiai Ahmad Dahlan kemudian mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 sebagai gerakan dakwah Islam yang berorientasi pada tajdid (pembaruan). Pembaruan yang beliau lakukan bukanlah untuk memusuhi atau merendahkan Islam tradisional, melainkan mengajak umat kembali kepada ajaran Islam yang autentik dengan pendekatan yang santun, argumentatif, dan penuh hikmah. Pengalaman beliau di lingkungan tradisional justru menjadi modal untuk membangun dialog dan melakukan perubahan secara damai.
Perjuangan dakwah Kiai Ahmad Dahlan tidak berhenti pada ceramah di mimbar. Beliau meyakini bahwa dakwah harus diwujudkan dalam aksi nyata. Karena itu, beliau membangun sekolah-sekolah modern yang memadukan ilmu agama dengan ilmu umum, mendirikan panti asuhan, rumah penampungan bagi kaum dhuafa, serta mengembangkan pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial. Dakwah menurut beliau adalah menghadirkan solusi atas persoalan umat, bukan sekadar menyampaikan nasihat.
Semangat dakwah Kiai Ahmad Dahlan juga berakar kuat pada nilai-nilai Al-Qur’an. Surah Al-Ma’un menjadi landasan teologi yang menegaskan pentingnya kepedulian terhadap fakir miskin, anak yatim, dan kelompok yang lemah. Surah Al-‘Ashr mengajarkan pentingnya iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Sementara Surah Ali ‘Imran ayat 104 menjadi inspirasi gerakan amar makruf nahi mungkar yang terorganisasi melalui Muhammadiyah.
Melalui semangat tersebut, Kiai Ahmad Dahlan mengajak umat untuk *fastabiqul khairat* (berlomba-lomba dalam kebaikan), membersihkan praktik tahayul, bid’ah, dan khurafat (TBC) menurut manhaj Muhammadiyah, meningkatkan kualitas pendidikan, membangun etos kerja, serta menguasai ilmu agama (ad-din) dan ilmu pengetahuan serta teknologi (ad-dunya). Beliau menegaskan bahwa kemajuan umat tidak cukup hanya dengan kesalehan ritual, tetapi juga harus diwujudkan melalui kecerdasan intelektual, kepedulian sosial, kemandirian ekonomi, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Warisan terbesar perjuangan dakwah Kiai Ahmad Dahlan adalah menghadirkan Islam sebagai agama yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan kehidupan. Dakwah beliau tidak dibangun di atas permusuhan, melainkan melalui keteladanan, pendidikan, pelayanan sosial, dan pembinaan masyarakat. Inilah yang kemudian menjadi ciri utama Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan, yang memadukan kemurnian akidah, keluasan ilmu, kemajuan peradaban, dan kebermanfaatan bagi seluruh umat manusia. (***)





