PWMJATENG.COM, JAKARTA – Krisis lingkungan yang semakin nyata saat ini tidak boleh lagi kita anggap sebagai persoalan teknis semata. Di balik kerusakan alam dan konflik sosial, terdapat akar persoalan mendasar, yaitu cara pandang manusia terhadap bumi.
Persoalan ini menjadi bahasan utama dalam pembukaan Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah di Jakarta, 1 Mei 2026. Acara bertajuk “Akar Krisis Lingkungan, Ketimpangan Sosial, dan Tantangan Pluralisme” ini berlangsung di Aula Asrama FKIP UHAMKA.
Akar Krisis Lingkungan dari Cara Pandang
Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan bahwa krisis lingkungan bermula saat manusia menganggap bumi sebagai objek. Manusia sering merasa bebas mengeksploitasi alam hanya demi mengejar keuntungan ekonomi sesaat.
Selain faktor ekonomi, pemahaman keagamaan yang belum utuh turut memperkeruh suasana. Akibatnya, konsep khalifah fil ardh sering disalahartikan sebagai izin untuk menguasai alam tanpa batas.
Padahal, konsep tersebut seharusnya mengedepankan tanggung jawab, keadilan, dan keseimbangan. “Cara pandang kita terhadap bumi itu yang keliru karena kita menganggapnya sebagai objek eksploitasi,” ujar Hening.
Dimensi Spiritual dalam Pelestarian Alam
Selanjutnya, Syahrul Ramadhan dari GreenAbility mengajak peserta melihat persoalan ini dari sisi spiritual. Beliau mengingatkan bahwa alam bukanlah benda mati yang bisa diperlakukan semena-mena.
Jika manusia hanya melihat alam sebagai komoditas, maka di situlah masalah besar dimulai. Faktanya, banyak tradisi mengajarkan bahwa alam memiliki nilai kehidupan yang harus kita hormati.
Oleh karena itu, cara pandang yang merendahkan alam serupa dengan sifat sombong yang memicu sikap eksploitatif. Ketika alam dianggap tak bernilai, manusia cenderung mengambil dan menguasai tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
Dampak Nyata dan Krisis Iklim
Krisis lingkungan saat ini pun berkaitan erat dengan ketimpangan sosial. Kekayaan sumber daya alam sering kali hanya mengalir ke segelintir pihak, sementara masyarakat luas menanggung kerusakannya.
Hening Parlan memaparkan bahwa saat ini kita menghadapi tiga krisis besar sekaligus. Krisis tersebut meliputi krisis iklim, polusi, serta hilangnya keanekaragaman hayati secara masif.
Tentunya, kerusakan ini memperbesar konflik sosial dan melemahkan kehidupan bersama. Namun, perubahan tetap bisa kita mulai melalui langkah kecil di kehidupan sehari-hari serta advokasi yang konsisten.
Langkah Nyata Merawat Bumi
Sebagai penutup, sesi ini mengajak peserta untuk membawa tiga poin penting untuk perubahan. Pertama, kita harus mengubah cara berpikir karena akar krisis lingkungan bermula dari pikiran manusia.
Kedua, semua pihak perlu menyadari bahwa isu lingkungan adalah persoalan keadilan bagi sesama. Terakhir, setiap individu memiliki peran penting untuk merawat bumi demi keberlangsungan masa depan.
Baca Juga: Buktikan Daya Saing, Alumni PBSI Uhamka Berbagi Rahasia Sukses Berkiprah di Ranah Publik
Kontributor: Farah Adiba
Editor: Al-Afasy
The post Hening Parlan: Cara Pandang Keliru Terhadap Bumi Jadi Pemicu Utama Krisis Lingkungan appeared first on Muhammadiyah Jateng.



