Islam Berkemajuan Dimulai dari Ranting dan Masjid
Oleh: Partaonan Harahap
Penulis adalah Sekretaris LPCR-PM PWM Sumatera Utara, Dosen Fakultas Teknik UMSU, Ketua Asosiasi Alumni Teknologi Teladan Medan (AATT)
Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam perjalanan lebih dari satu abad, Muhammadiyah berhasil membangun ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, serta berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Namun, di balik berbagai capaian besar tersebut, terdapat satu kekuatan fundamental yang sering luput dari perhatian, yakni cabang, ranting, dan masjid. Padahal, dari sanalah denyut kehidupan Muhammadiyah sesungguhnya bermula.
Ketika berbicara tentang masa depan Muhammadiyah, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan cabang, ranting, dan masjid. Sebab, sekuat apa pun struktur organisasi di tingkat pusat, wilayah, maupun daerah, gerakan Muhammadiyah tidak akan berkembang tanpa kehidupan yang dinamis di tingkat akar rumput. Ranting dan masjid merupakan ruang tempat nilai-nilai Islam diwujudkan dalam kehidupan nyata, tempat kader dibina, jamaah dirawat, dan dakwah dijalankan secara langsung di tengah masyarakat.
Pandangan tersebut bukanlah gagasan baru. Sejak Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan pada tahun 1912, orientasi gerakan ini selalu bertumpu pada pembinaan umat melalui pengajian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas. Kiai Ahmad Dahlan memahami bahwa perubahan sosial tidak dapat dibangun hanya melalui pidato atau wacana besar. Perubahan harus dimulai dari pembinaan manusia, penguatan jamaah, serta pengorganisasian masyarakat secara berkelanjutan.
Sejarah mencatat bahwa dakwah Kiai Ahmad Dahlan berawal dari pengajian-pengajian sederhana di masjid dan rumah-rumah warga. Dari ruang-ruang kecil itulah lahir kesadaran baru tentang pentingnya pendidikan, kepedulian sosial, dan pemurnian ajaran Islam yang berorientasi pada kemajuan. Muhammadiyah tumbuh bukan karena kekuatan modal yang besar, melainkan karena kekuatan jamaah yang dibina secara konsisten. Oleh karena itu, masjid dan komunitas masyarakat menjadi fondasi utama gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.
Semangat tersebut tercermin dalam penghayatan Kiai Ahmad Dahlan terhadap Surah Al-Ma’un. Beliau tidak hanya mengajarkan pemahaman ayat, tetapi juga menekankan pentingnya pengamalan dalam kehidupan nyata. Dari sinilah lahir karakter Muhammadiyah sebagai gerakan yang memadukan kesalehan individu dengan kesalehan sosial. Islam tidak berhenti pada ritual semata, tetapi harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat, membela kaum lemah, dan memberikan solusi atas berbagai persoalan kehidupan.
Dalam konteks itulah konsep Islam Berkemajuan menemukan relevansinya. Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan atau jargon organisasi, melainkan cara pandang yang menempatkan agama sebagai kekuatan transformasi sosial, pencerahan, dan kemajuan peradaban. Namun, gagasan besar tersebut tidak mungkin diwujudkan hanya melalui keputusan-keputusan organisasi di tingkat atas. Islam Berkemajuan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui aktivitas nyata di cabang, ranting, dan masjid.
Pesan inilah yang tergambar kuat dalam lagu “Ranting Itu Penting”, yang menjadi lagu wajib Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Muhammadiyah. Pada bait pembukanya dinyatakan:
“Di cabang ranting Muhammadiyah, ber-Islam dengan gembira. Ber-amaliyah, bermuamalah, berdakwah penuh ukhuwah. Di cabang ranting kita wujudkan Islam yang berkemajuan, sebagai rahmat solusi umat menjalani kehidupan.”
Lirik tersebut menggambarkan secara sederhana namun mendalam wajah Muhammadiyah yang sesungguhnya. Cabang dan ranting bukan hanya struktur organisasi, melainkan ruang pengabdian dan pembinaan umat. Di sanalah warga Muhammadiyah belajar beragama dengan penuh kegembiraan, membangun hubungan sosial yang harmonis, serta menghadirkan dakwah yang menebarkan persaudaraan dan kemaslahatan.
Makna strategis lirik tersebut kembali ditegaskan oleh Ketua LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Drs. H. Jamaludin Ahmad, dalam Rapat Kerja II LPCRPM PWM Sumatera Utara yang berlangsung pada 14–16 Juni 2026 di Universitas Muhammadiyah Asahan. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa lagu “Ranting Itu Penting” bukan sekadar lagu penyemangat organisasi, melainkan representasi arah gerakan Muhammadiyah yang bertumpu pada kekuatan cabang, ranting, dan masjid sebagai basis utama dakwah Persyarikatan.
Menurut beliau, kemajuan Muhammadiyah tidak dibangun dari atas ke bawah, melainkan tumbuh dari kehidupan jamaah yang dibina secara berkelanjutan di tingkat ranting dan masjid. Kalimat “ber-Islam dengan gembira” mencerminkan watak dakwah Muhammadiyah yang menghadirkan Islam sebagai ajaran yang mencerahkan, memajukan, dan memberikan harapan. Sementara ungkapan “ber-amaliyah, bermuamalah, berdakwah penuh ukhuwah” menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ibadah individual, tetapi juga membangun solidaritas sosial dan pelayanan kepada masyarakat.
