Madrasah Astronomi Konstantin (Aljazair)
Oleh :Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar – Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Constantine (Arab: Qasthanthinah, Inggris: Constantine) adalah sebuah kota tua yang bersejarah di Aljazair. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota tertua di Afrika Utara dan sering dijuluki “kota jembatan” karena banyaknya jembatan yang menghubungkan bagian-bagian kota yang terpisah oleh lembah-lembah. Konstantin juga dikenal sebagai kota ilmu pengetahuan, dimana ada banyak ulama dan ilmuwan berasal dari kota ini. Ciri dan keunikan kota ini diantaranya dibangun di atas tebing-tebing bebatuan, selain ada banyak jembatan besar yang menghubungkan bagian-bagain kotanya. Selain itu, kota ini juga memiliki perpaduan warisan arsitektur mulai Romawi, Islam, Ottoman, dan Prancis, yang menjadi pusat budaya penting di Aljazair. Patut dicatat, “Constantine” di Aljazair berbeda dengan “Constantinople” (Konstantinopel) yang ada di Turki.
Pada abad ke-8 H/14 M, Konstantin mengalami perkembangan intelektual yang cukup signifikan dalam berbagai bidang ilmu, baik ilmu-ilmu rasional maupun ilmu-ilmu keagamaan (Islam). Perkembangan intelektual itu berkontribusi besar pula terhadap perkembangan budaya dan pengetahuan di wilayah Maghrib Islam. Selaian astronomi, madarsah-madrasah ilmiah di Konstantin juga mencakup berbagai disiplin ilmu lain seperti fikih, sastra, tasawuf, dan matematika. Seperti di kawasan Islam lainnya, astronomi memiliki posisi penting di tengah masyarakat Konstantin karena berkaitan dengan segenap kebutuhan praktis masyarakat Muslim sehari-hari, seperti penentuan waktu-waktu salat, penentuan kalender, penentuan arah kiblat, dan perhitungan gerhana Matahari dan Bulan.
Dalam konteks “Madrasah Astronomi Konstantin”, paling tidak dapat diidentifikasi melalui tiga unsur utama yaitu tokoh-tokoh (ilmuwan-ilmuwan)nya, karya-karya ilmiahnya, dan pengaruhnya terhadap generasi berikutnya. Kemajuan astronomi di Konstantin tidak terlepas dari kondisi politik yang stabil, terutama di bawah Dinasti Marinid, yaitu dinasti Muslim Berber yang memerintah wilayah Maghrib (Afrika Utara) antara abad ke-7 H/13 M hingga abad ke-9 H/15 M. Dinasti Marinid memang dikenal karena mendukung dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, dimana ada banyak madrasah yang berdiri terutama di kota Fez yang menjadi pusat pengajaran berbagai ilmu pengetahuan.
Para penguasa Marinid waktu itu mendukung aktivitas ilmiah dan memberikan perhatian besar terutama terhadap ilmu astronomi (dan astrologi). Para penguasa Marinid kerap mempekerjakan para ahli astronomi dan astrologi di istana untuk membaca dan menganalisis pergerakan bintang-bintang dan memprediksi kejadian di masa yang akan datang (astrologi). Bahkan para penguasa Marinid memberi hadiah besar kepada para ilmuwan yang berhasil mengonstruk instrumen astronomi seperti astrolabe, yang digunakan untuk menghitung dan menentukan posisi bintang-bintang di langit.
Sejak abad ke-8 H/14 M, perhatian terhadap astrologi memang sangat kuat. Banyak orang ketika itu percaya bahwa gerak benda-benda lamgit memiliki hubungan dengan kejadian di bumi. Karena itu, para penguasa sering meminta para astrolog untuk memberikan nasihat dalam berbagai urusan politik dan militer. Dalam catatan sejarah Marinid, astrologi bahkan menjadi bagian dari kehidupan politik. Para astrolog sering diminta untuk meramalkan masa depan penguasa atau menentukan waktu yang tepat untuk mengambil keputusan penting. Beberapa penguasa bahkan memiliki kelompok astrolog khusus di istana yang bertugas membaca dan menerjemahkan gerak dan posisi bintang dan memberikan ramalan kepada para raja.
Kota Fez, sebagai ibu kota Marinid dan pusat pendidikan dengan keberadaan Universitas al-Qarawiyyin, menjadi tujuan utama para pelajar dari berbagai wilayah, termasuk Konstantin. Hubungan ilmiah antara Konstantin dan Fez memperkuat transmisi pengetahuan astronomi di wilayah tersebut. Selain itu, ada banyak ilmuwan yang melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyah) ke kota-kota seperti Fez, Tlemcen, Bejaia, dan Cairo. Mobilitas ilmiah ini memperluas jaringan intelektual para ilmuwan Konstantin dan menjadi momentum berkembang dan tersebarnya astronomi.
