Antara Nilai dan Manusia: Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam yang Terus Belajar
Oleh : Jufri
Belakangan banyak yang bertanya kepada saya, apakah Muhammadiyah seideal yang sering saya tulis itu? Tentu saja saya katakan tidak. Karena Muhammadiyah, sebagaimana kumpulan manusia yang lain, juga tidak lepas dari dinamika internalnya sendiri. Di dalamnya ada keikhlasan, ada amanah, ada tanggung jawab, tetapi juga ada ambisi—baik dalam makna positif sebagai dorongan untuk maju, maupun dalam makna yang bisa menjadi problematik jika tidak terkendali. Semua itu tidak terlepas dari perkembangan Muhammadiyah yang semakin pesat, dengan amal usaha yang kian banyak, besar, dan kompleks. Layaknya organisasi manusia pada umumnya, di dalamnya juga berlangsung tarik-menarik kepentingan, baik internal maupun eksternal, yang menjadi bagian dari realitas sosial sebuah gerakan besar.
Karena itu sebagaimana Islam, di Muhammadiyah kita juga akan menemukan orang-orang yang tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai-nilai perjuangan yang diidealkan. Ada jarak antara ajaran dan perilaku, antara cita-cita dan praktik di lapangan. Namun sama seperti dalam Islam, ketika kita menemukan hal-hal yang kurang baik pada sebagian orang Islam maupun sebagian warga Muhammadiyah, maka itu tidak serta-merta bisa dijadikan ukuran bahwa Islam atau Muhammadiyah itu sendiri menjadi kurang baik. Sebab yang perlu dibedakan secara jernih adalah antara nilai dan pelaku, antara ajaran dan implementasi, antara cita-cita dan keterbatasan manusia yang menjalankannya.
Dalam sejarahnya, Muhammadiyah selalu berdiri sebagai gerakan yang membawa misi perbaikan, bukan klaim kesempurnaan manusia. Ia adalah ruang ikhtiar, tempat manusia belajar, berproses, dan berusaha mendekat pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Karena itu, keberadaan kekurangan di dalam tubuh organisasi tidak boleh langsung dibaca sebagai kegagalan nilai, tetapi sebagai bagian dari dinamika manusiawi dalam proses panjang sebuah gerakan.
Islam sendiri memberikan pelajaran penting tentang hal ini. Ajaran yang sempurna tidak otomatis menjadikan semua pemeluknya sempurna. Justru di situlah ujian manusia: sejauh mana nilai itu benar-benar dihidupkan dalam tindakan, bukan hanya diucapkan dalam keyakinan. Maka ketika ada perilaku yang tidak sesuai dengan nilai, yang harus dikoreksi adalah perilaku itu, bukan meruntuhkan nilai yang menjadi dasarnya.
Begitu pula dalam Muhammadiyah. Kritik, evaluasi, dan perbaikan adalah bagian dari tradisi gerakan ini. Tetapi semua itu harus ditempatkan secara proporsional: membenahi orang dan sistemnya, tanpa kehilangan hormat pada nilai yang diperjuangkan. Karena jika kita keliru dalam membaca, kita bisa jatuh pada dua ekstrem: mengidealkan manusia secara berlebihan, atau sebaliknya meremehkan nilai karena melihat ketidaksempurnaan pelaksanaannya.
Di titik ini, penting untuk terus menjaga cara pandang yang adil. Bahwa Islam tetap luhur meskipun ada pemeluknya yang khilaf, dan Muhammadiyah tetap mulia sebagai gerakan meskipun di dalamnya terdapat dinamika, kekurangan, dan proses belajar yang terus berlangsung. Justru dari kesadaran inilah lahir kedewasaan dalam beragama dan berorganisasi: tidak mudah menghakimi, tetapi juga tidak menutup mata terhadap perbaikan.
Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam, yang sejak awal menempatkan dirinya sebagai jalan untuk menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata melalui ilmu, amal, dan pembaruan. Di dalamnya ambisi diarahkan menjadi energi kemajuan, kekuasaan dipahami sebagai amanah, dan spiritualitas dijaga sebagai kompas agar gerakan tidak kehilangan arah.
Di Muhammadiyah, yang dirawat bukanlah ilusi kesempurnaan, tetapi kesungguhan untuk terus berjalan dalam nilai. Sebab sebuah gerakan tidak diukur dari ketiadaan kekurangan, tetapi dari keberanian untuk terus memperbaiki diri sambil tetap setia pada cahaya yang menjadi tujuannya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




