Pengabdian yang Menyalakan Cahaya Islam Berkemajuan
Oleh : Jufri
Di sela-sela kegiatan Baitul Arqam bersama pengurus PCM Serbelawan, kami berbincang santai tentang banyak hal. Dari persoalan pengelolaan amal usaha, perkaderan, hingga pengalaman panjang para aktivis Muhammadiyah. Di tengah perbincangan itu, pembicaraan kemudian mengarah kepada sosok Pak Satiman.
Sudah lama saya mengenal beliau. Selama ini saya mengira beliau adalah guru atau dosen di salah satu amal usaha Muhammadiyah. Ternyata dugaan saya keliru.

Pak Satiman tidak pernah bekerja di amal usaha Muhammadiyah. Beliau mengabdikan dirinya sebagai guru di PAB Helvetia Medan hingga memasuki masa pensiun sekitar empat tahun yang lalu. Namun, meskipun tidak berkarier di lingkungan amal usaha Muhammadiyah, denyut pengabdiannya kepada Persyarikatan tidak pernah berhenti.
Beliau adalah kader Pelajar Islam Indonesia (PII). Pernah dipercaya menjadi Sekretaris PW PII Sumatera Utara dan Wakil Ketua PII Pusat pada tahun 1981. Sejak tahun 1983, beliau aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara. Beliau juga pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan.
Yang paling mengesankan bagi saya adalah dedikasinya di Majelis Pembinaan Kader Muhammadiyah. Hampir setiap kegiatan pengkaderan, sosok Pak Satiman selalu hadir. Tidak banyak berbicara, tidak pernah sibuk mencari panggung, tidak banyak menuntut, tetapi selalu siap bekerja dan berkorban. Tenang, sederhana, dan istiqamah.
Di lingkungan Muhammadiyah, Majelis Kader sering disebut sebagai “Majelis Air Mata”. Sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa berat sekaligus mulianya tugas membina kader. Banyak waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya yang dicurahkan. Tidak selalu terlihat, tidak selalu mendapat tepuk tangan, tetapi justru dari ruang-ruang kaderisasi itulah lahir pemimpin, penggerak, dan penerus perjuangan Persyarikatan.
Saya kemudian merenung. Ternyata kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad bukan semata-mata karena besarnya amal usaha, megahnya gedung, atau banyaknya jabatan. Kekuatan itu lahir dari kader-kader yang memilih tetap setia berjalan di jalan sunyi pengabdian. Mereka bekerja bukan karena ingin dikenal, tetapi karena merasa terpanggil oleh amanah.
Sesungguhnya, kaderisasi adalah jantung gerakan Muhammadiyah. Di sanalah nilai-nilai keislaman, keilmuan, keikhlasan, dan kepemimpinan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Tanpa kaderisasi yang hidup, sebuah organisasi perlahan akan kehilangan arah dan ruh perjuangannya.
Karena itu, tema “Islam Berkemajuan, Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia adalah cita-cita besar yang hanya dapat diwujudkan apabila Muhammadiyah terus melahirkan kader-kader yang berintegritas, berilmu, berakhlak, dan memiliki semangat pengabdian yang tidak pernah padam.
Bangsa ini akan menjadi cerdas apabila diisi oleh manusia-manusia yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar alat meraih kedudukan. Semesta akan bercahaya apabila semakin banyak orang yang menghadirkan Islam sebagai rahmat melalui keteladanan, kerja nyata, dan kepedulian kepada sesama.
Sosok seperti Pak Satiman mengingatkan kita bahwa menjadi kader bukanlah soal seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih, melainkan seberapa panjang jejak pengabdian yang ditinggalkan. Jabatan memiliki batas waktu, tetapi keteladanan akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan manfaatnya.
Muhammadiyah membutuhkan lebih banyak kader seperti beliau. Kader yang tidak mudah lelah, tidak mudah mengeluh, dan tidak berhenti berjuang hanya karena tidak lagi memegang jabatan. Sebab bagi kader sejati, pengabdian tidak pernah mengenal masa pensiun.
Pada akhirnya, saya semakin yakin bahwa cahaya Islam Berkemajuan tidak hanya dipancarkan oleh para tokoh besar yang sering tampil di mimbar atau media. Cahaya itu juga lahir dari orang-orang sederhana yang bekerja dalam diam, menjaga api perkaderan agar tetap menyala. Dari tangan-tangan seperti merekalah Muhammadiyah terus bertumbuh, mencerdaskan bangsa, dan dengan izin Allah SWT menghadirkan semesta yang bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








