PWMJATENG.COM, KEBUMEN – Ratusan warga memadati aula SMA Muhammadiyah Gombong, Kabupaten Kebumen, pada Ahad pagi, 31 Mei 2026. Sejak awal acara, para jamaah tampak khusyuk mengikuti jalannya Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Kebumen yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong. Dalam kesempatan tersebut, Lazismu menghadirkan tokoh pemberdayaan, Ikhwanushoffa, sebagai pembicara utama.
Saat mengawali ceramahnya, Ikhwanushoffa mengupas tuntas rahasia di balik turunnya Surat Al-Kautsar. Beliau menjelaskan bahwa surat tersebut sebenarnya merupakan bentuk hiburan langsung dari Allah untuk menghibur Nabi Muhammad SAW. Kala itu, Rasulullah sedang menghadapi ujian berat berupa wafatnya dua putra laki-laki beliau, yakni Hasan dan Qasim, dalam waktu yang berdekatan.
Memaknai Ujian Melalui Surat Al-Kautsar
Akibat musibah tersebut, kaum Arab Jahiliyah lantas mengolok-olok Rasulullah sebagai pria yang terputus garis keturunannya. Padahal, tuduhan keji itu justru dibantah keras oleh Allah SWT melalui ayat pertama Surat Al-Kautsar. “Melalui ayat ini, Allah mengingatkan bahwa Rasulullah sebenarnya telah menerima nikmat yang sangat banyak,” terang Ikhwanushoffa di hadapan ratusan jamaah PCM Gombong.
Oleh karena itu, beliau mengajak para jamaah untuk merefleksikan diri masing-masing. Sering kali, manusia modern justru merasa sangat merana hanya karena kehilangan satu urusan dunia. Padahal, limpahan nikmat Allah yang lain masih mengalir deras tanpa henti setiap harinya.
Selanjutnya, Ikhwanushoffa juga membedah ancaman bagi orang-orang yang lalai dalam mendirikan sholat melalui Surat Al-Ma’un. Ternyata, orang yang rajin sholat pun tetap bisa terancam masuk golongan celaka. Hal itu terjadi jika mereka masih tega menghardik anak yatim serta enggan memberi makan orang-orang miskin.
Sentilan Keras Soal Biaya Resepsi Mewah
Berkaca dari fenomena tersebut, beliau lantas melontarkan kritik sosial yang cukup menohok. Ikhwanushoffa menyentil kebiasaan masyarakat zaman sekarang yang dinilai mulai bergeser dari nilai islam. Sebagai contoh, banyak orang tua yang merasa sangat ikhlas mengeluarkan uang hingga Rp100 juta hanya demi gengsi menggelar resepsi pernikahan.
“Bahkan, jika tidak memiliki uang sebesar itu, mereka akan bela-belain berutang ke sana kemari,” tegasnya. Ironisnya, perintah agama yang sudah jelas kesunahannya seperti berinfak justru sering kali diabaikan begitu saja. Padahal, ajaran Islam sebenarnya hanya mewajibkan esensi pernikahan, bukan kemewahan acara resepsi.
Untuk menggugah kesadaran jamaah, Ikhwanushoffa kemudian menceritakan kisah keteladanan pada masa K.H. Ahmad Dahlan. Pada zaman dulu, pendiri Muhammadiyah tersebut pernah bertanya kepada seorang warga yang hendak menikahkan anaknya. Ketika itu, sang warga tanpa ragu merelakan separuh biaya pernikahannya untuk disumbangkan kepada pergerakan Muhammadiyah.
Menghidupkan Kembali Tradisi KH Ahmad Dahlan
Melihat kenyataan sekarang, kondisinya justru berbanding terbalik secara drastis. Banyak orang berani jor-joran demi kesenangan duniawi, namun mendadak penuh pertimbangan saat ingin bersedekah. Oleh sebab itu, Berita Muhammadiyah hari ini menegaskan pentingnya umat Islam untuk kembali menata skala prioritas hidup mereka.
Terkait hal tersebut, Lazismu kini berkomitmen kuat untuk menghidupkan kembali tradisi luhur zaman K.H. Ahmad Dahlan. Salah satu fokusnya adalah mengoptimalkan gerakan Penolong Kesengsaraan Oemum (PKO). Melalui sistem gerakan ini, Lazismu Kebumen menerapkan mekanisme subsidi silang demi menjamin masyarakat kurang mampu bisa mendapatkan layanan secara gratis.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Ayma
The post Menikah Sesuai Agama atau Sekadar Gengsi? Kajian Ahad Pagi di Gombong Bongkar Fenomena Resepsi Mewah yang Bikin Celaka appeared first on Muhammadiyah Jateng.



