PWMJATENG.COM, JAKARTA — Ramadan bukan sekadar ruang spiritual, melainkan momentum krusial untuk memperbaiki pola konsumsi agar lebih sehat, adil, dan berpihak pada lingkungan. Semangat ini mengemuka dalam Pengajian Tahrib Ramadan bertema “Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal” yang diselenggarakan oleh GreenFaith Indonesia, Yayasan KEHATI, Food Culture Alliance, dan DPP IMM, Senin (16/2).
Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, mengingatkan bahwa puasa mengajarkan pengendalian diri. “Ramadan seringkali diwarnai perilaku berlebihan saat berbuka. Padahal, puasa mengajak kita kembali pada fitrah—hidup sederhana dan seimbang. Ini berarti memilih pangan yang tidak hanya halal, tapi juga thayyib dan lokal,” jelasnya.
Manager Program Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI, Puji Sumedi, menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat pada bahan pangan impor seperti terigu. Hal ini berdampak buruk pada emisi karbon distribusi serta beban ekonomi nasional.
“Makanlah apa yang kita tanam, dan tanamlah apa yang kita makan. Memilih pangan lokal berarti mengurangi emisi jarak jauh dan menjaga keberlanjutan budaya pangan kita sendiri,” tegas Puji.
Sebagai langkah konkret, Syahrul Ramadhan (Circle Manager GreenFaith Indonesia) memperkenalkan inisiatif kampanye di lima masjid percontohan di Kota Makassar, Lamongan, Ternate, Denpasar, dan Medan. Masjid-masjid ini akan menjadi pionir dalam:
- Penyampaian kultum Ramadan berbasis dalil keagamaan tentang pangan.
- Penyediaan takjil berbasis pangan lokal yang minim sampah.
Gerakan ini didukung dengan peluncuran Modul Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal yang disusun kolaboratif oleh organisasi pemerhati pangan seperti Masak TV, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, hingga DPP IMM. Modul ini memuat panduan teologis hingga resep praktis olahan lokal untuk berbuka.
Sutamara Noor dari Food Culture Alliance Indonesia menambahkan, manfaat metabolisme dari puasa seringkali hilang karena pola berbuka yang salah. Ia menganjurkan penggunaan buah lokal sebagai takjil untuk menghindari gula sintetis dan beralih ke karbohidrat kompleks lokal.
Menutup kegiatan, Najihus Salam dari DPP IMM menegaskan bahwa diversifikasi pangan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab ekologis. “Ramadan adalah momentum mengembalikan pangan lokal ke meja makan umat. Gerakan ini dimulai dari dapur kita sendiri,” pungkasnya.
Editor: Al-Afasy
The post Ramadan Tiba, Saatnya Hadirkan Pangan Lokal di Meja Buka appeared first on Muhammadiyah Jateng.