Pandangan tersebut sangat relevan dengan realitas yang dihadapi umat saat ini. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, berbagai persoalan baru terus bermunculan. Kemiskinan, kesenjangan pendidikan, ketahanan keluarga, literasi digital, kesehatan mental, hingga degradasi moral generasi muda membutuhkan pendekatan dakwah yang lebih kontekstual dan membumi. Dalam situasi seperti itu, ranting dan masjid memiliki posisi yang sangat strategis karena berada paling dekat dengan masyarakat.
Ranting Muhammadiyah dapat disebut sebagai laboratorium dakwah yang sesungguhnya. Di sanalah berbagai program pemberdayaan masyarakat dijalankan secara langsung. Di sanalah kader-kader muda dibina dan dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan. Di sanalah pengajian tumbuh dan berkembang. Dan di sanalah nilai-nilai Islam Berkemajuan diterjemahkan menjadi aksi nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, kuat atau lemahnya ranting akan sangat menentukan kuat atau lemahnya Muhammadiyah secara keseluruhan.
Demikian pula dengan masjid. Sejak awal, Muhammadiyah memandang masjid bukan hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan pemberdayaan masyarakat. Masjid harus menjadi pusat ilmu, pusat kaderisasi, pusat pelayanan sosial, sekaligus pusat pengembangan peradaban. Ketika masjid hidup, jamaah akan tumbuh. Ketika jamaah tumbuh, ranting akan berkembang. Ketika ranting berkembang, Muhammadiyah akan semakin kuat.
Pesan tersebut tampak jelas dalam bagian reff lagu “Ranting Itu Penting”:
“Di cabang ranting kita rawat jamaah, makmurkan masjid, suburkan pengajian. Cerahkan umat, berdayakan masyarakat, jadikan NKRI negeri yang diberkahi.”
Lirik ini sesungguhnya merangkum filosofi gerakan Muhammadiyah. Merawat jamaah berarti membina manusia sebagai subjek utama perubahan. Memakmurkan masjid berarti menghidupkan pusat peradaban Islam. Menyuburkan pengajian berarti memperkuat tradisi keilmuan dan pencerahan. Mencerahkan umat berarti membangun kesadaran dan wawasan masyarakat. Sedangkan memberdayakan masyarakat berarti menghadirkan solusi konkret terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Lebih jauh lagi, lirik tersebut menunjukkan bahwa tujuan akhir gerakan Muhammadiyah bukan semata-mata membangun organisasi yang kuat, melainkan menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan negara. Muhammadiyah ingin menjadi bagian dari ikhtiar besar mewujudkan Indonesia yang maju, adil, beradab, dan diridhai Allah Swt.
Karena itu, tantangan terbesar Muhammadiyah ke depan bukan hanya menambah jumlah amal usaha atau memperbesar aset organisasi. Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa setiap cabang, ranting, dan masjid tetap hidup, produktif, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar hanya akan bertahan apabila memiliki basis akar rumput yang kuat. Sebaliknya, organisasi yang kehilangan kedekatan dengan jamaah akan menghadapi kesulitan dalam menjaga keberlanjutan gerakannya.
Atas dasar itu, revitalisasi cabang, ranting, dan masjid harus menjadi agenda strategis Muhammadiyah pada abad kedua ini. Revitalisasi tidak cukup dimaknai sebagai pembentukan struktur baru atau pembangunan fisik semata, tetapi harus diarahkan pada upaya menghidupkan kembali ruh gerakan yang diwariskan Kiai Ahmad Dahlan. Ruh yang menempatkan dakwah sebagai jalan pencerahan, pelayanan, pemberdayaan, dan pembebasan umat dari berbagai persoalan kehidupan.
Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kehidupan ranting dan masjid. Dari ranting lahir kader-kader terbaik Persyarikatan. Dari masjid tumbuh jamaah yang kuat dan berdaya. Dari jamaah yang kuat lahir gerakan yang mampu menjawab tantangan zaman. Dan dari gerakan yang hidup itulah cita-cita Islam Berkemajuan dapat diwujudkan secara nyata.
Maka benar adanya pesan yang terkandung dalam lagu “Ranting Itu Penting”, bahwa Islam Berkemajuan tidak dimulai dari gedung-gedung megah atau program-program besar. Islam Berkemajuan dimulai dari pengajian yang hidup, jamaah yang terawat, masjid yang makmur, serta ranting yang berdaya. Dari sanalah Muhammadiyah tumbuh, berkembang, dan terus menebarkan rahmat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.
Dalam perspektif tersebut, memperkuat ranting dan memakmurkan masjid bukan sekadar agenda organisasi, melainkan investasi peradaban. Ketika ranting menjadi pusat pembinaan jamaah dan masjid menjadi pusat pencerahan umat, maka Muhammadiyah tidak hanya menjaga keberlangsungan gerakannya, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi lahirnya masyarakat Islam yang maju, berkeadaban, dan berkemajuan. Sebab pada akhirnya, perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dan dalam Muhammadiyah, langkah kecil itu bernama ranting dan masjid.







