PWMJATENG.COM, BANYUMAS — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Purwokerto menggelar diskusi interaktif bertajuk Praktisi Mengajar pada Kamis (21/5/2026). Agenda edukasi yang berlangsung di Aula Syamsuhadi Irsyad ini secara khusus membahas implementasi Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar. Sebanyak 210 mahasiswa semester 2 tampak antusias menyerap pengalaman langsung dari para kepala sekolah inklusi.
Pihak panitia menghadirkan dua praktisi lapangan sebagai narasumber, yaitu Aminah Agustina, S.Pd. dan Rosiana Rahayu, S.Pd. Ketua Program Studi PGSD UMP, Aji Heru Muslim, M.Pd., secara resmi membuka jalannya acara kuliah umum tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum SD yang diampu oleh Dr. Sriyanto.
Dosen pengampu, Dr. Sriyanto, menjelaskan bahwa konsep sekolah inklusif berlandaskan pada filosofi humanistik dan demokratis. Paham ini menolak keras model segregasi yang memisahkan anak berkebutuhan khusus dari lingkungan sosialnya. “Pendidikan inklusi menempatkan semua peserta didik sebagai bagian yang setara dalam lingkungan belajar yang sama,” ujar Sriyanto memberi pengantar.
Konstruksi Identitas Belajar Siswa ABK
Selanjutnya, Rosiana Rahayu memaparkan materi penting mengenai konstruksi identitas belajar bagi siswa disabilitas intelektual. Menurut Rosiana, sistem sekolah inklusif wajib memberikan ruang bagi anak berkebutuhan khusus ABK untuk belajar bersama anak reguler. Tentu saja, proses tersebut memerlukan skema dukungan yang adaptif dan sesuai dengan kapasitas masing-masing siswa.
Namun, Rosiana tidak menampik bahwa guru di lapangan masih menghadapi tembok besar dalam menerapkan Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar. Masalah utama di Indonesia saat ini meliputi keterbatasan guru pendamping khusus serta minimnya pelatihan kompetensi. Selain itu, pihak sekolah juga belum mengimplementasikan rencana pembelajaran individual secara optimal.
“Identitas belajar positif tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui kesabaran, pendampingan, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi,” ungkap Rosiana secara emosional di depan mahasiswa.
Nyata Hadapi Ragam Karakter Siswa di Kelas
Sementara itu, Aminah Agustina membagikan pengalaman empiris mengenai operasional harian di lembaga yang ia pimpin. Sekolahnya merangkul berbagai jenis anak berkebutuhan khusus, mulai dari pengidap ADHD, slow learner, down syndrome, hingga tunadaksa. Beruntung, instansinya terus menerima aliran bantuan fasilitas dan renovasi ruang khusus dari Dinas Pendidikan.
Meski begitu, Aminah mengakui bahwa guru masih membutuhkan panduan kurikulum sekolah inklusi yang lebih fleksibel. Kendala teknis seperti ketiadaan aplikasi rapor yang sesuai dan layanan terapi mandiri juga kerap menghambat evaluasi belajar. Untuk menyiasati hal itu, pihak sekolah aktif menyusun format rapor sederhana khusus serta menggandeng pihak rumah sakit lokal.
Aminah menegaskan bahwa pendidik memegang peran krusial sebagai fasilitator utama di ruang kelas. Guru wajib menghadirkan rasa aman dan nyaman agar siswa berkebutuhan khusus tidak merasa terasing. Langkah humanis ini selaras dengan tujuan besar Education for All yang sedang digalakkan oleh pemerintah.
Lima Solusi Strategis untuk Masa Depan Edukasi
Menjelang akhir sesi, suasana diskusi semakin hidup dengan rentetan pertanyaan kritis dari para mahasiswa PGSD UMP. Mereka banyak menggali tip praktis menangani tantangan psikologis anak berkebutuhan khusus. Respons interaktif ini membuktikan tingginya kepedulian calon guru masa depan terhadap isu kesetaraan hak belajar.
Sebagai penutup, Dr. Sriyanto merumuskan lima pilar solusi untuk memperkuat sistem Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar di Indonesia. Lima poin tersebut meliputi penguatan kompetensi guru, pengembangan fasilitas sekolah, inovasi metode pembelajaran, kolaborasi multipihak, dan ketegasan kebijakan pemerintah. Melalui lima langkah ini, ruang kelas di tingkat dasar harapannya dapat bertransformasi menjadi tempat belajar yang aman, adil, dan manusiawi.
Analisis Kepatuhan Indikator Editor:
Kontributor: Tia/Anto
Editor: Ayma
The post Kupas Tantangan ABK, Praktisi Mengajar UMP Bedah Ragam Solusi Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar appeared first on Muhammadiyah Jateng.



