Cahaya dari Sumatera Utara: Menyemai Kecerdasan, Menerangi Semesta
Oleh : Jufri
Malam ini sesampai dirumah , dan istirahat sejenak , saya membaca sebuah postingan, Bahwa pimpinan pusat Muhammadiyah dan panitia Muktamar Muhammadiyah ke 49 telah memutuskan tema muktamar. Pikiran saya langsung mengalir, membayangkan sebuah peristiwa besar yang bukan hanya akan ramai oleh manusia, tetapi juga oleh gagasan dan harapan. Muktamar bukan sekadar pertemuan, ia adalah momentum. Tempat di mana sejarah, refleksi, dan masa depan duduk bersama dalam satu ruang yang sama.
Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara mengusung tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”. Tema yang jika dibaca sepintas terasa sederhana, tetapi jika direnungkan lebih dalam, ia menyimpan arah besar perjalanan peradaban. Sebuah ajakan untuk tidak hanya berpikir tentang kemajuan manusia, tetapi juga tentang keseimbangan kehidupan secara keseluruhan.
Kecerdasan bangsa, dalam konteks ini, tidak cukup dimaknai sebagai keberhasilan akademik atau tingginya angka pendidikan. Ia lebih dalam dari itu. Kecerdasan adalah kemampuan melihat persoalan dengan jernih, menyikapi perbedaan dengan bijak, dan bertindak dengan tanggung jawab. Di tengah zaman yang serba cepat dan seringkali gaduh oleh informasi, kecerdasan justru diuji pada kemampuan untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, dan tetap berpijak pada nilai.
Sementara itu, “Semesta Bercahaya” membawa kita pada kesadaran yang lebih luas. Bahwa apa yang kita lakukan hari ini tidak hanya berdampak pada diri kita, tetapi juga pada lingkungan, pada generasi yang akan datang, bahkan pada keseimbangan alam yang sering kita abaikan. Cahaya di sini bukan sekadar simbol terang, tetapi juga simbol harapan, keberlanjutan, dan keberkahan.
Di titik inilah isu keberlanjutan menemukan tempatnya. Kita tidak lagi bisa berbicara tentang kemajuan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap bumi. Krisis lingkungan, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem adalah realitas yang menuntut respon serius. Maka lahirlah kebutuhan akan green leadership, kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada keberlanjutan. Pemimpin yang mampu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan masa depan.
Lebih jauh lagi, semangat ini perlu diterjemahkan dalam green organization. Sebuah organisasi yang tidak hanya efektif secara struktural, tetapi juga sadar lingkungan, bertanggung jawab secara sosial, dan berorientasi jangka panjang. Organisasi yang menjadikan nilai-nilai keberlanjutan sebagai bagian dari budaya, bukan sekadar program sesaat.
Jika kita menoleh ke belakang, sejak didirikan oleh kiyai Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah menunjukkan konsistensinya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari sekolah-sekolah sederhana hingga perguruan tinggi, dari pelayanan kesehatan hingga gerakan sosial, semuanya adalah bagian dari ikhtiar panjang yang tidak pernah berhenti. Sebuah gerakan yang memahami bahwa perubahan tidak bisa instan, tetapi harus dirawat dengan kesabaran dan ketekunan.
Dalam perjalanan itu, kita melihat bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan. Maka sangat relevan ketika kita menegaskan bahwa Muhammadiyah mencerdaskan dan memajukan bangsa dan semesta sebagai tugas peradaban yang berkelanjutan. Sebuah tugas yang tidak mengenal kata selesai, karena setiap zaman selalu melahirkan tantangannya sendiri.
Saya membayangkan, di Sumatera Utara nanti, bukan hanya keputusan-keputusan organisasi yang lahir, tetapi juga energi baru. Energi yang menggerakkan, yang menyadarkan, dan yang menghubungkan antara gagasan dengan tindakan. Sebab seringkali yang kita butuhkan bukan sekadar wacana, tetapi keberanian untuk mewujudkannya.
Kita juga perlu jujur, bahwa tantangan ke depan tidak semakin ringan. Disrupsi teknologi, krisis lingkungan, hingga persoalan sosial yang semakin kompleks menuntut kecerdasan yang lebih utuh. Di sinilah tema ini menemukan relevansinya. Bahwa kecerdasan harus melahirkan cahaya, bukan justru kegelapan baru.
Sumatera Utara, dengan segala keberagaman dan dinamika sosialnya, adalah miniatur dari Indonesia itu sendiri. Di sana, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirawat. Dan di situlah cahaya itu menemukan maknanya—menyinari tanpa membeda-bedakan.
Pada akhirnya, Muktamar ini adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah bukan hanya tentang identitas, tetapi tentang tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus belajar, terus bergerak, dan terus memberi manfaat—bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi semesta.
Sebab ketika bangsa ini benar-benar cerdas, dan semesta benar-benar bercahaya, maka yang hadir bukan hanya kemajuan, tetapi juga kehidupan yang lebih bermakna, yang berkelanjutan, yang adil, dan yang membawa kebaikan bagi semua.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






