In Memoriam, Ibrahim Sakti Batubara : Aktivis, Akademisi, Politisi, Kader Muhammadiyah
Catatan : Shohibul Anshor Siregar
Telah berpulang ke rahmatullah pada hari ini, Ibrahim Sakty Batubara, setelah beberapa lama dirawat di rumah sakit untuk keluhan kesehatan yang telah dialaminya dalam beberapa tahun terakhir. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, rekan seperjuangan, dan masyarakat luas sebagai pribadi yang teguh, cerdas, dan penuh dedikasi dalam setiap peran hidupnya. Sebagai kader Muhammadiyah yang konsisten, almarhum pernah terpilih menjadi anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara melalui Musyawarah Wilayah di Kisaran.
Hingga akhir hayatnya, beliau setia mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pakar Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PW Muhammadiyah Sumatera Utara, menjadi sumber pemikiran strategis untuk kemajuan umat dan bangsa. Akar perjuangannya tertanam sejak remaja sebagai aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Tapanuli Selatan, tempatnya mengasah dasar-dasar kepemimpinan, bersama rekan- rekan sebaya seperti Musbir Ibrahim Meuraxa, Abdul Rahman Lubis dan lain-lain. Semangat itu terus berkobar ketika menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Beliau tumbuh dan berkembang menjadi aktivis di lingkup yang lebih luas, pemimpin Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) baik di kota Medan, maupun yang kemudian beranjak ke tingkat provinsi Sumatera Utara. Kepercayaan rekan-rekan seperjuangan
mengantarkannya terpilih beberapa periode sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa UMSU, membuktikan kualitas kepemimpinannya yang diakui luas.
Di puncak aktivisme mahasiswanya inilah keteguhan prinsipnya diuji. Di era Orde Baru, ketika petugas bersenjata menyerbu kampus UMSU mencari dirinya, almarhum menyambut mereka dengan sikap tenang nan tegas: "Saya tidak bersembunyi. Saya tinggal di sini… Mengapa saya dicari?". Peristiwa itu berakhir dengan penahanannya selama berbulan-bulan di Jalan Gandi, Medan, tanpa proses peradilan, bersama sejumlah aktivis lainnya seperti almarhum Maiyyasyak Djohan, almarhum Norman Siregar, mendiang Ibrahim Sinaga, dan lain-lain. Semangat kritisnya terus menyala dalam memperjuangkan evaluasi pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni, termasuk saat memobilisasi rekan-rekannya menyimak pidato kritis Jenderal AH Nasution di Medan yang waktu itu diundang ke kampus UISU oleh rekan seperjuangannya Rahmat Adiwiganda.
Tak hanya di dunia aktivisme, kedalaman intelektualnya terpancar melalui karya akademisnya yang visioner. Skripsi Sarjana Ushuluddin di IAIN Sumatera Utara (kini UIN Sumut) berjudul "Hijrah dari Perspektif Politik" menjadi bukti kecemerlangan analisisnya. Dengan merujuk
pada Piagam Madinah sebagai konstitusi politik pertama yang menegakkan kesetaraan antarumat, konsep "Ummatan Wasaṭan" dalam Al-Qur'an, teori “Protes Aktif”; Ali Shariati, serta pendekatan sosiologis-historis Ibnu Khaldun, almarhum membedah Hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai strategi transformasi sosial-politik. Beliau menegaskan Hijrah bukan sekadar migrasi fisik, melainkan revolusi struktural yang membangun negara berdaulat berbasis kesepakatan sosial, tata kelola inklusif multikultural, dan model perubahan sistemik. Karya brilian ini—yang lahir jauh sebelum kajian serupa marak di Indonesia—menjadi fondasi pemikiran yang konsisten mewarnai seluruh perjalanan hidupnya.
Kepekaan sosialnya telah muncul sejak masa SLTA, ketika keresahannya atas penindasan di Palestina membuatnya tak bisa fokus belajar dan meminta izin kepada kepala sekolah untuk tidak menghadiri sebuah upacara yang sudah lama diagendakan sekolah, hanya untuk melakukan kontemplasi di kamarnya tentang dunia Islam dan Nasib Palestina.

