Kebangkitan Nasional sebagai Geist
Bung Karno menginisiasi peringatan sejarah kebangkitan nasional pertama kali pada tahun 1948. Saat itu, Mr. Assaat mewakili Bung Karno bersama wakil partai politik membentuk Panitia Pusat. Pembentukan panitia ini menunjuk Ki Hadjar Dewantoro sebagai ketua pelaksana. Panitia tersebut turut melibatkan berbagai unsur pergerakan, seperti Tjugito (FDR), A. M. Sangadji (Masyumi), Sabilal Rasjad (PNI), Ny. A Hilal (Kowani), Tatang Mahmud (HPII), dan H. Benyamin (GPII).
Kesepakatan panitia ini menghasilkan rencana upacara Peringatan 40 Tahun Kebangunan Nasional. Puncak peringatan tersebut berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 20 Mei 1948. Pemerintah tentu mendukung penuh peringatan bersejarah ini dengan menyediakan segala alat kebutuhan acara. Kementerian Penerangan pimpinan Moh. Natsir turut mengurus semua keperluan publikasinya. Rangkaian peristiwa ini tercatat dalam buku Ki Hadjar Dewantoro berjudul Dari Kebangkitan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan.
Presiden Soekarno kemudian memberikan pidato penting dalam peringatan tersebut. Pidato Presiden menegaskan bahwa sejarah kebangkitan nasional tidak berdiri sendiri. Kebangkitan Indonesia justru menjadi bagian integral dari kebangunan Asia secara umum. Pergerakan ini akhirnya membentuk mata rantai revolusi seluruh bangsa jajahan. Pesan pidato ini mengisyaratkan makna mendalam bahwa kebangkitan nasional mewakili Geist (ruh universal) bagi bangsa-bangsa terjajah.
Lebih jauh, peringatan hari kebangkitan nasional mewakili ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Ingatan ini merekam satu fase krusial dalam kehidupan kebangsaan kita. Gagasan kebangsaan ini sering ilmuwan kaitkan dengan pidato Ernest Renan di Universitas Sorbonne Perancis tahun 1882. Ernest Renan mengartikan kebangsaan sebagai kehendak kuat untuk bersatu. Kesadaran sejarah yang panjang rupanya membangun kehendak persatuan tersebut, yang kelak mendasari pendefinisian “bangsa Indonesia”.
Kesadaran Sejarah Melawan Penjajahan
Kehendak untuk bersatu dan kesadaran sejarah itu akhirnya membentuk Geist. Hegel menyebut fenomena ini sebagai ruh universal yang menyebar cepat memengaruhi kesadaran bangsa-bangsa terjajah. Para mahasiswa dan kalangan terdidik segera menangkap sekaligus mengartikulasikan kesadaran baru tersebut. Pertumbuhan kaum terdidik ini berjalan beriringan dengan kebijakan Politik Etis kolonial.
Jauh sebelumnya, penetrasi Barat sudah memasuki wilayah Nusantara sejak abad ke-16. Memasuki pertengahan abad ke-19, penguasaan penjajah Eropa menjadi semakin mapan. Penjajah Belanda, Inggris, maupun Spanyol berhasil mematahkan perlawanan bersenjata kaum bangsawan. Kekalahan ini memaksa kaum elit bangsawan menerima sistem baru dan melebur ke dalam birokrasi kolonial.
Di Pulau Jawa, Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830. Berakhirnya perang ini menghilangkan resistensi terbuka dari kalangan bangsawan setempat. Meskipun demikian, daerah lain seperti Aceh masih terus melawan pemerintah kolonial hingga akhir abad ke-19.
Situasi berbeda terjadi pada masyarakat bawah yang tetap merasakan kegelisahan luar biasa. Mereka sangat menderita akibat beban pajak dan sistem tanam paksa. Menghadapi situasi sulit ini, para agamawan tampil berani sebagai penyambung lidah rakyat. Agamawan memelopori berbagai perlawanan terbuka maupun resistensi diam-diam (hidden transcript) di berbagai daerah.
Sayangnya, tokoh agamawan saat itu belum memiliki perangkat konseptual pergerakan. Mereka belum memiliki kemampuan strategis untuk melawan penguasa secara struktural. Kekuatan utama mereka hanyalah modal semangat dan perlawanan kultural-simbolik. Oleh karena itu, militer kolonial sangat mudah mematahkan pemberontakan masyarakat bawah, seperti pada peristiwa Pemberontakan Petani Banten tahun 1888.
