WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Nina Salamah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Autentikasi Herbal dan Analisis Halal pada Sabtu (18/4). Pengukuhan tersebut berlangsung dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Amphitarium Kampus IV.
Momentum akademik ini menjadi ruang bagi Prof. Nina untuk mengangkat isu strategis terkait kehalalan bahan baku dalam industri farmasi, khususnya gelatin, melalui pidato berjudul “Autentikasi Halal Bahan Baku Gelatin pada Produk Farmasi.”
Dalam pidatonya, Nina menegaskan bahwa isu halal kini tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menjadi bagian dari tren global. Hal ini sejalan dengan implementasi Undang-Undang Jaminan Produk Halal Nomor 33 Tahun 2014 yang mewajibkan seluruh produk, termasuk farmasi, memiliki sertifikasi halal.
“Seluruh produk, termasuk farmasi, wajib tersertifikasi halal. Di sisi lain, gaya hidup halal juga terus berkembang secara global,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menuntut industri untuk semakin serius memastikan kehalalan setiap komponen produk, termasuk bahan tambahan seperti gelatin.
Nina menjelaskan bahwa gelatin dan kolagen merupakan bahan penting yang banyak digunakan dalam industri pangan, farmasi, hingga kesehatan. Umumnya, bahan ini berasal dari jaringan hewan seperti kulit dan tulang sapi, babi, maupun ikan.
Proses produksinya pun beragam, mulai dari metode asam, basa, hingga enzimatik, yang memengaruhi kualitas akhir seperti kekuatan gel dan tingkat viskositas.
Di Indonesia sendiri, kebutuhan gelatin masih didominasi oleh produk impor. Karena itu, ia mendorong pengembangan sumber alternatif yang halal, salah satunya melalui pemanfaatan limbah tulang ikan.
Pendekatan ini dinilai tidak hanya menjawab kebutuhan halal, tetapi juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan efisiensi industri.
Lebih lanjut, Nina menekankan pentingnya penggunaan teknologi analisis modern untuk memastikan kehalalan bahan baku. Metode seperti FTIR, PCR, hingga LC-MS/MS dinilai mampu memberikan validasi ilmiah terhadap asal-usul gelatin.
“Diperlukan metode deteksi mutakhir untuk memastikan produk benar-benar berasal dari sumber halal, sehingga mampu mendukung industri halal yang berdaya saing,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa gelatin memiliki manfaat luas, tidak hanya sebagai pembentuk tekstur, tetapi juga sebagai bahan fungsional dalam pengembangan produk kesehatan, termasuk sebagai hidrogel dan sumber senyawa bioaktif.
Pengukuhan ini menegaskan kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan industri halal, khususnya pada sektor farmasi yang memiliki kompleksitas tinggi.
Melalui riset dan pengembangan berbasis sains, Nina berharap Indonesia mampu memperkuat kemandirian bahan baku halal sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat global.
The post Prof. Nina Salamah Soroti Urgensi Autentikasi Halal Gelatin dalam Industri Farmasi appeared first on Warta PTM.