Keahlian menulisnya yang tajam terasah melalui karier jurnalistiknya sezaman dengan Bersihar Lubis, Syaiful Hadi Lubis dan lain-lain di bawah kepemimpinan Mahyoedanil, SH pada koran Mertju Suar, Medan. Selanjutnya, sebagai dosen Pancasila di UMSU dan kemudian di UMA, beliau memukau mahasiswa dengan penjelasan mendalam tak hanya tentang sejarah perumusan Pancasila, Piagam Jakarta, atau peristiwa Rengasdengklok yang disampaikan dengan lugas dan diselingi humor khas, namun juga penjelasan analitiknya tentang tata dunia yang tak adil di bawah hegemoni Barat melalui agenda keolonialisme dan neo-kolinialismenya. Pasca Reformasi 1998, almarhum memutuskan terjun ke dunia politik dengan membangun jaringan Partai Amanat Nasional (PAN)—partai yang didirikan lokomotif Reformasi Indonesia, Prof. Dr. H.M. Amien Rais, M.A.—di Kota Medan.
Karier politiknya berkembang secara sistematis dan berjenjang: di tingkat kota Medan sebagai anggota DPRD sekaligus Ketua DPD PAN dan Wakil Ketua DPRD Kota Medan, kemudian naik ke tingkat provinsi sebagai anggota DPRD Sumatera Utara dan Ketua DPD PAN Sumatera Utara, hingga akhirnya mencapai tingkat nasional sebagai anggota DPR-RI dan pengurus DPP PAN. Meski kerap mengajak rekan-rekan seperjuangannya menjadi calon legislatif, seperti almarhum Achlaq Shiddiq Abidin Tanjung, Muhammad Aladin Berutu, Prof Dr H Hasyimsyah Nasution, MA., dan lain-lain, beliau selalu menghargai pilihan untuk tetap di luar politik praktis. Para tak sedikit dari juniornya dari jalur aktivis kemahasiswaan yang berhasil diajak dan menjadi politisi yang mumpuni, di antaranya Adi Munasib (IKIP Medan), Parluhutan Siregar (UMSU), Putrama Al-Khairi (IAINSU), almarhum Kamaluddin Harahap (UMTS), Ahmad Aswan Waruwu (UGN) dan lain-lain.
Sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, komitmennya pada pengembangan pendidikan terukir jelas. Suatu kali usai mengunjungi sekolah yang membutuhkan pengembangan fisik di Medan, beliau berhasil mengalokasikan dana APBD untuk perbaikan sarana belajar. Ketika proyek selesai, para perwakilan sekolah datang ke rumahnya membawa amplop berisi Rp 25.000.000 sebagai "ucapan terima kasih". Dengan senyum tenang, almarhum menyerahkan kembali uang itu sambil berkata: ” Saya terima dengan senang hati, dan dengan tulus saya sumbangkan untuk kemajuan sekolah kita. Tolong diantarkan kwitansi penerimaan besok,” . Sikap lugas ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa baginya, amanah rakyat tak ternilai harganya.
Bagi para junior dan rekan seperjuangan, Ibrahim Sakty Batubara adalah sosok mentor yang tak terlupakan. Saat menjadi penanggung jawab Posma tahun 1970-an, beliau mengoreksi tulisan juniornya dengan penuh perhatian ” seperti berkebun”;, mengamalkan prinsip tut wuri handayani.
Keistimewaannya sebagai teman sejati yang mampu menjadi tempat curahan pikiran tanpa hambatan, bahkan menebak perasaan yang belum terucap, menciptakan ikatan yang abadi dalam ingatan.
Kepergian almarhum adalah kehilangan besar bagi bangsa. Semangatnya untuk Sumatera Utara, kedalaman wawasan, keteguhan prinsip, serta kehangatannya sebagai sahabat dan guru akan terus hidup dalam sanubari yang pernah disentuhnya. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’ fuanhu. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya, merahmatinya, memaafkannya, dan melapangkan kuburnya. Amin.
*** Shohibul Anshor Siregar
The post In Memoriam, Ibrahim Sakti Batubara : Aktivis, Akademisi, Politisi, Kader Muhammadiyah appeared first on Infomu.






