Muhammadiyah Peringatkan Bahaya “Kemalasan Kognitif” akibat Ketergantungan pada AI
INFOMU.CO | Jakarta – Terdapat bahaya serius akibat ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Bahaya tersebut dapat melahirkan kemalasan kognitif di tengah masyarakat, termasuk di kalangan akademisi dan pelajar.
Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (23/01).
Rofiq menjelaskan bahwa fenomena kemalasan berpikir (kasal) kini semakin menguat seiring dengan kemudahan yang ditawarkan AI. Menurutnya, banyak orang cenderung menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, mulai dari meminta ringkasan bacaan hingga menulis karya ilmiah.
“Apa-apa cukup tanya AI, apa-apa minta dirangkumkan AI. Dampaknya ini serius,” ujarnya.
Ia menyoroti praktik pelatihan penulisan karya ilmiah berbasis AI yang kini marak, bahkan telah difasilitasi oleh pemerintah. Rofiq menilai kondisi tersebut berpotensi menyalahi prinsip dasar pencarian ilmu dalam Islam yang menekankan proses panjang, kesungguhan, dan kesabaran.
Mengutip pesan Imam Syafi’i, “lan tanālul ‘ilma illā bisittah”, Rofiq menekankan bahwa ilmu tidak dapat diraih secara instan. Salah satu syarat utama dalam menuntut ilmu adalah tūluz zamān, yakni proses waktu yang panjang. Karena itu, penggunaan AI tidak boleh mengabaikan tahapan akuisisi ilmu secara bertahap, manual, dan tradisional.
“Ilmu itu dipelajari melalui proses belajar, bukan sekadar di-generate,” katanya, mengutip hadis Nabi yang menegaskan bahwa ilmu diperoleh melalui proses ta’allum atau pembelajaran.
Rofiq juga mengingatkan peringatan ulama klasik Ibnul Qayyim yang menyatakan bahwa siapa pun yang melewatkan fondasi dasar ilmu (ushul), maka ia tidak akan sampai pada kebenaran dan mudah terombang-ambing. Menurutnya, ketergantungan pada AI tanpa fondasi keilmuan justru berpotensi membingungkan, karena AI cenderung memberikan jawaban afirmatif tanpa kemampuan menilai benar atau salah secara substantif.
“Supaya tidak bingung, seseorang harus punya ushul, punya fondasi ilmu. Fondasi itu didapat dari iktisab dan ta’allum, bukan dari jalan pintas,” tegasnya.
Dalam konteks pendidikan keislaman, Rofiq menegaskan pentingnya menjaga tradisi membaca buku, menghafal Al-Qur’an dan hadis, serta belajar langsung dengan guru. Ia mengingatkan pesantren dan lembaga pendidikan Islam agar tidak mengorbankan tradisi keilmuan tersebut hanya karena tergiur kemudahan teknologi AI.
Selain itu, Rofiq menekankan pentingnya prinsip tatsabbud atau verifikasi. Ia mengingatkan bahwa AI tetap menyimpan bias pengembang dan keterbatasan data. Bahkan, ia menyinggung kasus di Amerika Serikat ketika seseorang disarankan bunuh diri setelah berkonsultasi dengan AI, yang kemudian menjadi kasus besar dan kontroversial.
“Self-diagnosis tanpa verifikasi itu berbahaya. Apa pun yang diberikan AI tetap harus ditabayyunkan,” ujarnya, seraya mengutip perintah Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 tentang kewajiban memverifikasi informasi.
Sebagai penutup, Rofiq menegaskan pentingnya prinsip tawazun atau keseimbangan dalam menghadapi AI. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh menggerus spiritualitas, rasionalitas, dan hubungan sosial manusia.
“Teknologi harus berjalan seimbang dengan daya kritis, kehidupan sosial, dan kedalaman spiritual. Jangan sampai AI justru membuat kita kehilangan kemampuan berpikir dan bersosialisasi,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)