Adapun tokoh-tokoh astronomi Konstantin dapat disebutkan antara lain: Abu al-Qasim Ibn ‘Azzuz al-Qusantini (w. 1354 M), yang dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang memiliki spesialisasi dalam astronomi. Ia belajar astronomi di Konstantin dan kemudian melakukan perjalanan ke Fez, dimana ia menghasilkan beberapa karya ilmiah seperti tabel-tabel astronomi (zij), perhitungan fase bulan, dan berbagai perhitungan astronomi lainnya. Beberapa karya yang dinisbahkan kepadanya antara lain: “al-Zij al-Muwafiq wa al-Minaḥ al-Munābiq”, “al-Zij al-Kamil”, dan “Kitab al-Falak fi ‘Ilm al-Akwan”.
Lalu Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi ‘Ali al-Qusantini, yang menulis karya astronomi dalam bentuk puisi (urjuzah) yang berisi sekitar 209 bait, yang membahas berbagai topik astronomi, seperti cara menentukan kalender hijriah dari kalender Persia, perhitungan gerak Matahari, perhitungan posisi bulan, gerak planet, perhitungan gerhana, cara menentukan awal bulan (rukyat hilal), dan perhitungan waktu secara umum. Melalui kontribusi yang ditunjukkannya ini menunjukkan bahwa astronomi pada masa itu diajarkan melalui metode sastra dan pendidikan tradisional.
Lalu Abu ‘Ali Hasan bin Abi al-Qasim bin Badis (w. 1385 M), ia merupakan salah satu tokoh ilmiah penting di Konstantin. Selain astronomi, ia memiliki keahlian dalam berbagai disiplin ilmu seperti hadis, fikih, tata bahasa, dan tasawuf. Ia tercatat pernah melakukan perjalanan ilmiah ke beberapa kota penting seperti Fez, Cairo, dan Haramain. Selain itu dia juga pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Konstantin.
Lalu Ibn Qunfudh al-Qusantini (w. 1406 M), yang merupakan salah satu tokoh paling terkenal dari Konstantin yang menguasain fikih, sejarah, matematika, astronomi, dan kedokteran. Diantara karya astronominya “Taysir al-Matalib fi Ta‘dil al-Kawakib” (yang membahas pergerakan matahari dan bulan, dan planet-planet, penentuan awal bulan dan gerhana), “Syarh Manzumat Ibn Abi al-Rijal” (tentang astrologi), “al-Qunfudhiyyah fi Ibthal al-Dalail al-Falakiyyah” (tentang astrologi), “Siraj al-Thiqat fi ‘Ilm al-Awqat” (tentang penentuan waktu menggunakan astrolabe), dan “Urjuzah fi Taqwim al-Kawakib” (puisi ilmiah tentang perhitungan pergerakan planet).
Berdasarkan analisis tokoh-tokoh dan karya-karya para astronom Konstantin menunjukkan adanya aktivitas ilmiah yang intens, terutama dalam bidang astronomi. Keberadaan para ilmuwan (astronom), karya-karya ilmiah yang ada, serta hubungan intelektual dengan pusat-pusat keilmuan, terutama Fez, menunjukkan bahwa Konstantin memiliki peran penting dalam perkembangan astronomi. Namun demikian tidak dipungkiri karya-karya astronomi ini masih memerlukan kajian lebih lanjut, namun yang pasti bahwa Konstantin dapat dianggap sebagai salah satu pusat intelektual penting dalam studi astronomi di kawasan dunia Islam bagian Barat.
Menurut Kouicem Mohamed dalam artikelnya yang berjudul “’Ilm ar-Riyadhiyyat wa ‘Ilm al-Falak fi Madinah Qasthaniyah” (Ilmu Matematika dan Ilmu Astronomi di Kota Constantine), pada akhir abad ke-7-10 H/13–16 M), kota Konstantin melahirkan banyak ilmuwan dan karya dalam bidang matematika dan astronomi. Dalam faktanya pengaruh karya-karya para ilmuwan (astronom dan matematikawan) ini meluas hingga ke pusat-pusat keilmuan waktu itu seperti Cairo, Damaskus, dan Baghdad. Hal ini menunjukkan bahwa Konstantin menjadi mercusuar ilmu pengetahuan betapapun pada masa itu sejumlah sejarawan menganggap periode ini sebagai masa kemunduran peradaban Islam setelah jatuhnya Baghdad pada abad ke-7 H/13 M. Wallahu a’lam[]





