PWMJATENG.COM, SEMARANG – Transformasi digital telah mengubah wajah dakwah dari mimbar masjid ke layar gawai. Jangkauannya kini tak terbatas, namun tantangan etika menjadi semakin kompleks, terutama dengan hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Hal tersebut menjadi bahasan utama dalam Sharing Session “Refleksi Giat DTDK PDA se-Jateng” yang digelar secara daring pada Selasa malam (5/5). Kegiatan yang mengusung tema Best Practise Komunitas dan Etika Dakwah Digital ini menekankan pentingnya niat dan integritas dalam berdakwah di ruang siber.
Maria Anna dalam sambutannya mengingatkan bahwa popularitas bukanlah tujuan utama dalam syiar digital. “Berdakwah harus ikhlas semata-mata karena Allah SWT, bukan karena mengejar pengakuan atau sekadar viral,” tegasnya di hadapan para peserta ruang virtual tersebut.
Dalam sesi materi, narasumber Ulya Rosyeda dari Divisi Tabligh dan Dakwah Komunitas (DTDK) MTK PWA Jateng menyoroti penggunaan AI yang kian masif dalam pembuatan konten. Menurutnya, teknologi harus diposisikan secara proporsional.
”Seiring kemajuan teknologi, AI hanya sebagai alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab. Kita boleh menggunakan AI dalam konten dakwah, namun harus tetap berpedoman pada nilai etika, benar secara syariat, serta layak secara estetika,” ujar Ulya.
Ia menambahkan bahwa konten dakwah kekinian harus melalui proses pengecekan ulang atau review manual yang ketat sebelum diunggah. Hal ini mencakup validasi logo, ketepatan teks, hingga kesesuaian gambar pendukung agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
Selain konten teks, etika desain dakwah dengan bantuan AI juga menjadi poin krusial. Perencanaan yang matang dan sketsa ide diperlukan agar visual yang dihasilkan tidak menyesatkan. Ulya memberikan catatan penting bahwa kecanggihan alat tidak boleh mengesampingkan adab dalam menyampaikan pesan agama.
”Teknologi boleh maju, tapi etika tidak boleh mundur. Dakwah bukan hanya soal pesan yang tersampaikan, tapi bagaimana cara menyampaikannya. Gunakan AI sebagai sarana, bukan sebagai sandaran utama,” tutup Ulya.
Kontributor: Wurry Srie
The post AI dan Etika Dakwah Digital appeared first on Muhammadiyah Jateng.



