Siang yang berbeda di NTB, Kamis, (6/11/2025). Saya berdiri di pintu ruang pelatihan Balai GTK NTB, menatap puluhan wajah guru SMA yang ada di kelas C. Ada kelelahan di mata mereka, namun juga ada keingintahuan yang tersembunyi di balik senyum ramah.
Sebagian masih sibuk dengan makan siangnya, yang lain sudah membuka laptop dengan ragu-ragu.
“Selamat siang, Bapak Ibu guru sekalian,” ujar saya memecah keheningan. “Hari ini kita akan mulai perjalanan yang mungkin akan mengubah cara kita mengajar selamanya.” Tak ada respons bergemuruh. Hanya anggukan pelan dan senyum tipis.
Saya mengerti. Kecerdasan Artifisial seringkali terdengar seperti monster teknologi yang siap memakan peran guru, menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan. Namun, di balik kekhawatiran itu, saya melihat percikan api yang siap menyala.
Ketika Teknologi Bertemu Kearifan Lokal
Sesi pertama dimulai dengan presentasi sederhana tentang konsep AI dalam pendidikan. Saya sengaja tidak menggunakan jargon teknis yang memusingkan. Sebaliknya, saya mengajak mereka melihat AI sebagai “asisten cerdas” yang bisa membantu tugas-tugas rutin, bukan sebagai pengganti pemikiran kritis.
“AI itu seperti penjaga perpustakaan yang tak pernah tidur,” kata saya. Ia bisa carikan ribuan referensi dalam hitungan detik, tapi dia tidak bisa memutuskan mana yang paling relevan dengan kebutuhan siswa kita. Itu tugas kita sebagai guru.
Sebuah tangan terangkat di sudut ruangan. Bapak Royyan Jani SPd, guru Informatika dari SMA Muhammadiyah Masbagik, bertanya dengan suara pelan, “Bu, bagaimana kalau nanti siswa kita malah jadi malas berpikir karena semua bisa dibantuin AI?”
Pertanyaan itu seperti gema yang menggetarkan seluruh ruangan. Saya tersenyum. Ini pertanyaan yang tepat, pertanyaan yang menunjukkan kepedulian mereka terhadap esensi pendidikan, bukan sekadar teknologi.
“Pak Royyan, itulah mengapa kita di sini,” jawab saya. “Kita akan belajar membuat AI sebagai alat untuk memperkuat human thinking, bukan melemahkannya.”
Titik Balik di Sesi Brainstorming
Sesi brainstorming dimulai setelah istirahat siang. Saya membagi para guru menjadi kelompok-kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 4-5 orang. Tugas mereka: merancang satu proyek pembelajaran berbasis AI yang tetap mengedepankan pikiran kritis manusia.
Awalnya, suasana kaku. Beberapa kelompok hanya menatap layar laptop tanpa kata-kata. Yang lain tampak kebingungan dengan instruksi yang saya berikan. Saya berkeliling ruangan, berusaha memberikan dorongan tanpa intervensi berlebihan.
Di kelompok 1, saya menemukan sesuatu yang menarik. Mereka sedang mendiskusikan Peta Edukasi Pengolahan Sampah Berbasis AI. Dalam proyek ini siswa diminta melakukan riset ke area sekolah terkait lokasi mana yang terjadi penumpukan sampah, menemukan faktor penyebab, mengumpulkan data, dan mengambil dokumentasinya.
Siswa disarankan menggunakan layanan AI untuk membantu mereka membuat denah lokasi peta edukasi dan memberikan kode berupa simbol warna sesuai banyak tidaknya sampah. Selain itu, AI juga digunakan untuk membantu siswa menemukan beragam ide solusi yang meungkinkan bisa dilakukan di sekolah. Proyek ini merupakan integrasi mata pelajaran Biologi, Prakarya, PAI, Matematika, dan Geeografi
Saya terpukau. Di tengah deru teknologi global, mereka justru menemukan jalan untuk menemukan solusi dari permasalahan lokal. Ini bukan sekadar proyek pembelajaran, ini adalah memaksimalkan potensi human thinking yang elegan.
Proyek yang Membangkitkan Kembali Jiwa Pendidikan
Seiring waktu berjalan, energi di ruangan berubah secara drastis. Kekakuan berubah menjadi kegairahan. Keraguan berubah menjadi percaya diri. Saya menyaksikan transformasi yang luar biasa di setiap kelompok.
Kelompok 4, yang terdiri dari guru-guru Matematika, Biologi, PJOK, Informatika, PAI, PKn, dan Bahasa Indonesia mengembangkan proyek “Tertib Jamaah, Indah Ibadah”. Mereka merancang agar siswa menggunakan AI untuk menganalisis data eksperimen sederhana, namun hipotesis dan kesimpulan harus dirumuskan sendiri oleh siswa.
Konteks diambil dari kejadian di sekolah, banyak siswa laki-laki dan perempuan mencari alasan untuk tidak mengikuti shalat berjamaah. Siswa putri memanfaatkan alasan on period (datang bulan) untuk tidak shalat.
Dalam proyek ini, siswa dibagi tugas menjadi Jamaah Squad, ada tim laki-laki dan tim perempuan. Mereka melakukan riset bagaimana pelaksanaan shalat berjamaah saat ada pendampingan dan tanpa pendampingan.
