Di antara tebalnya kabut dan dinginnya lereng Gunung Bromo, sebuah transformasi spiritual sedang berlangsung secara senyap namun mendalam. Kampung Quran Bromo, sebuah oase kecil di tengah masyarakat adat Suku Tengger, membuktikan bahwa iman dan tradisi leluhur bisa berjalan beriringan tanpa harus bersitegang.
Masyarakat Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo tidak hanya menganggap Gunung Bromo sebagai destinasi wisata. Sebaliknya, bagi warga setempat, kawasan ini menjadi saksi bisu sebuah perubahan besar yang bermula dari peristiwa alam.
Setelah peristiwa erupsi hebat pada tahun 2010, muncul kesadaran kolektif dari sekelompok warga untuk mencari pegangan spiritual yang lebih kokoh. Oleh karena itu, cikal bakal “Kampung Quran Bromo” mulai bersemi di tempat ini.
Berawal dari Taubat Mantan Penjudi di Mushola Kayu Cemara
Nama “Kampung Quran” mungkin terdengar ambisius bagi sebuah wilayah kecil di lereng gunung. Namun, sejarah di baliknya sangat menyentuh hati. Kisahnya bermula ketika warga mendirikan sebuah tempat ibadah sederhana dari kayu cemara Bromo, yang kini mereka kenal sebagai Mushola Al-Ikhlas Wal Barokah.
Uniknya, sekitar 9 hingga 11 orang warga setempat menginisiasi sendiri pembangunan ini. Dahulu, masyarakat mengenal mereka sebagai mantan penjudi dan pemabuk. Kini, mereka memilih bertaubat dan rindu membangun tempat sujud.
Melalui iuran sukarela, mereka akhirnya berhasil mendirikan mushola mungil ini. Bagi para inisiator tersebut, bangunan kayu itu menjadi simbol kemenangan atas masa lalu yang kelam.
Mengikis Stigma “Islam KTP” Melalui Pendidikan Al-Quran
Dahulu, masyarakat di kawasan lereng Bromo ini seringkali hanya menganggap Islam sebagai identitas di kartu identitas (Islam KTP). Warga hanya ramai menjalankan ibadah sholat saat hari raya saja. Sementara itu dalam keseharian, mereka selalu mengiringi setiap hajatan dengan pembakaran kemenyan yang kuat, serta rutin menggelar tradisi sesuguh (menyajikan makanan untuk leluhur) setiap Jumat Manis.
Meskipun demikian, kehadiran Kampung Quran secara perlahan mengubah wajah keagamaan di lereng Bromo. Hebatnya, perubahan ini sama sekali tidak mengikis kerukunan sosial yang telah lama terjaga.
Saat ini, setiap sore hari, lantunan ayat-ayat suci mengubah suasana desa menjadi sangat hidup. Anak-anak berkumpul di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) untuk memperdalam ilmu tajwid dan belajar mengaji bersama Ustadz Muhibbin.
Tidak hanya generasi muda, kaum ibu juga menunjukkan antusiasme yang nyata. Mereka rutin berkumpul di masjid dan mushola untuk mengaji kitab kuning. Selain itu, mereka juga memperdalam pemahaman tentang syariat Islam bersama tokoh mualaf Suku Tengger, Sumarjono atau yang akrab disapa Haji Jono.
Transformasi spiritual ini pun membuahkan hasil yang konkret pada aktivitas ibadah wajib:
Dahulu: Hanya sekitar 5 hingga 7 orang yang menghadiri Sholat Jumat sehingga saf-saf terasa lengang.
Sekarang: Kehadiran sekitar 30 jamaah secara rutin membuat suasana masjid tampak jauh lebih makmur.
Harmoni Muslim-Hindu: Warisan Toleransi Suku Tengger
Selama 12 tahun keberadaannya, Kampung Quran Bromo menjadi contoh nyata toleransi antarumat beragama di Indonesia. Walaupun umat Muslim menjadi mayoritas di kantong dusun ini, mereka hidup berdampingan secara damai dengan mayoritas besar masyarakat Suku Tengger yang memeluk agama Hindu.
Warga sekitar berhasil menjalin kerukunan erat tanpa sekat pertentangan:
Saat Idulfitri: Warga Hindu akan datang bersilaturahmi dan mengucapkan selamat ke rumah-rumah warga Muslim.
Sebaliknya, saat Hari Raya Nyepi atau Kasada: Warga Muslim turut menjaga suasana kondusif dan menghormati jalannya ritual adat.
Dengan demikian, wilayah ini menampilkan wajah Islam yang merangkul, bukan memukul; Islam yang mendidik, bukan menghardik.
Keseimbangan Alam: Apotek Hidup di Lereng Bromo
Para penggerak di Kampung Quran tidak hanya menghentikan dakwah di atas sajadah atau ruang kelas saja. Bahkan, mereka juga memperhatikan aspek lingkungan dan ekonomi. Hal ini terjadi berkat program pembinaan dari Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur yang berjalan sejak tahun 2011.
Ustadz dan tokoh lokal mengajak warga untuk memanfaatkan kesuburan tanah Bromo. Caranya adalah dengan menanam tanaman obat (apotek hidup) seperti jahe dan kunyit di pekarangan mereka. Langkah ini menjadi upaya nyata untuk menanamkan kemandirian ekonomi sekaligus menjaga kesehatan masyarakat secara alami.
Pada akhirnya, Kampung Quran Bromo mengajarkan kita bahwa hidayah bisa mendatangi siapa saja, bahkan mengetuk hati para mantan pemain judi. Fenomena ini menunjukkan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus kehilangan jati diri. Selain itu, warga tetap bisa menjaga akar budaya Suku Tengger yang rukun, toleran, dan cinta damai.
Editor: Alafasy
The post Kisah Kampung Quran Bromo: Jejak Mualaf Suku Tengger dan Harmoni di Lereng Gunung appeared first on Muhammadiyah Jateng.




