Basamo Mako Manjadi, Saiyo Sakato, Salumpat Saindege: Sukses Muktamar Muhammadiyah ke-49 Tahun 2027
Oleh : Jufri
Tiga ungkapan ini bukan sekadar slogan budaya. Ia adalah falsafah hidup yang tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat kita: bahwa keberhasilan lahir dari kebersamaan, bahwa kekuatan tumbuh dari kesepahaman, dan bahwa tujuan tercapai jika langkah disatukan.
Basamo mako manjadi — bersama maka terwujud.
Saiyo sakato — seia sekata dalam pikiran dan keputusan.
Salumpat saindege — satu langkah, satu gerak, satu irama.
Tiga falsafah penting dalam budaya masyarakat kita itu sangat relevan menjadi pedoman dan pegangan bagi kita semua — warga dan pimpinan Muhammadiyah, serta masyarakat Indonesia secara luas. Di tengah dinamika organisasi dan kehidupan kebangsaan yang terus bergerak, nilai kebersamaan dan kesatuan langkah bukan hanya penting, tetapi mendesak untuk diteguhkan kembali.
Jika direnungkan lebih dalam, ketiga prinsip ini sangat relevan dalam menyongsong Muktamar ke-49 tahun 2027 dari Muhammadiyah.
Muhammadiyah bukan organisasi yang dibangun di atas figur tunggal. Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 1912, ia tumbuh dengan sistem, dengan musyawarah, dengan kepemimpinan yang kolektif kolegial. Di situlah letak kekuatannya.
Menjelang Muktamar 2027, tantangan yang dihadapi tentu tidak sederhana. Tantangan pemikiran, tantangan sosial kebangsaan, hingga dinamika internal organisasi memerlukan kedewasaan bersama. Muktamar bukan sekadar forum pemilihan pimpinan. Ia adalah arena konsolidasi gagasan dan arah gerakan.
Karena sesungguhnya tidak ada kerja bersama yang bisa sukses tanpa kebersamaan. Basamo mako manjadi. Tidak ada agenda besar yang berhasil jika masing-masing berjalan sendiri-sendiri.
Kita juga harus saling menguatkan. Saiyo sakato. Perbedaan pandangan boleh ada, tetapi keputusan harus dilandasi semangat persaudaraan dan komitmen kolektif. Kolektif kolegial bukan sekadar mekanisme organisasi, melainkan etika dalam memimpin dan dipimpin.
Dan setelah keputusan diambil, kita harus selangkah seirama. Salumpat saindege. Tidak ada lagi sekat, tidak ada lagi kubu. Yang ada adalah gerak bersama mengawal keputusan dan menyukseskan amanah persyarikatan.
Muktamar memang masih hampir dua tahun lagi, tetapi persiapan dan gebyarnya harus kita bersamai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. Setiap kader, setiap pimpinan, setiap amal usaha memiliki peran sesuai posisinya. Tidak ada kontribusi yang kecil jika diniatkan untuk kemajuan bersama.
Muktamar Muhammadiyah ke-49 adalah momentum kebersamaan di tanah Deli yang bestari — di bumi Tanah Deli yang dikenal dengan tradisi intelektual dan keramahtamahannya. Di sanalah nanti bukan hanya keputusan organisasi yang diambil, tetapi juga pesan peradaban ditegaskan kembali.
Di tengah dinamika kebangsaan di Indonesia, Muhammadiyah diharapkan tetap menjadi kekuatan moral dan intelektual yang meneduhkan. Untuk memainkan peran besar itu, soliditas internal menjadi syarat utama.
Sukses Muktamar bukan hanya sukses penyelenggaraan. Bukan sekadar tertib acara dan lancar pemilihan. Sukses Muktamar adalah lahirnya kepemimpinan yang solid, arah gerakan yang jelas, serta komitmen bersama untuk memajukan umat dan bangsa.
Gerakan sebesar Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh satu orang. Ia dibesarkan oleh kerja kolektif yang panjang dan kesediaan untuk menomorsatukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Maka tiga falsafah itu layak kita teguhkan kembali:
Basamo mako manjadi.
Saiyo sakato.
Salumpat saindege.
Dengan itu, Muktamar ke-49 tahun 2027 bukan hanya agenda rutin lima tahunan, tetapi momentum konsolidasi besar untuk melangkah lebih kuat, lebih matang, dan lebih berkemajuan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



