PWMJATENG.COM, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Hajar Dewantara. Namun, sejarah mencatat bahwa ulama besar seperti KH Ahmad Dahlan juga turut menyalakan obor peradaban melalui sekolah dan gerakan sosial. Sinergi pemikiran para tokoh ini melahirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk akhlak bangsa.
Momentum Hardiknas tahun ini sejatinya menjadi panggilan moral untuk menata kembali arah pendidikan nasional. Saat ini, tantangan besar seperti rendahnya literasi, ketimpangan akses, hingga kesejahteraan guru masih membayangi dunia pendidikan kita. Oleh karena itu, Hardiknas harus tetap memiliki makna mendalam di tengah arus globalisasi dan revolusi teknologi.
Esensi Pendidikan Memanusiakan Manusia
Pendidikan tidak boleh hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pasar industri semata. Sebaliknya, institusi pendidikan harus menjadi jalan untuk memuliakan manusia yang beradab. Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib, pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
Dalam semangat pencerahan tersebut, Muhammadiyah sejak awal menjadikan pendidikan sebagai medan dakwah utama. Dakwah Muhammadiyah hadir secara nyata di ruang kelas, laboratorium, hingga pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Tujuannya sangat jelas, yakni melahirkan manusia berkemajuan yang memiliki iman kuat sekaligus luas ilmunya.
Spirit Al-Ma’un dalam Pendidikan Muhammadiyah
Warisan KH Ahmad Dahlan melalui tafsir Surah Al-Ma’un menegaskan bahwa pendidikan harus berpihak kepada kaum lemah. Karena itu, Muhammadiyah konsisten menghadirkan akses ilmu seluas-luasnya bagi masyarakat kecil. Mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, gerakan ini terus mendorong pembebasan dan pemberdayaan umat.
Keberhasilan pendidikan juga sangat bergantung pada ketulusan hati seorang pendidik. Prof. Dr. H. Achmad Hilal Madjdi menekankan bahwa guru bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian. Senada dengan itu, Dr. Hardiwinoto mengingatkan pentingnya keseimbangan antara mendidik karakter dan mengajarkan ilmu pengetahuan.
Tantangan Riil dan Transformasi Masa Depan
Pendidikan dasar harus menumbuhkan rasa ingin tahu serta semangat belajar sepanjang hayat bagi siswa. Riki Endar Lestari menyebutkan bahwa kebahagiaan guru sejati terletak pada kemandirian dan kebermanfaatan murid bagi sesama. Namun, kita juga perlu melakukan refleksi jujur terhadap tumpukan rutinitas administratif yang sering mengabaikan aspek kemanusiaan.
Guru muda seperti Itsna Nilam Salma melihat perlunya konsistensi dalam kebijakan pendidikan nasional. Guru dituntut tetap kreatif dan adaptif agar perkembangan peserta didik tetap optimal meskipun kebijakan sering berubah. Selain itu, cita-cita menghadirkan pendidikan murah yang berkualitas harus tetap menjadi prioritas bersama.
Membangun Peradaban Lewat Ilmu
Pendidikan adalah harapan kolektif bangsa yang harus menghadirkan keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas. Muhammadiyah berharap pendidikan Indonesia melahirkan generasi unggul yang tetap rendah hati dan santun dalam bertindak. Fokus pada literasi, numerasi, dan akhlakul karimah akan menjadi fondasi kuat bagi kemajuan Indonesia di masa depan.
Sebagai penutup, Hardiknas hendaknya tidak berhenti pada seremoni atau pidato formalitas saja. Mari teguhkan kembali komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang memerdekakan dan mencerdaskan semesta. Selamat Hari Pendidikan Nasional, semoga pendidikan kita semakin mencerahkan dan membawa berkah bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kontributor: Taufiq Nugroho
Editor: Al-Afasy
The post Hari Pendidikan Nasional: Refleksi dan Harapan Pendidikan Berkemajuan Muhammadiyah appeared first on Muhammadiyah Jateng.



