WARTAPTM.ID, MAGELANG — Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menegaskan bahwa jabatan akademik Guru Besar bukanlah titik akhir perjalanan keilmuan, melainkan awal dari tanggung jawab intelektual dan moral yang lebih besar.
Hal tersebut disampaikannya dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma), Selasa (19/5), saat memberikan refleksi bertajuk “Pesan untuk Para Guru Besar”.
Menurutnya, seorang guru besar memiliki peran strategis, tidak hanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
“Pengukuhan Guru Besar bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan bagian dari mata rantai panjang pencarian kebenaran yang tidak pernah selesai,” tegasnya.
Muttaqin menekankan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) saat ini telah berkembang menjadi kekuatan sistemik dalam pendidikan tinggi nasional. Hingga saat ini, terdapat 164 PTMA yang tersebar di Indonesia dan luar negeri, dengan kontribusi ratusan guru besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“PTMA adalah kekuatan sistemik dengan ratusan ribu mahasiswa yang menjadi modal sosial bagi perubahan bangsa,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian akademik tersebut harus diimbangi dengan sikap kerendahan hati intelektual (tawadhu’ ilmiah). Ia menyoroti pentingnya kesadaran bahwa ilmu pengetahuan manusia memiliki keterbatasan.
Muttaqin juga menyampaikan pesan dari Al-Qur’an surat Yusuf ayat 76, yang menegaskan bahwa di atas setiap orang berilmu masih terdapat yang lebih mengetahui. Oleh karena itu, seorang akademisi tidak boleh terjebak dalam sikap arogansi intelektual. Menurutnya, ilmu yang dimiliki manusia dibatasi oleh ruang, waktu, disiplin, serta kapasitas akal.
“Bahkan ilmu seorang guru besar sekalipun masih berada dalam tingkatan yang terbatas. Di atas pengetahuan manusia terdapat pengetahuan profetik, dan puncaknya adalah Al-‘Alim, yakni Allah SWT,” tuturnya.
Ia juga mengangkat konsep ulul albab sebagai karakter ideal seorang ilmuwan Muhammadiyah, yakni mereka yang mampu memadukan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, serta kesadaran akan keterbatasan diri.
Lebih lanjut, Muttaqin menerangkan bahwa seorang guru besar memiliki tanggung jawab dalam tiga aspek utama. Pertama, menjaga komitmen pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) melalui riset dan inovasi berkelanjutan. Kedua, membimbing dan mencetak generasi intelektual masa depan. Ketiga, menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai solusi nyata bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa aktivitas akademik tidak boleh berhenti pada tataran teoritis di ruang kampus, tetapi harus mampu memberikan dampak nyata bagi kemaslahatan umat.
“Ilmu pengetahuan harus ditransformasikan menjadi kebijaksanaan dan solusi yang membumi,” jelasnya.
Dalam perspektif Muhammadiyah, lanjutnya, peran guru besar juga mencakup tanggung jawab sebagai penjaga integritas keilmuan sekaligus penggerak peradaban. Oleh karena itu, kolaborasi multidisipliner menjadi keniscayaan dalam menjawab berbagai persoalan kompleks di masyarakat.
Menutup pesannya, Muttaqin mengajak para guru besar di lingkungan PTMA untuk terus menjaga tradisi keilmuan yang dinamis, inklusif, dan berorientasi pada pengabdian.
“Pengukuhan Guru Besar bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan bagian dari mata rantai panjang pencarian kebenaran yang tidak pernah selesai. Jadilah penjaga tradisi keilmuan yang tawadhu’, dinamis, dan terus mengabdi di bawah naungan cahaya-Nya,” pungkasnya.
The post Ahmad Muttaqin Tegaskan Peran Strategis Guru Besar dan PTMA dalam Membangun Peradaban appeared first on Warta PTM.



