Darul Arqam: Merawat Cahaya Kepemimpinan, Meneguhkan Langkah Persyarikatan
Oleh : Jufri
Mulai siang, Kamis 9 Juli hingga Ahad 12 Juli 2026, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara bersama seluruh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sumatera Utara serta Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumatera Utara mengikuti Pengkaderan Darul Arqam yang dilaksanakan di Mess Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pora-Pora, Parapat, Kabupaten Simalungun, di tepian Danau Toba yang mempesona. Pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum untuk memperbarui semangat perjuangan, mempererat ukhuwah, menyamakan langkah, dan meneguhkan komitmen kepemimpinan dalam menyongsong tantangan dakwah yang semakin dinamis.
Muhammadiyah sejak awal berdirinya memahami bahwa organisasi yang besar tidak cukup hanya memiliki amal usaha yang banyak atau anggota yang melimpah. Organisasi juga harus memiliki kader yang tangguh, pemimpin yang berintegritas, dan sistem pengkaderan yang mampu menjaga kesinambungan perjuangan. Karena itulah Darul Arqam selalu menempati posisi strategis dalam perjalanan Persyarikatan sebagai wahana memperkuat ideologi, memperdalam nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta membangun karakter kepemimpinan yang amanah.
Pengkaderan merupakan cara Muhammadiyah merawat kebersamaan, kekompakan, dan persatuan. Nilai-nilai itulah yang menjadi modal utama untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Terlebih lagi, Sumatera Utara telah dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada tahun 2027 mendatang. Amanah besar tersebut tentu membutuhkan kesiapan yang tidak hanya terlihat dari megahnya fasilitas dan tertatanya kepanitiaan, tetapi juga dari kokohnya persaudaraan serta soliditas para pimpinan di semua tingkatan. Dalam konteks itu, Darul Arqam menjadi salah satu ikhtiar strategis sekaligus gebrakan awal menuju suksesnya Muktamar Muhammadiyah di Tanah Deli.
Tantangan Muhammadiyah hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Perubahan sosial berlangsung begitu cepat, teknologi digital mengubah pola kehidupan masyarakat, arus informasi bergerak tanpa batas, sementara persoalan kebangsaan dan keumatan terus menghadirkan dinamika baru. Semua itu menuntut para pimpinan Muhammadiyah memiliki keluasan wawasan, keteguhan ideologi, kecerdasan membaca perubahan, sekaligus kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Di sinilah pentingnya pengkaderan sebagai ruang memperkuat kapasitas sekaligus memantapkan istiqamah.
Menariknya, seluruh narasumber dalam Darul Arqam ini berasal dari unsur Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kehadiran mereka bukan untuk menggurui, melainkan untuk berbagi pengalaman, memperluas wawasan, menyegarkan kembali semangat ideologis, serta saling menguatkan dalam mengemban amanah Persyarikatan. Pada saat yang sama, pengkaderan juga menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman antarpimpinan dari berbagai daerah, saling belajar dari keberhasilan maupun tantangan yang dihadapi, sekaligus merawat kerendahan hati. Sebab, semakin tinggi amanah yang diemban, semakin besar pula kebutuhan untuk terus belajar, mendengar, menerima masukan, dan menghargai pandangan orang lain. Dalam Muhammadiyah, proses belajar tidak mengenal batas usia maupun jabatan. Semua adalah kader yang terus bertumbuh, saling berbagi, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Pengkaderan sejatinya bukan hanya transfer ilmu, melainkan juga proses membangun karakter kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kepandaiannya berbicara atau kemampuannya mengelola organisasi, tetapi juga dari keluasan hati, ketulusan mengabdi, dan kesediaannya untuk terus memperbaiki diri. Kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang membuat seorang pemimpin mampu menerima kritik, menghargai perbedaan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai dakwah.
Darul Arqam juga merupakan aktualisasi nyata dari gagasan Islam Berkemajuan yang selaras dengan tema Muktamar Muhammadiyah, “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Kecerdasan bukan sekadar kemampuan intelektual, melainkan kecerdasan spiritual, sosial, dan moral. Sementara cahaya bukan hanya simbol pengetahuan, tetapi juga keteladanan yang menerangi lingkungan sekitarnya. Cahaya itu harus terlebih dahulu hidup dalam diri para pimpinan Muhammadiyah sebelum memancar ke tengah umat dan bangsa.
Allah Swt. berfirman:
> “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pembinaan diri, kemudian meluas menjadi pembinaan organisasi dan masyarakat. Pengkaderan adalah salah satu ikhtiar untuk menghadirkan perubahan itu secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, Darul Arqam bukan sekadar kegiatan selama empat hari. Ia adalah investasi peradaban, tempat menyemai komitmen, memperkuat konsistensi, mempererat persaudaraan, memperdalam ideologi, serta memperbarui niat dalam mengemban amanah dakwah.
Benarlah ungkapan yang sering hidup dalam tradisi kader Muhammadiyah, “Kader itu datang tanpa diminta, dan tidak pergi karena diusir.” Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam. Kader hadir karena panggilan iman dan cita-cita, bukan karena jabatan. Ia tetap bertahan bukan karena fasilitas, tetapi karena keyakinan terhadap nilai-nilai perjuangan. Sebab, yang diperjuangkan Muhammadiyah bukanlah kepentingan pribadi, melainkan kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Semoga dari tepian Danau Toba lahir kembali energi baru kepemimpinan Muhammadiyah Sumatera Utara yang semakin kokoh, rendah hati, cerdas, bersatu, dan istiqamah dalam menggerakkan dakwah pencerahan menuju Muktamar Muhammadiyah ke-49. Sebab, hanya kader-kader yang kuat dalam ilmu, matang dalam akhlak, teguh dalam komitmen, serta rendah hati dalam kepemimpinan yang mampu mewujudkan cita-cita besar Islam Berkemajuan: Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. Dari Darul Arqam inilah semangat itu terus dirawat, agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan tajdid yang mencerahkan, memajukan, dan menghadirkan rahmat bagi semesta.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