Kendati sering gagal, semua kegelisahan rakyat itu sukses memicu satu jiwa universal. Jiwa perlawanan ini menyatukan perasaan bangsa-bangsa terjajah di Indonesia. Ruh perjuangan inilah yang menjadi Geist bagi lahirnya pergerakan nasional.
Fajar Kebangkitan Nasional
Memasuki awal abad ke-20, para bangsawan muda kembali merapatkan barisan. Mereka tampil ke depan sebagai motor penggerak pencarian identitas bersama. Momentum kebangkitan kaum terdidik inilah yang secara nyata menandai fajar pergerakan nasional. Pada masa transisi ini, muncul tokoh kebangkitan nasional seperti Kartini yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan. Sementara itu, Kiai Saleh Darat konsisten mewakili resistensi kultural melawan gaya hidup kolonial.
Namun, para bangsawan muda pelopor pergerakan ini memilih jalan perjuangan yang berbeda. Kelompok elit baru ini bersedia menyerap berbagai pengaruh modern dan berupaya memahami sistem birokrasi. Mereka mulai bersuara lantang melalui media massa dan piawai menggerakkan perlawanan melalui wadah organisasi.
Para bangsawan muda ini memang menikmati pendidikan formal berkat penerapan kebijakan politik etis pemerintah kolonial. Mereka juga hidup pada era kebangkitan pers yang menyediakan wahana strategis untuk menyuarakan kegelisahan sosial.
Gerakan intelektual ini memang belum merumuskan konsep satu negara secara utuh. Akan tetapi, mereka gencar mencari identitas persatuan untuk berhadapan dengan kekuasaan kolonial. Dari lingkungan perguruan tinggi, muncul para pemikir andal yang menyadari arti penting pergerakan kaum terpelajar. Sekolah Calon Pamongpraja (OSVIA) dan Sekolah Calon Dokter Pribumi (STOVIA) berkembang menjadi tempat persemaian ideal bagi pemuda kritis tersebut.
Para Pendekar OSVIA dan STOVIA
OSVIA Magelang berhasil melahirkan tokoh hebat sekaliber HOS Cokroaminoto. Sekolah pamongpraja ini juga mencetak Soerjopranoto yang merupakan kakak kandung Ki Hadjar Dewantoro. Cokroaminoto sangat marah melihat perlakuan buruk majikan Belanda kepada pegawai kecil, sehingga ia bergabung dengan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo. Cokroaminoto akhirnya memegang kendali ketua dan mengubah lembaga tersebut menjadi Sarekat Islam (SI). Organisasi ini kelak bertransformasi menjadi wadah politik pertama dan terbesar di Indonesia.
Sementara itu, Soerjopranoto tampil memukau sebagai pendekar OSVIA lainnya. Cucu dari Pura Pakualaman ini memiliki sikap yang sangat kritis dan pemberani. Ia tetap menentang ketidakadilan meskipun OSVIA menerapkan disiplin yang sangat ketat. Soerjopranoto bahkan mendapat julukan “raja mogok” karena gigih membela kaum buruh. Sikap kritis ini terus menyala saat ia melanjutkan studi ke Sekolah Pertanian Bogor hingga memimpin Central Sarekat Islam di Yogyakarta.
Di sisi lain, sekolah STOVIA Batavia turut melahirkan banyak pahlawan kebangsaan. Tokoh terkemuka asal Jawa mencakup Wahidin Soedirohoesodo, Tirto Adi Soerjo, Ki Hadjar Dewantoro, Cipto Mangunkusumo, Soetomo, dan Radjiman Widyodiningrat. STOVIA juga mencetak tokoh hebat dari luar Jawa, seperti Abdul Muis, Mohammad Amir, Ferdinand Lumbang Tobing, hingga Johannes Leimena.
Setiap tokoh STOVIA ini memberikan kontribusi yang sangat spesifik. Wahidin Soedirohusodo gigih mengusahakan beasiswa pendidikan bagi para pelajar bumiputera. Tirto Adi Soerjo sukses mendirikan media pers Pribumi pertama dan membentuk Sarekat Dagang Islamiyyah di Bogor.