Pemanfaatan AI dalam proyek ini untuk mengolah data hasil riset sekaligus penyajiannya. Ai jhga digunakan oleh Jamaah Squad Putri untuk membuat kalender datang bulan sebagai alat mengontrol periode datang bulan siswa putri. AI jyga digunakan untuk mencari alternatif solusi lain yang berdampak terhadap permasalahan tersebut.
AI hanya menghitung, tapi interpretasi hasilnya tetap tugas siswa. Kita mau mereka jadi ilmuwan, bukan operator mesin.
Saya menyempatkan diri duduk bersama mereka mendengarkan presentasi ide mereka. Setiap kelompok memiliki pendekatan unik, namun ada benang merah yang sama: mereka semua berjuang untuk menjaga kemanusiaan dalam proses belajar mengajar.
Setiap kelompok maju dengan percaya diri mempresentasikan rancangan mereka. Ini bukan presentasi biasa, ini adalah deklarasi komitmen mereka terhadap pendidikan yang berjiwa.
Lahirnya Kontrak Moral di Era Digital
Setelah sesi proyek, saya meminta setiap kelompok untuk menyusun kebijakan kelas tentang etika penggunaan AI. Ini adalah bagian yang paling menantang namun juga paling berharga. Saya ingin mereka berpikir keras tentang batasan tanggung jawab digital.
Diskusi dimulai dengan perdebatan sengit. Ada yang berpendapat bahwa AI harus dilarang sama sekali dalam tugas sekolah, ada yang justru ingin memberikan kebebasan penuh. Saya membiarkan mereka berdebat, hanya sesekali memberikan panduan tentang pentingnya keseimbangan.
Hasilnya sungguh luar biasa. Setiap kelompok menghasilkan kebijakan yang mencerminkan kebijaksanaan kolektif. Berikut adalah contoh kebijakan yang dikembangkan oleh guru-guru:
Kebijakan Kelas Etika Penggunaan AI
“AI Asisten, Bukan Pengganti”
Prinsip Dasar:
AI adalah alat bantu, bukan otak pengganti.
Integritas akademik adalah harga mati.
Tanggung jawab digital adalah kewajiban bersama.
Aturan Spesifik:
AI boleh digunakan untuk riset awal dan pengumpulan data.
AI tidak boleh digunakan untuk menulis esai atau tugas utuh.
Setiap penggunaan AI harus dicantumkan dalam daftar referensi.
Pemahaman dan interpretasi akhir harus sepenuhnya hasil pikiran siswa.
Pelanggaran akan dianggap sebagai kecurangan akademik.
Konsekuensi:
Pelanggaran pertama: peringatan dan tugas perbaikan.
Pelanggaran kedua: pengurangan nilai 50%.
Pelanggaran ketiga: nilai nol dan pemanggilan orang tua.
Yang menakjubkan adalah bagian reflektif yang mereka tambahkan di akhir kebijakan:
Kami, para siswa SMA Muhammadiyah di NTB, menyadari bahwa AI adalah hadiah kemajuan zaman. Namun kami juga percaya bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan adalah kehancuran. Dengan menandatangani komitmen ini, kami berikrar untuk menjadi generasi yang cerdas secara teknologi namun tetap berjiwa manusia sejati.
Momen yang Mengubah Segalanya
Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, terjadi sesuatu yang tak akan pernah saya lupakan. Seorang ibu guru yang siang tadi tampak paling ragu, maju ke depan ruangan dengan langkah terbata-bata.
“Bu Vita, tadi saya ngobrol sama anak saya yang kuliah,” katanya dengan suara bergetar. “Dia bilang teman-temannya banyak yang pakai AI untuk kerjain tugas, hasilnya bagus tapi mereka nggak ngerti apa yang mereka tulis.”
Saya mengangguk, memberinya ruang untuk melanjutkan. “Saya takut anak-anak saya nanti jadi seperti itu. Tapi setelah hari ini,” matanya mulai berkaca-kaca, “saya nggak takut lagi. Saya tahu cara mengajar mereka supaya jadi anak yang pintar pakai AI tapi tetap punya otak dan hati.”
Dia menarik napas dalam-dalam. “Terima kasih, Bu. Ini pelatihan terberat yang pernah saya ikuti, tapi juga yang paling berharga.”
Di saat itulah saya sadar, ini bukan sekadar pelatihan teknologi. Ini adalah revolusi jiwa, transformasi paradigma yang akan mengubah cara mereka mengajar selamanya.
Senja Penuh Harapan
Pukul 17.30 sore, tatap muka pertama KKA berakhir. Saya berdiri di luar gedung, menatap langit oranye yang mulai memerah. Para guru keluar ruangan dengan wajah yang berbeda dari siang tadi. Ada kelelahan yang jelas terlihat, namun juga ada percikan di mata mereka, semangat yang baru ditemukan.
Saya tersenyum. Inilah energi yang saya cari. Bukan kepatuhan pasif, melainkan kehausan akan pengetahuan yang baru ditemukan. (*)
Artikel Detik-Detik yang Menyentuh Hati: Menjaga Human Thinking di Balik Proyek Siswa Berbasis AI pertama kali tampil pada PWMU.CO.






