PWMJATENG.COM, KENDAL – Ikhwanushoffa menyoroti ketimpangan pola pendidikan agama di sekolah yang cenderung lebih mengutamakan simulasi haji daripada zakat. Wakil Ketua Lazismu Jawa Tengah tersebut menegaskan bahwa Zakat Majukan Kesejahteraan Bangsa memerlukan aksi nyata melalui pemahaman Cara Menghitung Zakat Mal yang tepat.
Pernyataan ini muncul saat beliau mengisi pembekalan Dai Zakat di Aula PDM Kendal, Sabtu (14/2/2026). Di hadapan para peserta, ia mengingatkan bahwa umat saat ini mulai mengaburkan urutan rukun Islam. Banyak masyarakat yang rela merogoh kocek ratusan juta untuk naik haji, namun justru enggan mengeluarkan 2,5 persen hartanya untuk tetangga sekitar.
Meluruskan Prioritas Rukun Islam
“Umat Islam banyak yang melaksanakan rukun Islam mulai dari syahadat, puasa, shalat, haji, baru kemudian zakat. Padahal seharusnya rukun Islam itu urut. Mulai dari syahadat, shalat, zakat, puasa, baru kemudian haji,” tegas Ikhwanushoffa. Menurutnya, fenomena ini terjadi karena Dakwah ZIS Muhammadiyah mengenai zakat mal masih jarang terdengar.
Oleh karena itu, ia mengajak para dai untuk meneladani KH Ahmad Dahlan. Sang pendiri Muhammadiyah tersebut dahulu konsisten mengajarkan Surat Al-Ma’un selama tiga tahun berturut-turut. Semangat filantropi inilah yang menjadi modal utama agar Zakat Majukan Kesejahteraan Bangsa kembali mendarah daging di tubuh persyarikatan.
Inovasi Filantropi Melalui RendangMu
Selain dakwah lisan, Lazismu juga terus berinovasi melalui program Manfaat RendangMu Lazismu. Program qurban kemasan ini menjadi solusi cerdas bagi warga pelosok atau lansia yang tidak memiliki lemari es. “Daging kaleng ini lebih awet. Jika lansia tidak kuat mengunyah daging keras, mereka bisa menyimpannya untuk cucu mereka,” tambahnya.
Edukasi Kewajiban Zakat vs Haji
Selanjutnya, Ikhwanushoffa juga mengajak peserta untuk membedah Kewajiban Zakat vs Haji. Beliau memberikan simulasi praktis mengenai Cara Menghitung Zakat Mal agar para dai bisa langsung mengedukasi umat di lapangan. Ia berharap warga Muhammadiyah kembali ke karakter “Lomo” atau dermawan seperti sedia kala.
Sebagai penutup, acara ini berakhir dengan sesi tanya jawab interaktif. Melalui gerakan massal ini, Lazismu optimis bahwa pengelolaan zakat yang profesional akan menjadi pilar utama dalam menyejahterakan umat secara berkelanjutan.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy
The post Bukan Sekadar Seremonial, Zakat Majukan Kesejahteraan Bangsa Harus Jadi Gerakan Massal appeared first on Muhammadiyah Jateng.