Ki Hadjar Dewantoro tampil sebagai sosok yang paling tajam mengkritik pemerintah Hindia Belanda. Ia pernah menyindir keras Perayaan Ulang Tahun Ratu Wilhelmina melalui tulisan penanya. Ki Hadjar juga merintis pendirian Indische Partij bersama EFE Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.
Titik Tolak Gerakan Nasional Umum
Soetomo kemudian mencatatkan namanya sebagai pendiri organisasi Budi Utomo. Radjiman lalu menyusul menjabat sebagai ketua Budi Utomo pada periode 1914-1915. Kelahiran Budi Utomo pada 20 Mei 1908 akhirnya menjadi titik tolak sejarah yang sangat krusial. Momentum ini memicu gelombang pergerakan kebangsaan secara lebih masif dan terstruktur.
Ki Hadjar Dewantoro mengonfirmasi fakta sejarah ini dalam karya tulisnya. Beliau menyatakan bahwa Budi Utomo berniat kuat memulai gerakan nasional secara menyeluruh. Gerakan terpelajar ini bertekad radikal mengubah zaman kolonial menuju kemerdekaan.
Seruan kebangkitan dari mahasiswa STOVIA ini mendapat sambutan luar biasa di berbagai daerah. Pelajar sekolah pertanian Bogor, siswa kedokteran hewan, hingga siswa Kweekschool di Jawa ikut bergerak merespons seruan tersebut. Presiden Soekarno sangat mengapresiasi letupan kaum terdidik ini. Beliau meresmikan hari kelahiran Budi Utomo sebagai momentum peringatan nasional pada tahun 1948.
Gelombang dari STOVIA ini otomatis mendorong kemunculan berbagai organisasi pergerakan lainnya. Sarekat Islam lahir pada Oktober 1912, menyusul pendirian Indische Partij pada Desember 1912. Sarekat Islam sukses memobilisasi kekuatan massa Muslim dengan corak revolusioner. Indische Partij tampil berani merintis gerakan politik inklusif tanpa membedakan ras menuju kemerdekaan Indonesia.
Ki Hadjar menyebut ketiga lembaga ini sebagai peletak dasar pergerakan periode pertama. Ketiga organisasi pionir ini berhasil menginspirasi lahirnya banyak perkumpulan besar selanjutnya. Organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, Persis, dan Nahdlatul Ulama mulai bermunculan menyemarakkan pergerakan. Partai politik seperti Partai Komunis Hindia dan PNI juga ikut berdiri mewarnai sejarah bangsa.
Lahirnya Geist Baru
Peringatan sejarah kebangkitan nasional merupakan momen sakral merayakan lahirnya jiwa universal bangsa. Sebelumnya, kekuatan bangsa Indonesia masih terserak, terpecah belah, dan berjuang secara parsial. Gerakan perlawanan masa lalu sering tumbang karena tidak memiliki visi dan agenda nasional yang menyatukan. Strategi perlawanan klasik hanya terfokus pada masalah lokal dan sangat kurang terstruktur.
Kehadiran pergerakan kaum terdidik era 1900-an sukses mengubah paradigma tersebut. Momentum kebangkitan ini mengaspal jalan raya bagi pembentukan kesadaran persatuan nasional. Sumpah Pemuda 1928 menandai puncak keberhasilan pencarian identitas bersama tersebut. Proklamasi Kemerdekaan akhirnya menjadi garis start bagi kehidupan sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Kini, peringatan hari kebangkitan nasional berfungsi sebagai instrumen untuk memelihara api sejarah bangsa. Ruh universal atau Geist itu tentu akan terus beradaptasi mengikuti dinamika ruang dan waktu. Tantangan persatuan pada era modern ini pasti berbeda drastis dengan kondisi seratus tahun lalu. Namun, bangsa Indonesia tetap wajib merawat alasan kuat yang merekatkan persatuan negara ini. Mengenang kembali semangat juang para pendahulu pasti akan memantik ingatan kolektif kita untuk terus menjaga republik tercinta ini.
The post Sejarah Kebangkitan Nasional 1908, Upaya Memelihara Geist Bangsa appeared first on Muhammadiyah Jateng.



