Oleh: Dr. Hj. Eny Winaryati, M.Pd.
Didirikan pada tahun 1917 oleh Siti Walidah bersama Ahmad Dahlan, dalam Perjalanan Aisyiyah hadir sebagai pelopor gerakan perempuan Islam modern di Indonesia yang membawa semangat pembaruan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan.
Kehadiran ‘Aisyiyah menjadi solusi nyata atas kondisi perempuan pada masa itu yang masih mengalami keterbatasan akses pendidikan, marginalisasi sosial, dan rendahnya partisipasi dalam ruang publik. Sejak awal berdiri, ‘Aisyiyah telah menempatkan perempuan sebagai subjek utama pembangunan peradaban melalui dakwah yang mencerahkan dan membebaskan.
Pembaruan Pendidikan Anak Usia Dini
Perjalanan pemikiran dan gerakan pembaruan pendidikan yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah tidak terlepas dari kajian terhadap konsep pendidikan anak usia dini yang dikembangkan oleh Friedrich Fröbel, seorang tokoh pendidikan asal Jerman yang dikenal sebagai pelopor pendidikan taman kanak-kanak (kindergarten).
Melalui konsep integrasi belajar dengan bermain, penanaman nilai-nilai religius, serta penguatan pengetahuan umum, ‘Aisyiyah kemudian mengembangkan model pendidikan anak usia dini yang berorientasi pada pembentukan karakter, kecerdasan, kreativitas, dan tumbuh kembang anak secara holistik berbasis nilai-nilai Islam berkemajuan. Pada tahun 1919, ‘Aisyiyah memprakarsai pendidikan anak usia dini sebagai bentuk perhatian terhadap pendidikan karakter dan masa depan generasi bangsa.
Musholla ‘Aisyiyah sebagai Pusat Dakwah dan Pengabdian
Gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat semakin diperkuat ketika pada tahun 1922 Musholla ‘Aisyiyah dikembangkan sebagai pusat kegiatan dakwah, pendidikan, dan pengabdian perempuan bagi umat.
Dari tempat sederhana tersebut lahir semangat perempuan berkemajuan yang aktif membangun kehidupan masyarakat melalui kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Hingga saat ini, dinamika gerakan ‘Aisyiyah terus berkembang sebagai kekuatan dakwah perempuan yang menghadirkan pengabdian nyata di tengah masyarakat, baik melalui amal usaha, kegiatan pemberdayaan, maupun gerakan kemanusiaan yang menjawab tantangan zaman dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Gerakan Pemberantasan Buta Huruf
Setahun kemudian, pada tahun 1923, ‘Aisyiyah menggagas gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dan huruf latin sebagai langkah progresif untuk mencerdaskan masyarakat, membangun umat yang berilmu, serta memperkuat peran perempuan dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Spirit tajdid dan pencerahan itu terus hidup hingga kini melalui berbagai gerakan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, literasi digital, kesehatan, hingga penguatan keluarga sakinah yang dijalankan ‘Aisyiyah di tengah dinamika zaman. Dari gerakan membaca huruf menuju gerakan membaca realitas sosial, Perjalanan Aisyiyah hadir sebagai pelopor dakwah kemanusiaan yang adaptif, inklusif, dan berkemajuan demi terwujudnya masyarakat yang berkeadaban.
Literasi Perempuan melalui Suara ‘Aisyiyah
Komitmen terhadap literasi perempuan diwujudkan melalui penerbitan majalah Suara ‘Aisyiyah pada tahun 1926 yang hingga kini tetap eksis sebagai salah satu majalah perempuan tertua di Indonesia yang dikelola organisasi perempuan Islam.
Kehadirannya bukan sekadar media informasi, tetapi menjadi ruang dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di tengah dinamika gerakan ‘Aisyiyah saat ini, semangat literasi tersebut semakin diperkuat melalui transformasi digital, penguatan edukasi keluarga, kesehatan, ekonomi, hingga isu kemanusiaan dan perdamaian, sehingga ‘Aisyiyah tetap hadir sebagai gerakan perempuan berkemajuan yang mencerahkan dan relevan bagi masyarakat luas.
Peran dalam Kongres Perempuan Indonesia
Kiprah ‘Aisyiyah dalam gerakan perempuan nasional semakin menguat ketika turut memprakarsai Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928 yang kemudian melahirkan KOWANI sebagai wadah perjuangan perempuan Indonesia.
Pada awal pembentukannya, sekitar 80% pengurus KOWANI berasal dari kader ‘Aisyiyah, menunjukkan besarnya kontribusi dan kepeloporan ‘Aisyiyah dalam memperjuangkan kemajuan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia sejak masa awal kebangkitan nasional.
Penguatan Kelembagaan Organisasi
Perkembangan organisasi ‘Aisyiyah terus diperkuat melalui pembentukan berbagai bidang dan urusan yang lebih spesifik sejak tahun 1930 sebagai respons atas kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
Langkah ini menunjukkan kemampuan ‘Aisyiyah dalam membaca perubahan zaman secara adaptif dan visioner. Berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, dan pendanaan dibentuk untuk memperluas peran dakwah sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi umat. Melalui penguatan kelembagaan tersebut, ‘Aisyiyah tidak hanya tumbuh sebagai organisasi perempuan, tetapi juga menjadi pelopor gerakan sosial-keagamaan yang mampu menjawab tantangan masyarakat secara progresif dan berkelanjutan.
Lahirnya Nasyiatul ‘Aisyiyah
Pada tahun 1931, Nasyiatul ‘Aisyiyah lahir atas prakarsa ‘Aisyiyah sebagai bukti bahwa ‘Aisyiyah tidak hanya membangun gerakan untuk masa kini, tetapi juga menyiapkan keberlanjutan perjuangan melalui kaderisasi perempuan muda.
Kehadiran Nasyiatul ‘Aisyiyah menjadi wujud visi besar ‘Aisyiyah dalam melahirkan generasi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan, agar dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada umat terus hidup, berkembang, dan relevan di setiap zaman.
Kepedulian terhadap Kesehatan Ibu dan Anak
Sejak awal berdirinya, ‘Aisyiyah telah menunjukkan kepedulian besar terhadap kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi lahirnya generasi bangsa yang kuat dan berkualitas.
Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan lomba bayi sehat pada tahun 1937, yang bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi langkah edukatif dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan, gizi, dan perawatan anak sejak usia dini. Kepedulian tersebut menegaskan bahwa dakwah ‘Aisyiyah sejak dahulu tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga pada pembangunan kualitas kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Eksistensi ‘Aisyiyah hingga Usia ke-109 Tahun
Hingga memasuki usia ke-109 tahun, Perjalanan Aisyiyah terus menunjukkan eksistensinya sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang aktif dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dakwah, hukum, pemberdayaan perempuan, ketahanan keluarga, dan penguatan masyarakat.
Melalui spirit teologi Al-Ma’un, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terus berkomitmen menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan umat dan bangsa, sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan menuju masyarakat yang berkeadaban, berkeadilan, dan berkemajuan.
The post Perjalanan Aisyiyah: Dari Gerakan Pembaruan Perempuan hingga Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan appeared first on Muhammadiyah Jateng.



